Sunday, April 25, 2010

Amazing Kicky Hot Chocolate

Memukau!

Jeeja sebagai Zen

Pekan ini dua TV swasta menayangkan film-film aksi perempuan. Sesempatnya saya tonton. Namun semua terasa hambar saat mata sudah menikmati Chocolate.

Saya merasa begitu terpukau dengan Chocolate. Chocolate adalah film Thailand 2008 Dibintangi oleh aktris muda Yanin Vismitananda, Bercerita tentang Zen gadis autis yang dapat meniru dengan cepat gerakan-gerakan yang dia lihat. Zen belajar dari TV dan melihat orang-orang latihan muay-thai di sasana sebelah rumah.

Full-action movie ini menampilkan pertarungan dari awal hingga akhir cerita. Pertarungan-pertarungan yang ditampilkan terlihat begitu nyata. Tendangan tinggi, mengait, berputar, kombo, salto, dan semua benturan yang terjadi begitu mengalir tanpa cela. Betu-betul koreografi tingkat tinggi.

Bukan cuma pertarungan saja yang membuat lezat, alur cerita juga berhasil membuat keharuan penonton. Perempuan ABG yang berusaha membayar penyembuhan Ibunya dengan menagih piutang ke komplotan gangster. Dari satu geng ke geng lain. Zen menjadi penagih hutang yang lugu sekaligus mematikan.

Hanya ada satu cacat perkelahian, yakni saat pertarungan satu lawan satu sesama autis. Ahh kecewa betul gw dengan adegan ini. Cukuplah satu orang autis dalam satu saat dunia yang punya kemampuan berkelahi luar biasa.

Well, buat yang belum nonton Chocolate berarti dia belum melihat mahaskill sesungguhnya seorang perempuan dalam bertarung.

Rabu lalu di Global Jeeja juga main di Raging Phoenix. Film ini ancur betul! Baik dari cerita dan adegan pertarungan. Tapi saya tetap suka Jeeja si coklat panas menendang.

31 March 1984, 162 cm, Buddhism


Taekwondo, Muay Thai, Kung Fu

Saturday, April 10, 2010

Tulis Sendiri

malam ini,
jangkrik bersama bulan
    berbisik-bisik

besok pagi,
ayam jantan punya matahari
    buat berkokok

siang nanti,
lalat-lalat dengan bangkai
     bercengkrama

malam, pagi, siang,
sendal, sisir, dan celana jeans
     aku sendiri

Wednesday, April 7, 2010

Jika Kau

Jika kau
Padamkan mataku
Jahit bibirku
Maki nafasku
Belenggu dukaku
Palsukan uangku
Cabut senyum anakku
Dirikan tembok seribu
Pakukan mataku di situ
Jika begitu
Kita bakal berkelahi
Sehabis-habis
Kelahi


Samir al-Qassem
(Penyair Palestina. Penerj. Taufiq Ismail. Kembang Para Syuhada, 1988)

Tuesday, April 6, 2010

Beri Aku Dua

Beri aku dua.
Kan kuhadang musuh.
Satu pucuk senjata tempur.
Yang tak bisa macet.
Satu gadis pendamping.
Untuk bercinta.


Saduddin Sphoon
(Penyair Afghan abad ke-20. Penrj. Ikranagara. Kembang Para Syuhada, 1988)

PADAMU JUA

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu - buka giliranku
Mati hari - bukan kawanku


Amir Hamzah
(Raja Penyair Pujangga Baru, lahir 1911 dan meninggal 1946 sebagai korban keganasan gerombolan pemuda komunis. Kembang Para Syuhada, 1988)

Reza Fansuri

Reza miskin orang 'uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Aceh lagi Betawi
'Nantiasa wasil dengan yang Baqi

Saturday, April 3, 2010

Orang Palestina

Orang Palestina
          Namaku orang Palestina
          Jelas aksaranya
Di seluruh medan pertempuran
          Kuguratkan namaku
          Tidak ada alias lainnya
Aksara namaku mencengkramku
          Dialah nyala
          Dialah Denyut
          Di darahku
Orang Palestina
          Begitulah namaku
          Nama yang gaduh
          Nama yang duka
Mata mereka mengincar
Membunuh dan mengejar
Karena aku orang Palestina
          Dan sesuka hati mereka
          Memaksaku ngembara
Daku, seumur hidupku
Tanpa ciri dan tanda
          Dan sesuka hati mereka
          Mereka beri daku nama
          Dan julukan
Penjara dengan gerbang menganga
Menyedotku
Di seluruh airport dunia
Dicatat nama dan julukanku
Angin nista membawaku
Mencincang daku
Orang Palestina
          Nama itu memburuku
          Menetap dalam diriku
Orang Palestina nasibku
          Nama itu bergantung
          Di kudukku
          Menggelegakkan darahku
Orang Palestina aku
          Walau mereka menginjak badanku
           Menginjak namaku
Orang Palestina aku
          Walau mereka mengkhianatiku
           Dan meludahi cita-citaku
Orang Palestina aku
          Walau mereka menjualku
          Di pasar dunia
          Dengan harga beribu juta
Orang Palestina aku
          Walau ke gantungan dihalau aku
Orang Palestina aku
          Walau ke dinding diikat aku
Orang Palestina aku
Orang Palestina
          Walau ke unggun dilempar aku
Aku..... apa aku?
Tanpa namaku, orang Palestina
Tanpa kampung halaman
Tempat berlindung
Aku..... apa aku?
Jawab aku
Jawab!

(Harun Hashim Rashid, penyair Palestina lhr. 1930. Terj. Taufiq Ismail dalam Kembang Para Syuhada, 1988)