Friday, January 24, 2020

Public Speaking for Volunteers: Tingkatkan Kapasitas Relawan

Depok (27/05), untuk meningkatkan kemampuan relawan berbicara di depan umum, Perkumpulan Sahabat Siap Selamat bekerja sama BAZNAS Tanggap Bencana Kota Depok mengadakan pelatihan Public Speaking untuk para relawan lingkungan dan kemanusiaan Kota Depok, bertempat di Green Warrior Village, Kukusan, Depok.

"Kemampuan berbicara di depan umum wajib dimiliki oleh setiap relawan untuk dapat mengedukasi masyarakat soal pengurangan risiko bencana." ujar Christanto, Komandan BTB Depok. Hadir dalam pelatihan kader relawan lintas instansi seperti: relawan BAZNAS, Pekerja Sosial Kemensos, Tagana dan komunitas relawan lainnya. Kegiatan pelatihan ini didukung penuh oleh program CSR dari PRESENTAEDU selama bulan Ramadhan 1440H.

Public speaking adalah bentuk komunikasi individu kepada sekelompok pendengar yang sering kali menjadi momok orang banyak. Menurut survey yang dilakukan oleh Chapman University sebanyak 25,9% masyarakat Amerika paling takut dengan Public Speaking, lebih tinggi dari takut kepada hewan liar ataupun ketinggian.

"Mindset yang harus ditanam setiap pembicara adalah audiens ingin anda sukses karena mereka hadir untuk tahu dan belajar dari kita." Terang Muhammad Noer selaku trainer. "Takut dan gugup merupakan hal yang wajar dan dialami semua public speaker. Itu yang akan mendorong kita belajar dan mempersiapkan diri sebelum tampil berbicara di depan publik."

Lanjutnya, "Tujuan dari public speaking adalah untuk membuat paham, membuat yakin dan mengajak bertindak audiens. Kunci penguasaan Public Speaking adalah pembukaan yang menarik perhatian, isi materi yang runut dan penutup dengan pesan yang jelas."


Choirul, peserta dari relawan BSMI, "Adanya pelatihan ini sangat membantu guna membekali relawan untuk mengetahui bagaimana cara berkomunasi debgan baik secara personal kepada pada penyintas atau sesama relawan bahkan kepada masyarakat untuk memberitahukan informasi didaerah bencana. Narasumber dalam menyampaikan materi public speaking mampu mengemas secara sederhana tentang public speaking dengan cara memberikan teori diskusi dan praktek sehingga audiens merasa tertarik dan antusias"

Relawan yang telah mengikuti pelatihan ini diharapkan berani dan mampu berbicara di tengah masyarakat sebagai tindak lanjut deklarasi Keluarga Tanggap Bencana Kota Depok bulan lalu.

Dimuat di https://www*depoknews*id/public-speaking-for-volunteers-tingkatkan-kapasitas-relawan/

HKBN 2019, Depok Deklarasikan Keluarga Tanggap Bencana

Depok, sebanyak 210 peserta ibu-ibu dari berbagai kelurahan mendeklarasikan Kataba (Keluarga Tanggap Bencana) dalam kegiatan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional, 26 April 2019, di Taman Kaldera, Jatijajar, Tapos.

Sebagaimana edaran  Kepala BNPB mengenai HKBN tahun ini mengangkat tema, "Peran Perempuan Menjadi Guru Siaga Bencana Rumah Menjadi Sekolahnya", Baznas Tanggap Bencana (BTB) Kota Depok, Dinas Damkar bersama Perkumpulan Sahabat Siap Selamat mengadakan peringatan HKB di Situ Jatijajar, Tapos, dengan melakukan edukasi pengurangan risiko bencana dan simulasi penanganan bencana kebakaran kepada ibu-ibu penggerak PKK.

Pak Gandara Budiana, Kadis Damkar, membuka, "Bencana yang sering terjadi di Kota Depok adalah kebakaran. Tahun 2018 telah terjadi 243 kebakaran. Artinya hampir setiap hari terjadi kebakaran di wilayah Kota Depok. Ibu sebagai orang yang paling sering di rumah harus bisa mengantisipasi jika suatu saat terjadi bencana."

Isi deklarasi Keluarga Tanggap Bencana tersebut: ”1) Mengenali potensi risiko bencana dengan memperhatikan penggunaan peralatan rumah tangga, kondisi lingkungan sekitar, dan informasi cuaca dan kebencanaan, 2) Membuat persiapan yang diperlukan menghadapi bencana, seperti jalur evakuasi, menyimpan nomor-nomor penting, dan tas siaga bencana, 3) Mengajarkan kesiapsiagaan bencana kepada anggota keluarga dan lingkungan sekitar dengan melakukan simulasi penanggulangan bencana secara berkala.

KH. Encep selaku ketua BAZNAS Kota Depok yang menaungi BTB menjelaskan, "BAZNAS mempunyai 5 pilar program salah satunya Depok Peduli yang fokus pada penanggulangan bencana dan kemanusian yang dijalankan oleh BTB. Komandan BTB 24 jam siap sedia menerima laporan masyarakat."

“Selain kebakaran rumah, Depok juga ada bencana sosial rumah tangga berupa perceraian sebanyak 3000-an kasus. Dengan zakat dan infak, sebagaimana dalam hadits, dapat menjauhkan kita dari bencana.” Lanjut beliau. 

Ibu Yanti dari kelurahan Mekarjaya menerangkan, “Acara yang sangat bagus dan merupakan pengalaman baru bagi kami, sehingga kami bisa menyampaikan lagi ke posyandu, PKK dan RT/RW. Penting sekali untuk dilakukan sosialisasi ke RW-RW.”

Taufik Ibrahim, ketua panitia acara dalam penutupannya,”Kita akan melanjutkan program ini ke RW dan kelurahan agar setiap keluarga dan masyarakat tanggap dan dapat melakukan pengurangan risiko bencana. Kenali ancamannya, kurangi risikonya.”

Dimuat di https://www*depoknews*id/hkbn-2019-depok-deklarasikan-keluarga-tanggap-bencana/

JSIT Siap Menerapkan Kurikulum Kebencanaan

Rapat koordinasi kepala sekolah yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Kota Depok, Rabu (30/03), salah satunya diisi oleh sosialisasi program BAZNAS Tanggap Bencana Kota Depok.

Setiawan Eko Nugroho, Waka 3 BAZNAS Depok, mengawali paparan, “BAZNAS sebagai badan resmi pemerintah untuk pengelolaan zakat memiliki program tanggap bencana karena orang yang terkena bencana secara drastis kehilangan penghidupannya.”

Sekolah sebagai salah satu pelayanan umum di mana terdapat banyak siswa dan guru wajib memberikan rasa aman kepada setiap warga sekolahnya sebagaimana amanat UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik mengenai jaminan keamanan dan keselematan pelayanan dalam bentuk komitmen untuk memberikan rasa aman, bebas dari bahaya, dan risiko keragu-raguan.

Ketua JSIT Kota Depok, Udin Sastranegara, S.Pd.I mengatakan, “Pendidikan tanggap bencana sangat penting bagi peserta didik karena bencana bisa terjadi kapan pun dan di mana pun sehingga dapat membawa dampak positif bagi kesiapan warga sekolah dan mampu membuat program preventif tanggap bencana.”

“Menurut riset, faktor yang dapat menyelamatkan jiwa saat bencana adalah diri sendiri 35% dan keluarga 31%, sedangkan tim SAR hanya 1,7%. Maka itu, setiap diri dan anggota keluarga harus mengerti dan siap tatkala bencana datang.” terang Taufik Ibrahim, Wakil Komandan BTB Kota Depok

Lanjutnya, “Coba bayangkan jika terjadi kebakaran atau gempa di sekolah Bapak/Ibu, bagaimana mobilisasi sekian banyak siswa yang ada di sekolah? Kuncinya ada di kenali ancamannya, kurangi risikonya.”

Tindak lanjut dari sosialisasi ini, “JSIT akan mendorong sekolah anggota JSIT untuk memiliki program edukasi tanggap bencana di sekolahnya masing-masing.” Ungkap Udin yang juga Kasek SDIT Al-Hikmah, Tapos.

Dimuat di https://www*depoknews*id/jsit-siap-menerapkan-kurikulum-kebencanaan/

Tanggap Bencana Kota Depok goes to School SMA Negeri 8 Depok

Jumat (20/02) BAZNAS Kota Depok mengadakan kegiatan edukasi pengurangan risiko bencana di SMA Negeri 8 Depok, Cilodong, dengan program bertajuk BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) Kota Depok goes to School.

Ibu Eka Mustika, M.Pd selaku Wakasek Kesiswaan menyambut baik program BTB Goes To School, “SMA 8 Depok salah satu visinya berbudaya lingkungan jadi kami selalu mengadakan kegiatan di hari-hari peringatan lingkungan. Pada Hari Peduli Sampah Nasional 2019 ini kami mengadakan 3 kegiatan yakni lomba penanaman bibit, donor darah dan edukasi tanggap bencana oleh Baznas Depok.”

Mengawali kegiatan, Taufik Ibrahim, Wakil Komandan BTB Kota Depok menjelaskan “Bencana adalah sesuatu kejadian yang mengancam kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan nonalam.”

“Persiapan dalam menghadapi bencana setidaknya adalah mengenali tempat kita berada, mempersiapkan tas siaga yang berisi surat-surat penting dan bahan makanan minimal untuk 2 hari ke depan, mencatat nomor-nomor penting seperti Polisi-TNI, Damkar, PMI dan RS.” Ibrahim meneruskan.

Hujan lebat yang terjadi dalam pekan ini mengakibatkan longsor dan banjir di kecamatan beji, tapos, dan cilodong. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Depok tidak lepas dari ancaman bencana.

“Kemarin saya baru turun melakukan respon di Perum Tirta Mandala, Kec. Cilodong. Pasti ada adik-adik yang tinggal di situ kan? Inilah pentingnya diadakan edukasi PRB sejak dini.” Ungkap Reynaldo selaku relawan BTB Kota Depok di depan 350 siswa di lapangan.

Lanjutnya, “untuk menjadi relawan yang harus dimiliki oleh adik-adik utamanya adalah mental siap menghadapi segala kemungkinan, selain persiapan APD yang harus digunakan.”

“Berikutnya kita dapat bekerja sama untuk melakukan simulasi bencana saat mereka di kelas untuk melihat kesiapan murid-murid menghadapi bencana.” Tutur Ibu Eka menutup pertemuan dengan para relawan BTB.

Dimuat di https://www*depoknews*id/baznas-tanggap-bencana-btb-kota-depok-goes-to-school/

Berbagi 1100 Bingkisan Lebaran Kepada Guru Ngaji Lekar dan Marbot

Di akhir Ramadhan 1439H ini, BAZNAS Kota Depok membagikan 1100 paket bingkisan lebaran ceria kepada guru ngaji lekar dan marbot masjid yang tersebar di 11 kecamatan Kota Depok. Total penyaluran bingkisan lebaran sebesar 275 juta rupiah.

Menurut tinjauan fiqih, guru ngaji dan marbot termasuk orang-orang yang membela agama Allah dengan mengajarkan masyarakat ilmu Al-Qur'an serta melayani pelaksanaan ibadah di masjid sehingga masuk dalam kategori orang yang berhak menerima zakat dengan ashnaf Fisabilillah.

Menurut Iskandar, amil BAZNAS Kota Depok, "Dua nama ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Ada ribuan Guru Ngaji dan Marbot di Kota Depok. Kedua orang ini sangat berjasa bagi kita yang memiliki dinamika sosial keagamaan di lingkungan."

Kondisi informal guru ngaji lekar dan marbot membuat mereka minim akses bantuan dari instansi dan lembaga struktural. Ke depan, BAZNAS Kota Depok berkomitmen untuk membangun kerja sama yang luas dengan masjid-masjid dengan membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) agar dapat secara sistematis memberdayakan para guru ngaji lekar dan marbot.

Unpublished

Bersepeda Mengantarkan Bingkisan ke Rumah Mustahik

Minggu malam (9/6), setelah pelaksanaan tarawih di Masjid Balaikota Depok, BAZNAS Kota Depok melakukan perjalanan bersepeda malam bersama penggiat komunitas sepeda di Depok dengan tajuk "Charity Sahuride".

Eko Nugroho selaku wakil ketua Baznas Depok ikut mengayuh sepeda sepanjang margonda menuju Tapos dan berakhir di Masjid Ar-Rahmah  Raffles di Jl. Alternatif Cibubur yang merupakan perbatasan Depok dengan Cibubur.

Eko menyatakan, "Kami hantarkan bingkisan lebaran kepada yang berhak langsung ke rumahnya masing-masing sebagai wujud memuliakan mustahik."

Sebanyak 50 paket bingkisan lebaran ceria dibagikan ke 4 (empat) titik di Kecamatan Tapos. Kel. Cilangkap, Kel. Cimpaeun, Kel. Tapos dan Kel. Leuwinanggung.

BAZNAS yang telah memiliki jaringan relawan Tanggap Bencana di kelurahan melakukan pendataan langsung warga yang berhak menerima bantuan.

Yus Bandi, relawan BTB Kel. Cilangkap, menjelaskan, "Dengan kegiatan seperti ini para muzakki BAZNAS dan masyarakat pada umumnya dapat melihat situasi dan kebutuhan yang dihadapi warga Tapos."

Kegiatan berakhir dengan pelaksanaan shalat Qiyamul Lail dan sahur bersama di Masjid Ar-Rahmah, Perumahan Raffles Hills, Depok. BAZNAS memberikan hibah Al-Qur'an kepada yatim dan dhuafa yang belajar menghafal Al-Qur'an di Asrama Pendidikan Islamic Center Ar-Rahmah.

Unpublished

Sambut Ramadhan dengan Aksi Bersih Masjid

Salah satu bentuk kegembiraan menyambut bulan suci Ramadhan, masyarakat muslim di Indonesia bergotong royong membersihkan masjid dan mushalla di lingkungan tempat tinggalnya. Hampir setiap RW di Kota Depok mempunyai Masjid atau mushalla. Masjid dan mushalla tersebut merupakan pusat berkegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat tersebut.

"Namun amat disayangkan, keberadaan banyaknya masjid/mushalla tersebut membuat jumlah jamaah yang menggunakannya secara aktif menjadi sedikit. Tidak jarang kita jumpai mushalla yang berdebu tanpa perawatan layak." Menurut keterangan Christanto, S.H., Komandan Baznas Tanggap Bencana (BTB) Kota Depok.

"Terutama pada bagian tempat wudhu, kamar mandi dan sela-sela jendela masjid. Untuk itu, BAZNAS turun mengajak masyarakat untuk bersama-sama membersihkan masjid/mushalla yang akan digunakan nanti di Ramadhan" tambahnya.

Sabtu-Minggu (3-4/05), relawan BTB Kota Depok melakukan aksi bersih masjid di 5 (lima) kecamatan yakni, Masjid Hidayatullah (Panmas), Masjid At-Taqwa (Sawangan), Mushalla Nurul Islam (Cipayung), Mushalla Nurul Huda (Cimanggis), dan Mushalla al-Huda (Beji).

Ahmad Muhammad, Wakil DKM Masjid Hidayatullah, menyambut baik kedatangan BTB Kota Depok di Masjidnya, "Menjadi meningkat kemakmuran masjid dan kenyamanan pelaksanaan shalat".

Beliau berharap, "Semoga BAZNAS lebih meningkat lagi dan program ZIS yang ditawarkan lebih menarik untuk orang mengeluarkan zakatnya."

BAZNAS Kota Depok memberikan seperangkat alat kebersihan dan Wakaf Al-Qur'an untuk masjid/mushalla yang dikunjungi.

Bagi masyarakat yang ingin turut serta dalam aksi bersih masjid, wakaf Al-Qur'an dan program ramadhan lainnya dapat menghubungi BAZNAS Kota Depok di 08787-6001-222/0813-8014-1962 (Christanto).

dimuat di https://www*depoknews*id/baznas-depok-sambut-ramadhan-dengan-bersih-bersih-masjid/

BTB Goes to School SMAIT Tunas Bangsa

Gempa bumi berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) di laut selatan Jawa atau sekitar 81 kilometer (km) barat daya Lebak Banten, di ke dalaman 10 km pada Selasa (23/1) turut dirasakan oleh masyarakat Kota Depok.

Dampak gempa bahkan mengakibatkan beberapa barang-barang yang menempel di tembok turut jatuh dan pecah. Salah satunya keramik pada dinding Gedung Dibaleka Balaikota Depok.

Agar tidak menimbulkan kepanikan saat menghadapi situasi bencana seperti kemarin, BAZNAS Kota Depok melalui unit program BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) Kota Depok memfasilitasi BTB Provinsi Jawa Barat mengadakan pelatihan kebencaan untuk para pelajar di Kota Depok dengan tajuk "BTB Goes to School".

Sekolah yang mendapatkan kesempatan pertama pelatihan kebencanaan yakni siswa-siswi SMAIT Tunas Bangsa, Kalimulya. Bapak Kepala SMAIT Tunas Bangsa, Ahmad Nurhilal, S.Pd menyambut baik kegiatan tersebut dengan berpesan, "Bencana terbesar adalah ketika kemaksiatan merajalela di muka bumi dan sekolah merupakan unsur penting untuk memerangi bencana sosial tersebut."

Ketua BAZNAS Kota Depok, KH. Encep Hidayat, sambil mengutip An-Nahl ayat 112 berkata, "Bencana yang terjadi berkait erat dengan perilaku manusia." BTB hadir untuk bersiap melayani korban bencana yag terjadi dan juga memberikan edukasi kepada masyarakat untuk berperilaku sadar lingkungan agar mengurangi risiko bencana.

Para siswa nampak antusias mengikuti pelatihan yang diberikan oleh instruktur dari BTB Jawa Barat. Sesi pertama diisi oleh Kak Iyan mengenai pengertian dasar kebencanaan dengan permainan dan nyanyian ringan yang memudahkan siswa mengingat apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi.

Pada sesi kedua Om T. Bob memberikan banyak praktek mengenai Pertolongan Pertama Gawat Darurat. Siswa diajarkan bagaimana memindahkan korban luka dengan baik agar tidak menambah luka pada korban.

Di akhir pelatihan, siswa dikenalkan dengan macam-macam peralatan keselamatan diri mulai dari sepatu boot hingga plampung dan perahu karet. Siswa juga diberikan pengalaman untuk memadamkan api menggunakan karung basah dan tabung APAR (alat pemadaman api ringan).

dimuat di: https://www*depoknews*id/baznas-depok-gelar-pelatihan-tanggap-bencana-untuk-pelajar/

Disporyata Dukung Perkembangan Wushu di Sekolah

Sebanyak 275 atlet dari 11 kota di Sumatra, Jawa dan Bali mengikuti Kejuaraan Wushu Taolu Pelajar dan Mahasiswa Tingkat Nasional bertajuk WUGAMES UI 2017 yang berlangsung di Balairung, Kampus UI Depok, 9-12 Desember 2017.

Hadir dalam seremoni pembukaan kejuaraan perwakilan Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI), Pemerintah Kota Depok, dan Rektorat UI sebagai tempat penyelenggaraan.

Dalam sambutannya, Bapak Airlangga Hartarto (Menperin) selaku Ketua PBWI yang disampaikan oleh Bapak Bambang Suoriyanto (Waka III PBWI), berpesan, "Kejuaraan Wushu yang diselenggarakan Universitas Indonesia akan dimasukkan dalam agenda tahunan PBWI untuk diikuti seluruh universitas di Indonesia."

Mewakili Walikota Depok, Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata, Agus Suherman menyambut baik kegiatan wushu oleh UI, "Disporyata akan memfasilitasi sosialisasi bela diri wushu ke sekolah-sekolah di Depok bekerja sama dengan Disdik."

Menurut keterangan pelatih wushu Kota Depok terdapat 5 atlet Kota Depok yang ikut tanding dalam kejuaraan ini sebagai ajang latihan untuk tampil lebih baik dalam Babak Kualifikasi (BK) Porda Jawa Barat pada 19-24 Desember di Bogor.

dimuat di: https://www*depoknews*id/13-atlet-wushu-kota-depok-tanding-dalam-babak-kualifikasi-porda-jabar/

MUI Kota Depok Gelar Musabaqoh Seni Budaya Islam

Depok, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok menyelenggarakan perlombaan kemampuan bahasa arab dan kesenian budaya Islam dalam kegiatan Musabaqoh Qiroatul Kutub, Kaligrafi dan Hadrah yang diadakan pada Gedung MUI Kota Depok, Rabu, 22 November 2017.

Musabaqoh tersebut merupakan tahun kedua yang diselenggarakan MUI Kota Depok. Diikuti oleh peserta dari Kota Depok dan umum. Peserta paling jauh berasal dari Bandung. Terdiri dari 50 peserta kaligrafi, 20 peserta qiraatul qutub, dan 20 tim mengikuti lomba hadrah.

Bapak KH. Drs. Hasan Bisri selaku ketua komisi Pemuda, Seni dan Olah Raga MUI Kota Depok mengatakan, "Kegiatan ini diadakan sebagai syiar Islam dan mengembangkan potensi kaum muda muslim dalam seni dan budaya Islam."

Peserta juara sebanyak 12 orang/tim yang terdiri dari 4 kategori akan mendapatkan Piala Ketua Umum MUI Kota Depok, Piala Ketua Baznas Kota Depok dan Piala Walikota Depok.

Menurut Ketua BAZNAS Kota Depok, KH. Encep Hidayat, M.A., yang turut berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut, "Baznas menyokong kegiatan ini pertama, sebagai sebuah syiar Islam sebagaimana syariat zakat juga merupakan sebuah ibadah untuk mensyiarkan Islam. Kedua, sebagai sarana media sosialisasi Baznas ke tengah masyarakat dan khususnya generasi muda muslim.

"Terakhir, merupakan sebuah wujud sinergitas antara BAZNAS Kota Depok dengan MUI Kota Depok yang telah berjalan baik dan saling memberi manfaat." Tutupnya.

dimuat di https://www*depoknews*id/mui-kota-depok-gelar-musabaqoh-seni-budaya-islam/

Usaha Ekonomi Kreatif Menjadi Prioritas BAZNAS Kota Depok

BAZNAS Kota Depok mengunjungi pameran kegiatan usaha ekonomi kreatif oleh Koperasi Kampung Belor Sejahtera di Kecamatan Bojongsari, Rabu (15/11).

Banyak produk-produk kreatif hasil usaha masyarakat Bojongsari seperti tas dan dompet hasil olahan sampah plastik dan makanan-minuman tradisional yang dikemas modern untuk kepraktisan pelanggan.

Ketua BAZNAS Kota Depok, KH. Encep Hidayat, M.A., menikmati langsung minuman kemasan jahe yang ada. Beliau mengatakan kepada ibu-ibu penggerak koperasi bahwa kegiatan usaha yang memberdayakan masyarakat seperti ini yang kedepan akan menjadi prioritas pendayagunaan oleh BAZNAS Kota Depok.

Dalam kesempatan tersebut, BAZNAS Kota Depok bersama Pak Camat Bojongsari Drs. H. Usman Haliyana MSi juga mengunjungi Warung Tukar Sampah yang digerakan oleh warga RW 04, Bojongsari.

Warung tukar sampah merupakan warung dengan transaksi pembelian menggunakan sampah yang dikumpulkan oleh warga. Warga mengumpulkan sampah plastik dan kertas dari rumah masing-masing kemudian ditimbang dan ditukarkan dengan belanja di warung tersebut.

Selama 3 minggu sejak pembukaan warung, sebanyak 20kg/hari sampah sudah dikumpulkan dan dijual kepada pengepul sampah. Pengurus warung mendapatkan margin 5% dari nilai barang yang dikumpulkan.

Dengan adanya warung tukar sampah masyarakat terdorong untuk memilah sampah dan memanfaatkannya kembali untuk membantu meringankan belanja rumah tangga.

dimuat di https://www*depoknews*id/usaha-ekonomi-kreatif-menjadi-prioritas-baznas-kota-depok/

Usaha Warung Bagi Keluarga Penderita Lumpuh Layu

Ujian berat harus dihadapi oleh seluruh anggota keluarga tidak mampu yang berada di RT 05/02, Duren Mekar, Bojongsari, Kota Depok. Tujuh dari sembilan anggota keluarga Ibu Sadiah (umur 70th) mengalami lumpuh layu.

Enam anak Ibu Sadiyah secara berturutan mengalami penyakit tersebut semasa usia SD kelas 4. Mereka adalah Marpuah (48), Suryadi (44), Khairuddin (42),Kholid (40),Tabroni (38), dan Nyai Latifah (29), sedangkan adalah Safei (42) dan Zarkasih Efendy (32) dalam keadaan normal (SEHAT). Ibu Sadiyah sendiri baru menderita saat sang suami, Bapak Amin, meninggal pada tahun 2009.

Semenjak meninggalnya kepala keluarga, Ibu Sadiah memerlukan uluran tangan dari orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan kedua anaknya yang sehat mempunyai penghasilan hanya cukup untuk keluarga mereka masing-masing.

Melihat kondisi keluarga tersebut, BAZNAS Kota Depok berinisiatif untuk memberikan bantuan yang bersifat berkelanjutan untuk menciptakan kemandirian bagi keluarga Ibu Sadiyah.

BAZNAS Kota Depok bekerja sama dengan Kodim 0508 Kota Depok membangun kios warung bagi Ibu Sadiyah. Kodim 0508 melalui Koramil Sawangan menurunkan beberapa anggotanya bekerja membangunan fisik warung dan BAZNAS Kota Depok memberikan biaya operasional yang diperlukan. Saat bangunan warung selesai, BAZNAS Kota Depok juga akan  menyediakan sembako barang-barang isi jualan warung tersebut.

Sinergitas ini diwujudkan pada acara seremonial peletakan batu pertama pembangunan warung, Rabu (15/11), yang dilakukan oleh Dandim 0508/Depok Letkol Inf R. Moch. Iskandarmanto bersama KH Encep Hidayat selaku Ketua Baznas Kota Depok.

Diharapkan sinergitas antara BAZNAS Kota Depok dengan segenap elemen pemerintah dan masayarakat Kota Depok terus berlanjut untuk dapat memberikan manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dimuat di https://www*depoknews*id/usaha-warung-bagi-keluarga-penderita-lumpuh-layu/

Thursday, February 2, 2017

Nasib orang Betawi emang. Dari Senayan kena gusur, pindah ke Tebet. Dari Tebet kena gusur lagi, pindah ke Jagakarsa. Dari Jagakarsa, kita yang anak-cucu Buya bergeser lagi ke Depok. Ada juga yang terlempar jauh ke Citayam. Tapi kita nggak pernah berhenti jadi orang Betawi. Gue Betawi biar sendirian.
Nggak tahu saya mimpi apa kemarin. Gara-gara macet, jadi begini. Jalan di Jakarta emang udah di luar kewarasan. Macetnya naudzubillah. Saban hari, pagi-sore, jalanan Jakarta padet berjejal kuda besi. Situasi macam ini membuat saya dan para penggemar macet Jakarta putar otak cari-cari jalan tikus yang mudah-mudahan lebih lancar. Namanya cari-cari, kadang sukses, kadang nyasar. Nah, nyasar kali ini yang bakal saya ceritain di sini.

Soal nyasar, saya memang rada pengalaman. Biar kata di Jakarta, tetap saja saya nyasar.  Kebayang kalau saya ke luar kota? Nyasar atau nggak, bukan sual, yang penting tujuan tercapai. Tangerang, Bogor, Sukabumi sudah jadi medan juang penuntasan nyasar.

Kapan hari saya berangkat ke kantor di bilangan Gatot Subroto, seberang gedung Jamsostek.  Dan seperti biasa, saya harus nentuin jalan mana yang mungkin paling cepat sampai kantor. Menyusuri jalan Kahfi I dari alif sampe ya, masuk Cilandak-KKO, terus ke Ampera, Bangka mentok ke jalan layang Tendean. Nah, lepas situ, saya lihat jalan arteri Mampang ke Kuningan padat merayap, langsung saya inisiatif masuk ke dalam jalan kecil berharap bisa tembus langsung ke muka jalan Kuningan. Tapi, apa mau dikata, nyasar.

Saya tiba di suatu jalan yang berjejer rumah besar di kiri-kanan jalan dengan latar gedung-gedung tinggi jika sedikit nengok ke atas. Saya pacu motor dengan lambat sambil berpikir saya lagi di mana. Di sudut jalan terlihat papan nama jalan bertuliskan "Tulodong". Astaga, Tulodong. Ini kawasan tempat saya lahir. Saya berhenti sebentar lalu memacu motor lebih pelan, bukan untuk tahu ke mana jalan keluar, tapi mencari di mana klinik dan pasar tempat saya dilahirkan 30 tahun lalu. Teringat kata Ibu bahwa saya lahir di Pasar Tulodong. Surat lahir dari klinik juga tertulis Tulodong.

Tulodong masih di bilangan Senayan, tempat saya kakak-beradik serta Ayah/Ibu tinggal. Tempat Cang, Cing, Buya, Umi, Njid, Jidah, dan segenap keluarga besar saya menjalani kehidupan sehari-hari seperti layaknya kehidupan kampung di kota. Main bola, bermain layangan, nongkrong di ujung jalan, hingga ngojek payung di Mal Ratu Plaza, salah satu mal besar tertua di Jakarta.

Sebagai orang Betawi, rumah sanak saudara semua berdekatan. Rumah saya dekat saja dengan rumah Buya (engkong), bisa ditempuh jalan kaki sebentar. Rumah saya sederhana dengan satu kamar seperti rumah kontrakan sekarang, tapi dengan dapur, kamar mandi, dan halaman yang lebih besar. Pagi dan sore, rumah Buya jadi tempat main semua anak dan cucunya.

Rumah Buya cukup luas buat menampung ke-13 anaknya. Halaman depan cuma dipagar setinggi pinggang. Pohon nangka cukup besar buat nangkep angin ngademin orang-orang yang duduk santai di teras. Di samping rumah ada dua kolam untuk pelihara ikan mas, lele, mujair, atau apa aja ikan hasil nangkep mancing untuk ditaruh buat dimasak entaran.

Sebagai orang yang tinggal di tengah kota, kami tidak perlu ke mana-mana untuk memenuhi kebutuhan kami. Mau sekolah, ada. Mau main, lapangan masih ada. Mau bergaya ke mal atau ke bioskop, bisa. Semua itu bikin kami nggak perlu ke mana-mana. Di tengah semua pembangunan dan modernitas itu, keluarga Buya dan hampir semua orang Betawi tetap teguh memegang agama. Mengaji di mushala adalah keharusan, bahkan Ibu dan semua saudaranya dimasukkan ke pesantren dekat rumah, Darurrahman, yang sampai sekarang masih ada.

Sayang, masa-masa itu nggak lama. Saya cuma sempat tinggal di sana selama lima tahun pertama hidup saya. Waktu itu pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun Jakarta. Mungkin itu yang dimaksud orang waktu menyematkan gelar Bapak Pembangunan ke Presiden Soeharto. Dia habis membangun kampung-kampung di Jakarta jadi gedung-gedung bertingkat. Konon rumah saya sekarang berubah jadi gedung Ancora.

Senayan dan Kuningan yang dulu tempat ternak sapi dan produksi susu buat para kumpeni, sekarang sudah jadi tempat ternak uang dan produksi jasa buat para kumpeni juga. Sama-sama tempat penghasil duit, bedanya sekarang bukan orang Betawi lagi yang jalanin dan nggak ada tempat lagi buat rempug keluarga.

Nasib orang Betawi emang. Dari Senayan kena gusur, pindah ke Tebet. Dari Tebet kena gusur lagi, pindah ke Jagakarsa. Dari Jagakarsa, kita yang anak-cucu Buya bergeser lagi ke Depok. Ada juga yang terlempar jauh ke Citayam. Tapi kita nggak pernah berhenti jadi orang Betawi. Gue Betawi biar sendirian.

Ada cara buat ngukuhin kejatidirian orang Betawi. Keluarga saya biasa ngadain pengajian dan arisan dua bulanan, tiga bulanan, empat bulanan, tergantung ikut jalur keluarga mana—keluarganya Buya, keluarganya Umi (nenek), atau dari keluarga buyut-buyutnya. Nominal arisan sih nggak seberapa, tapi nilai kekeluargaannya itu yang besar. Makanya, kadang arisan cuma bisa digelar di rumah saudara yang tajir. Dapetnya sedikit, keluarnya banyak.

Jika tidak sempat arisan, ada ziarah kubur saban awal/ujung bulan Ramadhan, waktu kami cucu dan cicit bisa kenal nama-nama buyut-buyut kami. Lebaran apalagi. Kesemua acara yang dirayakan bersama keluarga orang Betawi adalah juga acara keagamaan. Bukan Betawi kalau kumpul asal kumpul. Ketika kumpul selalu ada pengajiannya, tahlilnya, nasihatnya. Dan Jakarta adalah tanah yang kita bela dan hidupi dengan semangat agama dan persaudaraan.

Waktu makin siang dan saya masih berkeliling Senayan mencari sisa-sisa ingatan saya dulu. Hampir tidak ada yang seperti ingatan saya. Yang ada malah rumah besar dengan pagar setinggi pohon, tanpa teras, tanpa kolam, tanpa pohon nangka. Kali hitam yang pasti bukan buat ngobak anak-anak apalagi minum ternak sapi. Mana tanah lapang buat main bola dan layangan? Yang ada tinggal orang-orang di pinggir jalan, beberapa Betawi, beberapa bukan, dengan rumah semipermanen.

Saya dan sebagian besar keluarga mungkin tidak lagi tinggal di tengah Jakarta, tapi kami masih menghidupi Jakarta dengan tangan kami, pajak kami, dan doa-doa kami. Kedutaan Belanda sudah di depan mata, saya mengitarinya sebentar kemudian tembus masuk jalan kecil di antara dua gedung. Alhamdulillah, sampai juga di kantor.

Sumber: NuuN.id

Wednesday, April 20, 2016

Si Laba-laba dan Si Lalat

Oleh: Allama Muhammad Iqbal*

Suatu hari, seekor laba-laba berkata kepada lalat
Meski engkau lewat sini setiap hari

Pondokku tak pernah mendapatkan kehormatan darimu
Dengan diberi kesempatan dikunjungi oleh engkau.

Terlewat orang asing dari kunjungan bukan masalah
Menghindar dari yang terdekat dan terhormat bukan hal yang baik

Rumahku akan merasa terhormat dengan kunjungan darimu
Sebuah tangga untukmu jika engkau putuskan masuk

Mendengar itu, lalat berkata pada laba-laba
Tuan, anda dapat menarik orang bodoh ke sana

Lalat ini tidak akan terjerat oleh jarring anda
Siapa yang masuk dalam jaringmu tidak akan dapat turun

Laba-laba berkata, “Bagaimana mungkin anda bilang saya sebagai penipu?
Saya tidak pernah melihat hewan yang begitu bodoh sepertimu.”

“Saya hanya ingin menyenangkan anda
Saya tidak punya kepentingan tersembunyi apa-apa.”

“Lalat, anda pasti telah terbang begitu lama dari tempat yang jauh
Istirahatlah sebentar di rumah saya, rumah saya tidak akan menyakiti anda.”

“Banyak hal dalam rumah ini yang layak anda lihat
Meski tampak hanya seperti rumah sederhana.”

Tirai halus dan lembut menggantung di setiap pintu
Dan saya telah menghias dinding dengan kaca-kaca

Tilam tersedia untuk kenyamanan para tamu
Bukan sembarang orang dapat merasakan

Sang lalat berkata, “Alangkah baiknya semua itu
Tapi jangan harap saya masuk ke dalam rumahmu

Semoga Tuhan melindungiku dari kenyamanan tilam
Setelah tertidur di atasnya, mustahil bangun kembali

Sang Laba-laba berbisik sendiri
“Bagaimana menjebaknya? Si Celaka itu cerdik

Banyak keinginan dipenuhi dengan pujian di dunia
Semua yang ada di dunia diperbudak oleh pujian

Dalam renungan itu, laba-laba berkata pada lalat
“Puan, Allah telah menganugerahkan kehormatan besar pada Anda!

Semua orang menyukai wajah indah anda
Bahkan jika seseorang melihat anda kali pertama

Mata anda terlihat seperti kumpulan kilau berlian
Allah telah menghiasi kepala Anda dengan bulu-bulu yang indah

Sang Lalat tersanjung oleh pujian
Dan berkata, “Aku tak takut padamu lagi.”

Berkata demikian ia terbang dari tempatnya
Ketika dekat laba-laba menjerat

Sang Laba-laba yang kelaparan beberapa hari
Sang Lalat menyajikan santapan lezat.


*) diterjemahkan oleh Reza dari Aik Makra Aur Makhi | A Spider and A Fly
Sumber: http*//iqbalurdu*blogspot*co*id/2011/02/bang-e-dra-6-aik-makra-aur-makhi.html






Saturday, October 31, 2015

Puisi untuk Ananda

Ringan menapak dalam keceriaan
Membelai lembut semua di hadapan
Senyum lepas mesti tersunggingkan
Kepada ayah ibu yang merindukan
Apa yang kami telah berikan
Ananda terima tanpa sanggahan

Pada hewan dan tumbuhan,
Ananda mesrai tanpa ketakutan
Tajam mata memperhatikan
Gerak-gerik alam ananda tirukan
Gesit kucing coba ikutkan,
Merdu kicau burung jadi tuturan
Indah bunga ananda cerminkan
Tenang air ananda hayatkan

Hei si anak bujang,
Jadi jantan bukan sembarang
Kuatkan tangan bantu sekitar
Kokohkan kaki topang impian
Lapar dan haus jangan turutkan
Godaan setan segera tepiskan

Ketampanan bukan di tampang,
letaknya di akal cemerlang
Harta wanita cuma hiasan,
jangan jadikan sebuah tujuan

Kemuliaan ada di iman,
yang ditinggikan oleh keilmuan
Segala perkara ananda ikhlaskan,
agar lapang semua urusan


Depok, 29 Oktober 2015