Thursday, March 29, 2012

Donna Donna

Calf and Swallow

On a waggon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

Chorus:
How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer`s night.

Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

“Stop complaining!” said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?”

+ Chorus

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

+ Chorus

Artist: Joan Baez
re-singing by Sita RSD on GIE!

Tuesday, March 27, 2012

Rekapitulasi Status Facebook Bulan Maret

Pengorbanan dan pelayanan; apa tidak ada dua kata ini dalam diri pejabat dan pegawai pemerintah? Belum bekerja (maks) saja sudah takut diancam, belum mampu menyejahterakan malah menyusahkan. Tuhan, lindungi rakyat negeri ini dari kezaliman penguasa.

Being single won't stop me doing night shopping in saturday night. Let's do the mall!!

Be a lion and live like a king!

Sama-sama mengusung lagu pop dan cinta, Chrisye dan Ebiet, saya lebih suka mendengar lagu-lagu Ebiet daripada Chrisye. Saya punya album lengkap Ebiet untuk didengar sedang untuk Chrisye cukup dengar dari orang lain.

Deepthinking: apakah kita hidup menjalani hari-hari baru (1, 2, 3, ...) atau sekedar menjalani hari-hari yg kita "pernah lalui" (..., 3, 2, 1)?

Mengapa harus ada deklarasi -- UN Jujur, Antikorupsi, dll -- saat semua itu memang harus dilakukan? Memang Indonesia, yang penting seremoni karena itu sudah dianggap pelaksanaan.

Ulama rusak (su') membuat masyarakat bodoh. Masyarakat bodoh memilih pemimpin zalim. Pemimpin zalim mengangkat ulama rusak. Begitulah lingkaran setan terbentuk.

ketimpangan distribusi pendapatan mudah saja dilihat dari dunia sepakbola. Sama-sama berkeringat, sama lamanya, Ronaldo mendapat bayaran 3 M/pekan sedang Bepe cuma 1 M/tahun. Unbelievable!

Menyebut aktivis Jil sbg Islam liberal sama saja menyanjung mereka karena mereka gak islam-islam banget atau gak liberal-liberal banget. Menggunakan kata Islam Liberal merusak islamnya dan merusak liberalnya. Saya lebih suka menyebut mereka, 'brengsek'. #indonesiatanpaorangbrengsek.

Dapat cerita dari Ibu bahwa buyut saya, alm. Zawawi, di Senayan dulu punya sekolah SD namanya Mu'awwanah (tolong-menolong). Kok tiba2 jadi pengen diriin sekolah bwt generasi mude betawi khususnya dan anak-anak jalanan umumnya. Bismillah

Ocehan august comte tentang 3 tahap perkembangan cara berpikir (teologi, metafisik, positivis) manusia terbukti salah alamat. Di jaman modern positivistik ini, pejabat makin edan kelakuannya. Ada hakim agung suka klenik, ada politikus adu sumpah pocong, ada-ada aja.

Punch and kick can hurt me but a word won't.

Hubungan liberalisme dengan kapitalisme seperti hubungan ibu yang melahirkan majikan. Liberalisasi membebaskan ekonomi dari campur tangan kekuasaan agar setiap rakyat mandiri bebas berusaha, setelah lepas ekonomi dikuasai para kapitalis membatasi-menindas rakyat yang ingin mandiri berusaha.

Kalau pemimpin seperti sopir, lelah sekali rasanya megang stir terus dan waspada setiap saat. Sedang pengikut cukup duduk santai dan berbuat semaunya.

There's no such thing as "fides quaraens intellectum" in Islam, because we only believe in what we have the knowledge about it. That's why we call the declaration of faith by syahadat.

Di facebook ada gerakan #IndonesiaTanpaJIL
Saya paling suka lihatnya apalagi klo akhawat yg like. Tapi betul gk y dlm praktik riil mereka mau menghapus JIL?
#IndonesiaTanpaJIL => Indonesia tanpa (jaringan) ikhwan lajang.

Tesis alGore dalam "The Inconvinient Truth" saat satu wilayah mengalami hujan berlebihan ada wilayah di belahan bumi lain yang mengalami kekeringan berkepanjangan. Ini terjadi karena debit air di bumi ini tetap, entah dalam bentuk uap, air, es di darat atau laut. Jadi apa doa yg mesti kita panjatkan saat hujan turun lagi dan lagi?

Saya heran dgn orang-orang yang percaya akan kemahabesaran nusantara (atlantis, piramida, khayangan dewa/i riil) tp malah menafikan agama sebagai petunjuk langsung dari Tuhan untuk manusia. Silahkan saja merekonstruksi sejarah purba nusantara tapi untuk bs memakmurkan bumi ke depan kita butuh pegangan nilai etika dan moral yang benar serta ilmu dn pengetahuan. Siapa tahu nenek moyang purba kita dulu juga bertauhid.

Setelah nonton dokumenter "dhani yahudi" yg menerangkan byk simbol yahudi/setan yang dimasukin ke vidclipnya, makin menegaskan bahwa dakwah itu bukan cuma mengajar ilmu atau mendirikn negara tapi juga harus merasuk ke kebiasaan, budaya, dan adat sehingga orang dalam keseharian keseluruhan hidupnya berislam.

Bulan lalu bilang ke orang, "adat digedein", hari ini bilang, "dasar gak tau adat", menit ini ngaku, "makan tuh adat". Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Fenomena maraknya dansa-dansi boy/girl band serupa dgn fenomena kesurupan massal. Sama" terjadi akibat kepribadian lemah dan rapuh yg mudah terpengaruh.

Adat itu satu cara membumikan syariat. Syukur kita punya alim ulama yang mampu menanamkan Islam bukan hanya di kepala, tapi juga hati, perilaku, sikap, sadar dan bawah sadar dalam keseharian berbudaya berbangsa bernegara.

Dulu tahu dun dan din pas belajar nahwu. Ternyate ada singkatannya sebagai syarat nyari mantu perempuan di betawi,
Dun = cakep dunianye (bisa masak atau keterampilan laennye),
Dan = pinter dandannye (tau rawat diri dn berpenampilan baik)
Din = bagus diennya (agamanye).

Mungkin nama kita bisa bertahan seabad, entah usia kita panjang atw ada anak2 yg trus mengenangnya. Tp bisakah nama kita bertahan semilenium? Mengingat kita adalah anak2 awal milenium.

Ujian kesetiaan bukan terletak pada selalu bersama dengan orang yang menemani kita, melainkan pada kesetiaan memegang mimpi-mimpi dengan atau tanpa ada orang yang menemani.

Saya pikir mungkin Tuhan tersenyum tadi saat melihat sebagian hambaNya di sudut atas kaki Gunung Salak sholat Jumat hanya memakan waktu kurang dr 15menit pdhal mereka tidak sedang dikejar kesibukan dunia seperti jam istirahat kantor atau kemacetan.

Lihat selalu kebaikan pada setiap orang/persoalan karena hati yang diterangi Cahaya hanya akan menemukan terang di matanya.

Terbaik; jangan mencari/melihat ke-terbaik-an dari kacamata dunia, bisa jadi kamu akn sesat memandang - pintar bs sombong, kaya dr korupsi, populer karena melacur, kuasa menindas. Lihat ke-terbaik-an hanya dari sisi akhlaq dan agamanya.
"terbaik, terbaik kupersembahkan untukmu yang terbaik - dewa 19"

Saturday, March 24, 2012

Visi dan Misi

Dalam ketenangan ada gejolak seperti halnya dalam peribahasa "air riak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan".

Hidup saya begitu tenang tanpa ada hiruk-pikuk dunia yang njelimet. Manusia gelisah tentang kemacetan, tentang lembur, bos galak, belanja apa, makan di mana, bayar kontrakan, dll. Semua itu mudah kita temui dalam kabar singkat di Facebook.

Dalam 1 hari, seorang pekerja akan menghabiskan waktu minimal 7 jam bekerja, 3 jam lama perjalanan, dan 5 jam tidur. Sisanya lenyap tak teridentifikasi untuk istirahat dan nonton. Saya sebagai seorang guru punya waktu libur 3 hari, dengan jumlah jam mengajar sebanyak 20 jam seminggu, dan sisanya kerja dan beraktivitas "serabutan" terserah saya.

Kata "serabutan" dan "terserah" ini yang menjadi tantangan bagi saya. Gejolak dalam ketenangan. Gambaran serabutan yang saya maksud adalah menjalankan berbagai macam tugas yang seharusnya dikerjakan oleh orang lain dengan jabatannya masing-masing. Tugas yang sering saya tangani selain Guru misalnya Bendahara, Operator Sekolah, Tata Usaha, Penjaga Lab, Wali Kelas, dan tak jarang Kepala Sekolah. Kapan menjalankannya dan bagaimana menjalankannya, terserah saya.

Mengapa saya mau mengerjakan itu semua dan/atau dipercayakan membantu tugas-tugas itu semua? Karena saya - Insya Allah - memang punya kemampuan untuk menjalankan itu semua. Mungkin ini beban sejarah yang harus saya tanggung. Di kampus dulu, saya mengikuti cukup banyak organisasi yang punya core competence berbeda-beda. Ragam budaya, ragam kegiatan, dan ragam keahlian yang diperlukan. Dari ragam itu dua komunitas yang paling berpengaruh adalah Komunitas Nuun tempat saya belajar tentang nilai-nilai dan UKM Wushu Gerak Naga UI karena saya berhasil mengejawantahkan segala pengalaman saya di keorganisasian dengan mendirikan "sendiri" UKM, dengan tidak mengurangi hormat saya kepada teman-teman yang telah membantu.

Terserah, karena saya sebenarnya punya hak untuk menolak melakukan apa-apa di luar pekerjaan utama saya sebagai Guru.


Terus Belajar dan Belajar
Menjadi seperti kutu loncat saat menjadi mahasiswa juga punya dampak buruk kepada saya. Saya tidak mempunyai hobi dan kemampuan khusus, dan tidak mendapatkan nilai khusus 'A'. Saya cuma mahasiswa 'C'. Maka di sini, di Pesantren Husnayain ini, saya ingin menegaskan (Bold) siapa diri saya, sebagai:
"Insan intelektual yang mengadakan ishlah di tengah masyarakat" 
Istilah untuk menjadi demikian oleh Ali Syariati disebut "Raushan Fikr" atau pemikir yang tercerahkan. Namun saya tidak menggunakan istilah tersebut karena saya sadari bahwa saya bukan pemikir utama. It's not my raison d'etre. I am a half breed. half intellectual and half activist.

Untuk dapat menuntaskan pernyataan misi hidup saya di atas, Tuhan telah sengaja menjalankan saya sampai di sini dengan segala pengalaman yang saya dapat. Pesantren Husnayain akan menjadi laboratorium saya mengekalkan atau menegaskan kemampuan saya dalam mengajar dan mendidik, belajar mengelola lembaga pendidikan, belajar ilmu-ilmu fardhu yang belum saya kuasai, memperbaiki dan memperindah akhlaq saya, dan sebagai tempat mempersiapkan diri untuk mengambil strata dua tentang kepemimpinan dan/atau menajemen organisasi (pendidikan).

Cita-cita
Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk dapat bersabar dan bersyukur untuk tetap berkhidmah di Pesantren Husnayain selama 5-6 tahun. Sekarang, saya telah mengajar di sini selama kurang dari 2 tahun maka saya masih punya waktu 3-4 tahun menjalankan rencana saya tersebut. Selepas dari sini, beberapa rencana saya adalah

  1. melanjutkan belajar ke universitas di luar negeri untuk mengambil bidang studi manajemen SDM atau manajemen pendidikan.
  2. mendirikan lembaga pendidikan tingkat sekolah menengah.
  3. berlanjut berjuang.....*infinitive possibilities*

Alasan mengapa harus mengambil kuliah di luar negeri, karena saya ingin belajar di universitas yang serius dengan kualitas pendidikannya. Serta, saya ingin mendapatkan rasa "cross culture" di dunia barat. Seperti Iqbal, Prof Rasjidi, Prof Wan, dll (Semoga Allah merahmati mereka semua), mereka menjadi orang yang betul-betul paham dengan  kebudayaan Barat, kelemahan dan kelebihannya.

Alasan mengapa lembaga pendidikan tingkat menengah karena untuk membentuk generasi-generasi muda Islam yang sadar akan jati-dirinya. Menghapus galau dan kenakalan remaja menjadi pemuda-pemuda Islam yang berilmu dan berkarya.

Dalam diam, saya berjalan
Dalam tenang, saya berjuang
Dalam sederhana, saya melimpah

Wallahu a'lam wal musta'an








Monday, March 19, 2012

Pesan Natsir Kepada Para Guru dan Ustadz di Pelosok

Saja mengutjapkan sjukur alhamdulillah, karena pada malam ini saja dapat menghadiri satu pertemuan dengan pengurus dari Taman Pendidikan Islam jang sudah pernah terdengar namanja oleh kawan-kawan di Djakarta, akan tetapi belum mengetahui benar-benar bagaimanakah usaha dan tindakan dari Taman Pendidikan ini.

Sekarang saja berada ditengah saudara-saudara. Saja rasanja berada kembali pada tangga saja sendiri. Sebab tatkala saja keluar dari bangku peladjaran, maka jang mula-mula saja hadapi dalam lapangan pekerdjaan dan perdjuangan, ialah lapangan pendidikan Islam ini.

Adapun jang sedang saudara-saudara kerdjakan sekarang, bukanlah suatu pekerdjaan jang lekas-lekas diketahui orang. Bukan suatu pekerdjaan jang saban hari tertulis di surat-surat kabar, bukan pula pekerdjaan jang dianggap orang herois, pekerdjaan pahlawan jang dipudja-pudji setiap hari. Saudara mentjari pekerdjaan djauh dari kota, jakni di kebun-kebun onderneming, menanamkan Agama dikalangan buruh-buruh perkebunan di gunung-gunung.

Akan tetapi ketahuilah saudara-saudara, bahwa ibarat orang memanah, sasaran saudara sudah tepat pada tampuknja benar, sebab orang sering kali lupa, bahwa potensi dan tenaga dari umat kita, sebenarnja terletak di luar kota, di desa, di tepi-tepi gunung, di tengah-tengah alam raja jang besar itulah!

Sekarang saudara menghadapi satu masjarakat jang terpisah, jang dinamakan masjarakat kebun, jang mempunjai sipat sendiri, penuh dengan penderitaan poenale-sanctie dan lain-lain sisa alam pendjadjahan. Itulah batang terendam jang saudara-saudara pikul sekarang.

Ini adalah pekerdjaan jang menghendaki kepada meniadakan diri, meniadakan diri dengan pengertian, membuat sesuatu pekerdjaan hanja karena besarnja kesadaran dan tidak ingin kepada pudji dan pudja. Tjukup saudara-saudara puas dengan mendapat keredaan Ilahi jang Ia-nja melihat usaha saudara-saudara.

Bolehlah saja disini menjatakan kegembiraan hati dan sjukur saja, karena dapat bertemu dengan teman-teman jang meletakkan dasar pikirannja bahwa dalam membangun sesuatu umat, dan membangkitkan tenaga umat, dasarnja harus diatur dengan satu falsafah hidup jang tidak didasarkan kepada kebendaan dan materiil. Djikalau sekarang sebahagian bangsa kita tenggelam dialam kebendaan jang meradjalela, maka saudara-saudara sekarang mentjarikan imbangannja antara kedjajaan djasmani dan kemakmuran batin. Saudara-saudara sedang melakukan pekerdjaan jang bersipat merintis dalam alam perdjuangan ini.

Masih banjak orang jang belum mengetahui, apakah jang hendak ditudju oleh Agama Islam kita ini. Orang masih sering berkata: “Islam adalah agama, jang tempatnja di surau atau di langgar-langgar. Orang Islam itu salat, berpuasa sekali setahun, naik hadji, membajar zakat; hanja itu sadjalah jang dinamakan Islam!” Mereka kurang mengerti, bahwa Islam tidak terbatas hanja sampai di situ sadja. Islam tidaklah semata-mata urusan manusia dengan Tuhan sadja, akan tetapi djuga urusan manusia dengan alam, urusan manusia dengan manusia. Falsafah hidup jang demikian itu, dilupakan kepada keluarga-keluarga jang hanja dihargai menurut titik keringatnja jang keluar waktu bekerdja; keluarga jang dilupakan orang, bahwa dia adalah manusia, bukan mesin; manusia jang hidup dan mentjari penghidupan sebagai kita, manusia jang berpikir dan merasa djuga.

Saudara-saudara akan meletakkan pandangan hidup mereka itu lebih dari pada jang biasa, lebih tinggi nilainja. Mereka tidak hanja bekerdja untuk menutup punggung jang tidak bertutup, bukan bekerdja hanja sekedar mengisi perut jang lapar, tetapi sebagai manusia lain-lainnja djuga untuk mendapatkan budi pekerti dan pandangan hidup jang lebih tinggi. Baik anak-anaknja jang saudara-saudara didik, maupun ibu bapanja jang telah terlandjur dalam masjarakat jang demikian rupa, tetaplah ada tudjuan bahwa mereka harus sedar akan harga dirinja sebagai manusia.

Mereka bekerdja tidak hanja sekedar untuk menutupi keperluan-keperluan djasmani, bukanlah semata-mata merupakan barang dagangan jang dihargai menurut djam dan dihitung dengan sen, tetapi bekerdja itu bagi mereka, dan bagi kita semua, dapat dilihat sebagai suatu alat untuk mengisi batin, ruhani disamping djasmani, sebagai suatu culturele-functie jang mendjadikan manusia itu lebih dari pada hewan. Djikalau kita sudah mengetahui, bahwa Islam adalah sistem kehidupan, sistem pemetjahan soal hidup jang ada di atas dunia ini, djikalau orang telah merasakan bahwa Islam itu adalah untuk kesempurnaan dunia, untuk kesempurnaan masjarakat dan dapat memberikan djiwa kepada pelbagai aspek dalam soal-soal peri kehidupan, — baik di lapangan pembangunan, baik di lapangan politik, maupun di lapangan sosial —,  maka nanti lambat laun orang akan mengerti bahwa Islam adalah suatu ideologi, ja bukan ideologi semata-mata, tetapi djuga adalah suatu falsafah hidup.

Maka djikalau saudara-saudara sudah mulai melangkah kearah demikian, adalah saudara-saudara  telah membawa satu risalah, satu missi jang sutji dalam perlumbaan hidup jang begitu menghebat seperti sekarang, Boleh saudara-saudara menganggap bahwa perbuatan itu tidak berarti, akan tetapi kalau dilihat dalam hubungan jang lebih luas, saudara-saudara nanti akan merasakan, bahwa saudara-saudara  adalah pradjurit dari suatu pekerdjaan sutji jang menghendaki kepada meniadakan diri, jang menghendaki djiwa jang ichlas dan sutji.

Mudah-mudahan apa jang telah ditjapai dalam setahun jang telah sudah, tjukup mendapat perhatian dari masjarakat, dari madjikan-madjikan dan djawatan-djawatan selandjutnja. Saudara-saudara pandanglah semua pertolongan itu sebagai suatu ni'mat Ilahi jang akan saudara-saudara pergunakan sebaik-baiknja. Djika-lau saudara-saudara terus-menerus melakukan tindakan jang demikian itu dengan tidak mengenal tjapek dan tidak mengenal pajah, insja Allah masjarakat akan membantu apa jang saudara-saudara telah kerdjakan.

Terutama boleh saja njatakan penghormatan saja terhadap saudara-saudara jang telah rela mendjadi guru di daerah-daerah jang demikian itu. Mudah-mudahan saudara akan tjukup kekuatan terus dalam menghadapi pekerdjaan itu, walaupun keadaan saudara susah-sulit, tidak tjukup segala-galanja, dan mungkin saudara-saudara harus bekerdja lebih keras dari pada biasa.

Saudara-saudara adalah guru, seorang jang lain dari pada jang lain. Kalau orang bertanja apakah ustaz dan muballigh itu djawabnja, ustaz itu adalah manusia jang biasanja melakukan pekerdjaannja dengan tidak dibajar. Dibajar hanja dengan “lillahi Ta'ala”, dibajar dengan utjapan alhamdulillah. Djikalau ustaz atau muballigh itu di zaman jang lalu memanggil orang untuk bersama-sama mengerdjakan sesuatu pekerdjaan dan memerlukan kepada alat-alat dan materiil, sering kali ia diberikan djawaban kata-kata jang kata orang lebih baik dari pada sedekah, akan tetapi sjukur masih ada machluk jang demikian, machluk jang melupakan kepentingan dirinja sendiri, tetapi mementingkan apa jang perlu dibawanja kepada umat dengan rasa penuh tanggung-djawab, dan ia bersjukur melihat murid-muridnja berguna bagi masjarakat. Lupa ia akan periuknja di rumah jang belum berisi. Ia telah merasa menerima ni'mat jang paling besar apabila ia dapat melihat muridnja mendjadi manusia jang berharga dalam masjarakat. Itulah jang dianggapnja upah setinggi-tingginja!

Akan tetapi djikalau saudara-saudara telah mengirimkan 43 orang guru dan ustaz ke daerah-daerah itu, di samping mendidik mereka itu dengan sipat guru, haruslah djuga dipikirkan agar djangan dibiarkan mereka mendjadi malaikat terus-menerus. Mereka adalah manusia jang memerlukan kepada keperluan-keperluan sebagai manusia biasa. Ini adalah soal jang harus kita perhatikan benar-benar.



(Pidato M. Natsir dalam Resepsi Konferensi Guru Taman Pendidikan Islam, Medan, tanggal 20 September 1951)

Wednesday, March 7, 2012

Arti Nama

Saat menonton pertandingan Indonesia vs Singapura (4/03/12) dalam kejuaraan Hassanal Bolkiah Thropy di Brunei Darussalam, saya melihat papan iklan sebuah bank bernama Baiduri Bank. Baiduri, mirip dengan baizuri, membuat saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang nama dari Baiduri tersebut.

Selidik punya selidik, ternyata Baiduri adalah nama yang jamak di alam melayu. Banyak orang-orang melayu (khususnya Malaysia) menggunakan nama tersebut. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat kosa kata tersebut,
Baiduri : bai-du-ri n batu permata yg berwarna dan banyak macamnya spt -- bulan, -- pandan, -- sepah.

Selama ini saya terlewat untuk mencari makna nama belakang saya dengan mengganti z dengan d. Saya pikir nama saya diambil dari Baidhowi (Imam Baidhowi) atau Baizura (ingat penyanyi Ning Baizura), atau saya pikir nama saya adalah hasil "modernisasi" dari Bajuri, berhubung Ibu saya berasal dari Betawi Kota (Senayan).

Kalau nama depan saya, Reza, merupakan serapan dari persia yang banyak menggunakan nama Reza. Reza diambil dari kata Ridho. Konon orang Iran mengucapkan huruf dho dengan Za. Di Iran ada banyak orang menggunakan nama Reza dan nama Reza paling terkenal di Iran adalah tentu saja Imam Ali Reza rahimahullah atau Imam Ali Ridho, satu dari 12 imam Syiah yang suci. Beliau mungkin diangkat oleh kaum syiah sebagai Imam mereka, namun beliau tetaplah ulama zuriyah keluarga Nabi Muhammad saw dan ulama Sunni yang dijunjung keilmuaan dan kehormatannya. Shallallah ala Sayyidana Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi.

Kebetulan atau tidak beberapa bulan lalu saya sempat dekat dengan orang bernama Galuh yang dalam bahasa Jawa berarti batu permata atau mutu manikam. Sayang kami tidak berjodoh. Semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik. There's no such thing as coincedence.

Syukur alhamdulillah sekarang lengkap pemaknaan dari nama lengkap saya, Reza Baizuri, permata keridhoan. Mestilah saya menjadi hamba Allah yang mempunyai keutamaan akhlak berupa ridho, kerelaan terhadap apa yang telah Dia gariskan. Wallahu a'lam.

Destiny is the prison and chain of the ignorant. Understand that destiny like the water of the Nile: Water before the faithful, blood before the unbeliever.
- Sir Moh. Iqbal rahimahullah -


Berkata Imam Syafi'i...


Bila seseorang menyenangi sesuatu, maka cela dan aib apa saja yang dia temui, dipandang dengan mata yang tumpul.

Bila seseorang tidak menyenangi sesuatu, maka apa saja yang dilihatnya pada orang itu selalu saja dipandang tidak baik.

Aku tidak takut kepada orang yang tak takut kepadaku. Aku tidak memandang kepada orang yang tak memandangku.

Bila anda mendekatiku maka kasihku mendekati anda. Bila anda menjauhiku, anda dapati aku jauh dari anda.

Masing-masing kita terlepas dari hidup saudaranya. Kita bila sudah mati amat tidak saling membutuhkan.

Monday, February 27, 2012

Devolusi Manusia

Sebelum manusia diturunkan ke bumi, sebagai sosok badaniah manusia, mereka telah ada dalam alam sebelum "dunia ini". Dalam Alqur'an dikatakan bahwa manusia-manusia tersebut bercakap-cakap kepadaNya, 
Alastu Birobbikum Qolu Bala Syahidna   
Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul, kami menjadi saksi. (Qs.7 : 172)
Para malaikat, meski mereka sempat protes, diperintahkan untuk sujud kepada manusia sebagai tanda penghormatan. Tuhan memberikan keistimewaan dan pengetahuan kepada manusia untuk kemudian diangkat menjadi wakil-Nya / Khalifah-Nya untuk menjalankan roda kehidupan di alam dunia.
“Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam.” (QS. 2 : 34)
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah..." (Qs. 2 : 30)
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya..." (Qs. 2 : 31)
Ayat-ayat tersebut memberitahukan kita bahwa manusia saat sebelum diturunkan ke alam dunia, telah hidup dan sempurna sebagai mahluk yang memiliki kemuliaan dan keilmuaan istimewa dibandingkan dengan semua mahluk-Nya, hatta malaikat sekalipun. Segala kealpaan, kebodohan, dan kerusakan manusia timbul saat dirinya turun ke alam dunia. Dirinya yang sejati - ruh - terbungkus dalam selimut jasmani-badani yang tercipta dari tanah.
Hubungan antara ruh dengan badan sudah mafhum dikatakan bahwa ruh adalah raja dan badan adalah anggota, ruh adalah "dari-Nya" dan badan dari tanah. Jasad jasmani ini yang seringkali membingungkan manusia dari kembali ke kesejatiannya. Belum lagi lapisan alam dunia dan kehidupan di dalamnya yang makin membingungkan manusia menemukan hakikat dirinya.
"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya."(Qs. 91 : 2)
Devolusi Manusia
Kata dunya yang berasal dari dana mempunyai arti tentang sesuatu yang "dibawa dekat"; jadi dunia adalah apa yang dibawa dekat kepada pengalaman dan kesadaran manusia yang dapat dirasakan dan dipahami. Berdasarkan fakta bahwa apa yang dibawa dekat - dunia - mengelilingi kita, melingkupi kita, hal ini tentu mengalihkan perhatian kita dari kesadaran akan tujuan akhir yang berada disebrang sana, yaitu apa yang datang sesudah itu: al-akhirah. (al-Attas, Islam dan Sekularisme, hal. 56)
Dalam sejumlah ayat dikatakan bahwa dunia adalah tempat sementara dan akhirat adalah tempat kembali, dunia hanya persinggahan dan akhirat adalah tujuan kembali.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Qs. 2 : 156)
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (Qs 89 : 27-28) 
Roja'a atau kembali inilah yang dimaksudkan bahwa sesungguhnya yang manusia harus lakukan adalah devolusi menuju kesempurnaan ruhani. Proses devolusi ini banyak dilakukan oleh agama-agama lain di dunia seperti Hindu, mereka melakukan puasa atau pertapaan untuk mengurangi potensi jasad untuk kemudian menguatkan kesadaran ruhani. Dalam Islam pun dikenal ibadah puasa.
Berbeda dengan agama lain, Islam tidak memandang dunia sebagai sesuatu yang kotor atau profan melainkan dunia adalah perjalanan sejenak yang harus dilampaui, dia adalah kita dengan ayat-ayat menunjuk kepada keberadaan Tuhan, maka perlakuannya tidak dengan menghinakan atau menghindari tapi sebagai washilah mengabdi kepada Tuhan.
Devolusi manusia sesungguhnya merupakan ukuran kemajuan manusia karena yang disebut dengan maju berarti mengindikasikan ada garis tetap yang menjadi acuan kemajuan tersebut. Manusia tidak membutuhkan evolusi karena ia telah sempurna sebagai penciptaan dan kemuliaannya terletak pada ruhnya. Selain itu manusia juga sudah ditunjukkan model paling sempurna dalam berperilaku dan bersikap kepada dunia melalui akhlaq yang ditunjukkan oleh Nabi-Nya, Muhammad saw.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Qs. 33 : 21)
Maka, kemajuan manusia hanya bisa dicapai saat dirinya bergerak menuju mengikuti akhlak Muhammad saw. Shollu 'ala an-Nabi!

Friday, February 24, 2012

Jalan Cinta Elang


Jalan Cinta
Jalan cinta bukan senda gurau dan tawa, melainkan ratap kesedihan. Anggurnya adalah air mata yang bercucuran. Hati para pecinta selalu merindu kehadiran kekasih. Setiap saat ia dirundung cemas, apa yang sedang dipikirkan kekasih? apakah kekasih senang dengan persembahannya? apa kekasih menerima pemohonan maafnya?
Pernahkah kau mendengar bagaimana manusia dari Hijaz terus menangis memohon kebahagiaan ummatnya, sampai ajal menjemput.

Elang
Panjat tebing curam berbatu itu, capai cintamu yang tersimpan hangat dalam dekap elang, pada sarang yang hanya bergantung pada kasihan Tuhan. Rengguk kewibawaan elang. Jadilah kamu seumpamanya. Terbang di luas cakrawala dengan dua sayap kokohmu. Sayap kiri adalah ketakuta dan kecemasan, sayap kanan adalah optimisme dan harapan. Dan terbanglah kemana cinta itu memanggil.
Pun jika kamu gagal, laut siap menerima badan pasrahmu. Satu-satunya alasan mengapa sungai, kali, dan danau memuja laut adalah karena kepasrahannya berada di tempat paling rendah.

Dunia
Dunia adalah hewan buruan, hanyalah permainan bagi kuku-kuku elang. Dunia adalah batu asahan, hantam dngan pedangmu supaya tajam. Cinta membuat bukit Thursina hanya debu. Perbandingan cinta dengan pengetahuan seperti matahari dan lampu jalan. Matahari menerangi seluruh alam dan lampu hanya menerangi jalan-jalanmu.
Dunia hanya penjara bagi para pecinta. Miskinmu jadikan kaya dengan harapan. Dunia hanya debu dan tanah, tapi hatimu tempat besemayam yang Maha Meliputi.

Tuesday, February 21, 2012

Apakah Ada Bedanya


Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
dengan memburu bayang-bayang? 
Sama-sama kosong
Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui

Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
Pikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan pikiranku

Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran

Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima 
aku tak peduli
aku tak peduli
aku tak peduli

Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah? 
Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka 
duka yang tersayat
rasa yang terluka

- Ebiet G. Ade -

Friday, February 17, 2012

Pemanasan Global

Mari singkirkan kabut, mari tembus gelombang, ini saatnya yang muda
ambil peran.
Mari Pulang ke Ladang - Sampak Gusuran
Pada pelajaran Geografi XI kemarin (15/02), saya memutarkan film dokumenter Algore ' The Inconvinienth Truth' - masih setengah jalan. Film ini mengulas tentang kerusakan alam akibat dari pemanasan global yang sedang berlangsung di bumi kita saat ini.

Pemanasan global terjadi karena atmosfir bumi dipenuhi dengan polusi gas CO2 yang menghalangi sinar matahari, yang telah masuk ke bumi, memantul pergi ke luar angkasa. Sinar matahari yang tertahan membuat temperatur di bumi meningkat tajam. Dampak dari bumi yang semakin panas adalah mencairnya es dan pemuaian air besar-besaran yang melebihi kebiasaan abad-abad sebelumnya.

Pemuaian air pada laut membuat atmosfir menampung bulir-bulir air melebihi kapasitas normal, ditambah dengan panas, menyebabkan cuaca rawan badai. Kita sudah melihat berbagai badai yang terjadi sejak abad 21 ini, seperti: badai katrina di Amerika tahun 2005. Pemanasan juga menyebabkan air darat termuai habis. Danau mengering, es pada puncak gunung meleleh, dan tanah kering tandus.

Maka terjadilah paradoks ini, di belahan bumi satu terjadi hujan terus-menerus, sedangkan di belahan bumi lain kering kepanasan.

Di Indonesia, hujan terus turun sampai bulan ini yang seharusnya kemarau. Hujan telah menyebabkan banyak daerah banjir, sebut diantaranya: Jakarta dan Banten. Thailand, India, dan China juga mengalami kebanjiran.

Sulit sekali bisa mengatakan bahwa hujan saat ini membawa rahmah. Bisa jadi hujan sekarang ini seumpama hujan yang diturunkan Allah kepada kaum nabi Nuh as. Na'udzubillah.

Bumi, Polusi, dan Diri

Iqbal menuliskan dalam Javid Namah melalui lisan imajiner Afghani: "apa yg terkandung dalam diri manusia ialah dunia, apa yang terkandung dalam dunia ialah manusia."

Manusia adalah dunia itu sendiri. Dalam dirinya terkandung kompleksitas yg terdapat pada alam semesta. Dan, dunia seperti manusia dimana ia menjadi sebuah kitab hikayat yang mengajari manusia hidup. Pada manusia yang dalam dirinya penuh polusi dosa, apa yang datang dari Tuhannya tak sudi dia lepas lagi. Sebagaimana benda hitam yang tidak mau memantulkan sinar, maka sinar tersebut bertumpuk memenuhi dirinya menjadi panas. Mulai memanasi terus memanasi sampai buminya kering ruhani tapi sekaligus banjir air mata. Mereka dengan mudah mencipta badai marah bingung dan kekecewaan. Na'udzubillah.

Tuesday, February 14, 2012

Pesan Kawan

Pesan seorang kawan wanita yang telah menikah,

Ga usah takut Zur, bahkan semut pun sudah diciptakan pasangannya...
dan inget, apa yg terbaik menurut kita bukan berarti terbaik menurut Allah
yang penting kita harus tetep usaha dan tawakal
......
......
Zur, maaf ya, kalo saran gw terlalu idealis
:)
yang perlu lo tau, setiap pernikahan tu punya cerita perjuangan dibaliknya.... 

Sayang Padaku



Duka derita, duka laraku di dunia
Tidaklah aku sesali juga tak akan aku tangisi
Sesakit apapun yang kurasakan dalam hidupku
Semoga tak membuatku kehilangan jernih jiwaku

Andaikan dunia mengusir aku dari buminya
Tak akan aku merintih, juga tak akan aku mengemis
Ketidakadilan yang ditimpakan oleh manusia
Bukanlah alasan bagiku untuk membalasnya

Asalkan karena itu Tuhan menjadi sayang padaku
Segala kehendakNya menjadi surga bagi cintaku
Bukanlah apa kata manusia yang kuikuti
Tetapi pandangan Allah Tuhanku yang kutakuti

Ada tiadaku semata-mata milikNya jua


Oleh : Novia Kolopaking - Kiai Kanjeng
mp3 : http://www.4shared.com/mp3/xuwwhzlb/KK-Sayang_Padaku.html

Monday, February 13, 2012

Raihanah...

Raihanah.. Raihanah...
Saya menangisi nasibmu...


Sudah rekah tetap terpagar...



Cinta Nabi

Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi

Rasulullah Muhammad saw. menuntut setiap ummatnya untuk mencintai dirinya lebih dari cinta keluarga dan diri sendiri.
La yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilaihi min nafsihi …, “Tidak beriman seseorang sehingga aku (Nabi) lebih ia cintai ketimbang dirinya sendiri…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam bulan rabiul awwal nabi Muhammad saw.dilahirkan dan diwafatkan maka bulan ini disebeut sebagai bulannya Rasulullah saw.

Tidak ada tempat bagiku untuk menangisi hal lain selain menangisi rasulullah dalam bulan ini.
 
Yaa robbi bil-Mustofa balligh maqooshidanaa. Waghfirlanaa maamadho yaa waasi'al karomi.
 Wahai Allah demi Al Mustofa Muhammad saw sampaikanlah maksud dan hajad-hajad kami
Dan ampunilah dosa-dosa kami yang terdahulu wahai yang Maha Luas dan Wahai yang Maha Dermawan

Cinta Terbentur Jarak

Saat cinta mesti terbentur jarak, omong kosong semua cerita tentang teknologi dan globalisasi yang pernah saya ajarkan ke santri-santri saya.

Dunia sejak jaman dulu sudah saling berhubungan antara satu bagian wilayah dengan bagian wilayah dunia yang lain. Romawi dan Persia bermain bidak catur di papan dunia. Masyarakat Eropa Barat selama lebih dari 3 abad menikmati kopi dan cengkeh hasil bumi Indonesia. Teranyar, korporasi memecah bagian-bagian perusahaannya di berbagai belahan dunia, Kantor pusat di Paris, produksi di China, Pemasaran di Singapura, penjualan di Indonesia. Every parts of this world has been held by human hands.

Perkembangan teknologi sebagai tulang punggung dari globalisasi merasuk lebih jauh ke tingkat individu. Kini globalisasi bukan hanya pada tingkat negara atau perusahaan, melainkan mengikat setiap tindakan orang per orang. Setiap orang mampu dan berhak bertindak global pada setiap detik yang ia lakukan. Salah satu trend teknologi yang mendorong ini adalah perkembangan pemanfaatan internet, media social network.

Social network merekatkan semua individu di dunia. Orang dapat dengan segera meneriakkan opininya yang dapat menjangkau orang di seluruh bagian dunia. Orang dapat melihat status orang yang jauh terpisah. dan, orang dapat berkomunikasi secara instan dengan orang dari belahan bumi mana pun.

Naif, saat jarak menjadi kendala bersatunya cinta.

Bahkan dunia saat belum ada teknologi telah mampu berkomunikasi dengan orang yang jauh. Kita mengenal firasat, telepati, santet. Kita pernah mendengar Saidina Umar ibn Kaththab yang memberi instruksi pasukannya yang sedang berperang dengan pasukan persia di daerah Nahawand. Mak Lampir memantau pergerakan musuhnya dengan melihat ke kaca benggala.

Mungkin ini yang disebut technology can't buy a real-touch. Saya percaya ini. Saya orang yang tidak percaya dengan pertemanan Facebook. Tapi dengan Facebook saya bisa ketahui teman-teman saya dalam dunia nyata. Selebihnya saya menggunakan FB untuk membaca opini dan tulisan para aktivis, penulis, dan berita.

Mungkin jarak hanya sebuah alibi untuk menyimpan masalah utama lain, I am to poor to be his son-in-law. Saya harap bukan (cuma) tentang kekayaan, saya harap dia berkeberatan atas perangai saya. Saya harap dia bisa menemukan jeleknya agama saya. Karena hanya dengan itu dia berhak menolak saya.