Monday, December 3, 2012

Sustainability Talk - A Day with Mr. Hassan

Ahad (2/12), bertempat di Jurang Manggu, saya mengikuti bincang-bincang tentang keberlangsungan (Sustainability Talk) dengan dr. Hassan Pedersan (Pengobatan Cina). Seorang praktisi bela diri, dokter herbalis/penegobatan cina, environmentalist, dan lain-lainya sbg seorang yg multi-talenta.

Perbincangan awal beliau membahas ttg krisis yang akan menimpa masyarakat. Dimulai dari krisis energi, krisis pangan, krisis air bersih, dan krisis saling-percaya antar individu di masyarakat. Saya pernah juga mendengar dari politisi, ekonom, aktivis kiri, ulama, dan budayawan ttg krisis akhir zaman yang akan menimpa manusia. Dengan skenario permulaan yang hampir sama, masing-masing memberikan jalan keluar yang berbeda. Sesuai dengan pemahaman mereka ttg realitas dan idealitas. Dr. Hassan memberikan saran bagi setiap individu dalam masyarakat untuk melakukan persiapan menghadapi krisis pada lebel individu dan keluarga. Persiapan yang amat dasar adalah:
1. Air dan Makanan
2. Obat-obatan
3. Keamanan - Bela diri
4. Tempat tinggal

Air dan makanan.
Beberapa perkenalan teknik sederhana yang dapat digunakan secara praktis menampung air dan menanam tumbuhan.
- Water Catchment, sekeliling atap diberi talang dan disalurkan ke satu tangki.
- Swail (betul gak ya tulisannya?), membuat gundukan tanah pada lahan miring untuk menampung air hujan yang turun di daerah yang miring, kemudian dibangun irigsi ke kebun yang kita miliki.
- Aquaponic, membangun kebun atau tanaman di atas akuarium atau kolam.
- Permaculture, satu sistem perkebunan/pertanian yang terpadu, yang melibatkan banyak elemen dan sumber (resources). Salah satu konsep pentingnya adalah redundancy system yakni satu kebutuhan/needs harus dapat dipenuhi oleh berbagai sumber, dan satu sumber dimanfaatkan untuk beberapa kebutuhan. Misal, protein sbg kebutuhan dapat dipenuhi oleh telur ayam dan kacang-kacangan. Ayam sebagai sumber protein juga dapat menghasilkan produk yg bisa dimanfaatkan seperti bulu, daging, kompos, dll.

Keamanan - Bela diri
Beliau menunjukkan beberapa teknik pertanan diri tangan kosong, senjata tajam, sikat gigi, gesper, dan tongkat eskrima. Beberapa prinsip yang tercatat saya yakni, everybody who can walk should learn how to fight, jangan berada di situasi berbahaya (kriminal); kalaupun sdg berada dalam tempat bahaya, usahakan utk tidak terlihat; gunakan desepsi atau distraksi untuk mengalihkan perhatian lawan.

Tempat tinggal
Rumah adalah tempat berlindung terakhir kita. Maka rumah harus dapat menjadi benteng yang semua kebutuhan kita terpenuhi. Semua persiapan di atas dapat dilakukan di lingkungan rumah kita. Aquaponik dapat dilakukan di dalam rumah, permacultre di pekarangan, dan bela diri menjadi satu aktivtas belajar setiap anggota keluarga. Beliau mengenalkan satu sistem rumah earthbag building. Bata diganti dengan kantong beras berisi pasir atau tanah kemudian disusun melingkar seperti rumah eskimo. Kreasi bentuk rumah earthbag bisa dilihat di google. Beberapa manfaat earthbag system (googling_forgot) tahan banjir, tsunami, lahar, dan longsor. Bahan bangunannya jauh lebih (kantong tanah) dan lebih adem dibandingkan semen.

Pembicaraan "formil" selesai pukul 17.00 sore hari. Sedianya, kami akan berlanjut ke Ace Hardware untuk ditunjukkan langsung alat-alat dan trik penggunaannya untuk membuat bearagam pembahasan di atas. Namun apa daya, rumah pertemuan kami berada di komplek yang mudah tergenang banjir. Jadilah kami menyambung dngn pembicaraan santai ttg beragam tema yang akan ditanggapi oleh dr. Hassan dengan amat memuaskan seperti ttg makanan, komputer, pendalaman materi, kesehatan, dll.


Thanks Mr. Hassan who gave us many knowledge and shared your precious experience to us. But a day was not enough. Malang, here I come. Let's act to the better life!

Sunday, November 11, 2012

Padhang Bulan

Cahaya kasih sayang menaburi malam
Hidayat dan rembulan menghadirkan Tuhan
Alam raya cakrawala pasrah dan sembahyang

Yang palsu ditanggalkan, yang sejati datang
Yang dusta dikuakkan, topeng-topeng hilang
Jiwa sujud hati tunduk padamu Tuhanku

Beribu hambamu bernyanyi rindu
Bergerak menari bagai gelombang
Sedih mereka karena dipinggirkan oleh kezaliman
kekuasaan dan kesombongan

Suara mereka merobek langit
Bergolak sunyi mereka semua
Waktu berhenti alam menanti
Tuhan Kekasih akan mengakhiri

Tumbuhnya kesadaran karena kejernihan
Bangkitnya kekuatan karena kebersamaan
Orang-orang berkumpul bergandengan tangan

Lahirlah-lahirlah lahir kembali
Bangunlah bangunlah bangun kembali
Mengumpulkan kepingan kepingan saudaramu
yang ditinggalkan oleh kemajuan

Kekasih mendampingi setiap langkah
Pada laparmu cinta-Nya melekat
Tataplah wajahnya, hatimu pun cerah

Lihatlah-lihatlah mentari baru,
yang terbit dari dalam tekadmu
Sesudah senja di ujung duka,
nikmatilah mengalirnya cahaya


===
Judul: Padang Bulan
Lirik: Emha Ainun Najib
Vokal: Franky Sahilatua
Album: Perahu Retak
Ost.: Rayya; Cahaya di Atas Cahaya

Moga Kerinduan Menjadi Doa



Moga kerinduan yang hadir dalam lisan hamba menjadi doaku, ya Allah!
Moga seumpama lilin hidup hamba menjadi, ya Allah!

Moga kegelapan dunia sirna melalui perantara hidup hamba!
Moga setiap tempat bercahaya dengan kilau cahaya hamba!

Moga tanah air hamba melalui diri ini mencapai keagungan
Sebagai taman dengan bunga mencerap keanggunan

Moga hidup hamba bagai ngengat, ya Allah!
Moga hamba mencintai pelita ilmu pengetahuan, ya Allah!

Moga membantu si miskin jalan hidup hamba menjadi.
Moga menyayangi yang tua, beban jalan hamba menjadi.

Ya Allah! Lindungi hamba dari jalan-jalan kejahatan
Tunjukkan hamba jalan menuju jalan-jalan kebaikan.

Moga kerinduan yang hadir dalam lisan hamba menjadi doaku, ya Allah!
Moga seumpama lilin hidup hamba menjadi, ya Allah!


*Terjemah bebas Lab Pe Aati Hai Dua Verses karya 'Allama Muhammad Iqbal oleh Reza Baizuri
 **Doa ini banyak dinyanyikan oleh anak-anak sekolah Pakistan. Ini ditulis oleh penyair, pemikir, dan ideolog Muslim Pakistan Allama Sir Muhammad Iqbal. Doa ini telah dinyanyikan oleh berbagai penyanyi dan sangat menginspirasi banyak orang.

Saturday, September 1, 2012

Waktu

Waktu pada jam adalah detik-detik yang berjalan | waktu pada manusia adalah rangkaian dari amal ke amal.
Harta para pemuda adalah idealisme dan keyakinan. Uji, tempa, gosok dengan waktu dan realitas agar didapat perhiasan berkilauan.
Bagi yang ingin bertemu dengan masa lalu, sila datang pada pintu kematian.
Waktu adalah bagian dari penyelesaian. Siapa yg tidak mau bersabar dengannya, sila pindah ke dimensi lain yang tidak terikat olehnya (mati).
If time is money, is ATM time machine? ATM = Automatic Time Machine / Anjungan Tempo Mandiri
Al-waqtu ka saifi in lam taqto' qoto'aka | Waktu itu laksana pedang bila kamu tidak bisa mempergunakannya maka pedang itu akan menebas lehermu 
Waktu dibagi tiga: lalu, sekarang, akan datang. Yang lalu sudah terlewat, tak ada lagi yang bisa kita perbuat untuk mengusik. Yang akan datang dibagi 2: pasti datang dan pasti kita hadapi, dan yang nisbi-tak tentu datang. Maka, perbuatlah yang sekarang untuk songsong yang pasti datang dan kita hadapi, yang nisbi biar sambilan.
I'mal li dunyaaka ka- annaka ta'iisyu abadaa, wa'mal li-aakhirotika ka-annaka tamuutu ghodaa | Beramallah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati besok.  

Thursday, August 30, 2012

Galau Syariah

Membaca kembali, "Keajaiban Surat Cinta; Kisah Para Pejuang Muslim yang Mengambil Energi Cinta dari Istri dan Anak Mereka" edisi khusus Majalah Tarbawi, 2005. Mengapa waktu kali pertama baca biasa saja, dan sekarang menjadi sangat istimewa. Menangkap isi buku sangat tergantung keadaan ilmu, emosi, dan jiwa pembaca. 

Pejuang-pejuang kemerdekaan, para Founding Fathers, mempunyai kapasitas intelektual yang tinggi, pandai bergerak dalam organisasi, dan berkontribusi-beramal nyata yang amat besar nilainya. Namun dalam hidup berumah tangga mereka hidup sangat sederhana. Berpindah dari satu rumah ke rumah. Tak berharap imbalan dunia utk segenap pengorbanannya.
Sungguh terbalik kini. Saat anak2 diajarkan hidup, dia diajari u
ntuk menghindari kepayahan hidup dan bukan untuk membela kebenaran/keadilan demi agama dan bangsa. Saat laki-laki melamar gadis pujaannya, mereka dituntut mempunyai dunia dalam ketiaknya, dan bukan idealitas menjalani hidup. Anak gadis hanya diajarkan bagaimana menikmati hidup dan bukan menjadi penyokong suaminya bersabar dalam berjuang.
 
Pedang diasah agar tajam, permata harus terus digosok agar berkilau, otot tubuhmu terbentuk karena latihan fisik, akalmu pandai karena terus berlatih berpikir, maka perasaan semakin halus dengan deraan ujian yang dihadapi | Dan siapakah yang mempunyai perasaan yang paling halus selain Nabi yang yatim, yang didera ujian keimanan setiap waktu, sehingga kasih sayangnya masih bisa kita rasakan sampai saat ini.
 
Bicara cinta dan perjuangan bisa bikin hati galau tingkat dewa. Kan repot klo siang-siang begini, tiba-tiba fana' dan ekstase. Bisa-bisa laku sarengat / amal syariat di siang hari kebablasan. Heuheu...
 
Dari yakinku teguh | hati ikhlasku penuh | akan karunia-Mu | ..... | ..... | syukur kami sembahkan | kehadirat-Mu Tuhan.
 
“Wahai para pemuda, barang siapa yang memiliki kemampuan, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhori-Muslim)
Dengan hadits ini imam Nawawi rah. menjalani puasa setiap hari kecuali hari yang diharamkan.
Pilih mana?
 
Nabi memberi mahar kepada Khadijah berupa onta merah sebanyak 40/100. Syukur, beliau adalah Nabi yang pengertian, diajarkannya para muslimah untuk merendahkan mahar demi memuliakan diri. Laki-laki meski tidak dituntut macam-macam oleh Nabi, tapi semulianya laki-laki adalah yang memuliakan perempuan dengan mahar yang terbaik. Dua pihak ini akan bertemu pada titik keseimbangan pasar (E) jodoh. *nah lho jadi kurva S/D
 
1 + 1 = 1
Iini matematika perkawinan, ceunnah.
Baik laki-laki dan perempuan akan "dipaksa" untuk menanggalkan 1/2 ego untuk dapat menyesuaikan diri terhadap pasangan masing-masing, menjadi 1 agama, 1 cita-cita, 1 rumah tangga, ceunnah. Deagan demikian wajah suami dan wajah isteri akan menjadi mirip, ceunnah
 
Dalil pada status sebelum ini adalah salah satu penafsiran Buya Hamka tentang "nafsun wahidah",
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, lalu menciptakan darinya pasangannya... (4 : 1)
Manusia tadinya satu, lalu diambil dari rusuknya satu menjadi pasangannya. Manusia serasa tidak lengkap jati dirinya sebelum kembali bersatu.
 
Mau berbicara tentang hubungan peran suami dan isteri, tapi takut sok tahu. Saya bahas langsung dari masalah saja. Idealisme sesuatu kadang jadi momok.
 
Di sepanjang jalan Sukabumi-Ciawi banyak macam pabrik di pinggir jalan. Setiap sore ramai buruh perempuan pulang kerja, sedang si laki-laki hanya jadi penjemput yang menunggu depan gerbang. Apa boleh begitu? Keringat perempuan lebih banyak keluar daripada laki-laki untuk menghidupi keluarga.
 
Seperti petani yang menanam di bumi. Petani yang mendatangi, menanam, dan memupuk. Sang bumi yang akan menjaga benih dengan baik, melindungi setiap saat, mengajari benih menjadi pribadi baik. Kokohnya pohon manusia tergantung dari interaksi petani dan bumi.
 
Sudah, sudah. Ini cuma utang posting hari sabtu bertema Galau Syariah. Saya ketiduran dengan nyaman melewati malam minggu. Hhh... Di Indonesia semua aspek dari ekonomi, bank, bunga, Hp, simcard, semua ada label syariah. Masa' galau gak bisa bersyariah.      
 
 
    

Wednesday, August 22, 2012

Imho, Pilgub DKI Jakarta

Sudah hari ke-3 Syawal. Mau ngomongin Pilgub DKI Jakarta. Maaf kate kalo mesti sedikit maki sini dan maki sana.

Jangan terjebak pada kalimat, koalisi partai vs koalisi rakyat. Jokowi dan Foke sama-sama diusung partai. Situasi sekarang lebih tepat dikatakan sebagai koalisi partai vs koalisi media. Semua media mendukung Jokowi. If media is all you have, you have all you need.

Adakah yang masih belum bisa membedakan siapa yang mempunyai karakter kepemimpinan dan profesionalitas antara Jokowi dan Foke? Yang belum tahu coba googling sendiri. Tapi kira-kiranya, menurut saya, hampir semua sepakat Jokowi unggul dalam hal tersebut dari Foke.

Maka pemilihan bukan lagi soal bagaimana kita menaruh pemimpin yang terbaik tapi hanya berkisar melanggengkan kekuasaan. Semua partai yang ada (kecuali PKS) adalah pendukung Foke pada saat Pilgub 2007. Anehnya, PKS mengapa ikut-ikutan mendukung? Pilihan ini membuat sy gak habis pikir. Kok bisa? Kok bisa? Kok bisa?

Selain tentang kekuasaan, Pilgub DKI bercampur isu SARA. Ini mencuat karena salah satu Cawagub ada yang beretnis dan beragama lain. Basuki T Purnama (Ahok) adalah orang Cina dan Protestan.
Saya orang yang peduli kepada agama, dan sy juga hanya akan memilih pemimpin yang beragama sama dengan saya. Baik Foke dan Jokowi merupakan muslim, apa masalahnya untuk memilih satu di antara mereka?

Kubu Foke mengkampanyekan SARA ke kubu Jokowi. Mengapa PKS malah ikut polarisasi (hitam-putih) itu? Menurut saya, ini bisa membuat dakwah mati langkah. Bayangkan jika Jokowi menang, maka mereka bisa mengklaim kemenangan "mereka" sendiri. Kemudian berucap, "Jangan pade ikut campur program kami".

Tentu saja polarisasi hitam-putih itu tidak saklek benar. Di partai pengusung Jokowi ada pengurus muslim yang masih punya kepedulian terhadap agama. Di kubu foke juga ada orang-orang kafir yang mendukung. Nah, klo PKS ke Jokowi akan bisa mengklaim berkontribusi kemenangan dan lebih bisa menjaga perumusan kebijakannya.

Perihal makar besar di balik Jokowi-Ahok. Jangan ada yang sok tahu deh bisa melindungi ummat Islam dengan tangannya sendiri. Ummat ini dijaga oleh Allah. Kita disuruh berbuat sebaik semampu kita dlm batas-batas kejujuran, keadilan. Foke itu jujur dimananya? Amanah apanya? Kok masih dibela? Saya mendukung Jokowi agar pengelolaan Jakarta bisa lebih tepat sasaran kena ke rakyat Jakarta. Tentang makar, kita berserah pada Allah yang punya makar lebih hebat.

Di Jakarta masih banyak ulama, habib, ustadz. Semua bebas dan aktif berdakwah, maka Allah mesti akan melindungi kota ini. Yang jadi masalah adalah orang muslim itu sendiri yang mengelola Jakarta dengan sembarangan. Maka selama ia muslim, pilihlah yang lebih amanah, profesional, pekerja keras.

Sudah. Sesungguhnya kebingungan melangkah, kebingungan memilih, sudah terjadi sejak awal jauh sebelum penetapan calon Pilgub. Sejak kita bingung memilih dasar negara, bingung dengan jati diri bangsa ini.

Saya inget jaman masih ikut halaqoh di Rohis (gak usah sebut harokah) perkataan alm. Hasan al-Banna,
“Wahai Ikhwan, silahkan angkat orang yang paling lemah, kemudian dengar dan taatilah dia, niscaya ia akan menjadi orang yang paling kuat diantara kalian.”
Saya yakin lemah yang dimaksud bisa dalam keahlian atau karakter. Lemah pasti bukan dalam cacat moral, tidak jujur, dan kejahatan lain yang dilakukan secara sengaja.

Thursday, August 16, 2012

Menanti Seorang Kekasih

Wahai seorang kekasih
Telah lama kau dirindui
Rindu sedih dalam kerinduan
Menangis pun tak berair mata
Tapi terus tetap bersabar
Kerana ikatan janji

Menunggu dengan rindunya
Siksanya sebuah penantian
Wujud janji Allah tetap benar
Dinanti tetap kau kan tiba

Hadir segera wahai kekasih
Datang bersama cahaya
Gembira di hati tidak terkira
Bukan kusorak malah seluruh walah

Wahai seorang kekasih
Telah lama kau dirindui
Rindu sedih dalam kerinduan
Menangis pun tak berair mata
Tapi terus tetap bersabar
Kerana ikatan janji

Penantian hampir kan berakhir
Kerana kini sudah masanya
Bila saja kita berjumpa
Pasti Islam agung semula



- The Zikr -

Friday, July 27, 2012

Pemuda Pohon dan Gadis Api

Gadis Api itu menyala cerlang
Menari-nari senantiasa kesana kemari
Utara, timur, selatan, barat,
gelora gadis itu berkelana mengenal dunia
Membakar apapun yang ia temui,
tanaman, buku, bangunan dan bahkan jiwa manusia. 
Dia pelajari setiap hal sampai ke abu-abunya.

Pemuda pohon asyik bermain dengan kelinci, burung, dan ulat
Kaki-kakinya terbenam dalam bumi

Termenung dan termangu yang ia bisa

Mana kenal dia dengan dunia yang terus berubah
Pikirannya hanya tentang sari-sari kehidupan yang diserap dari akar


Satu kesempatan mereka bertemu
Gadis api melintasi hutan tempat pemuda pohon berdiam
Pemuda melihat Gadis coba memamah ranting

"Hei jiwa yang bergelora di sana, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Pemuda Pohon
"Aku jiwa pengembara, mempelajari dunia adalah pekerjaanku" jawab Gadis Api
"Ini adalah hutan kebijaksanaan. Tidak ada yang bisa kau dapatkan dengan membakar"
"Apiku menyala-nyala. Tidak ada mahluk di bumi ini yang tidak mampu aku pelajari dengan membakar" 
"Apakah sama abu dengan serat kayu? Apa jiwa dapat berbicara di tubuh yang hangus?"
"Apa yang bisa dilakukan api selain membakar?"
"Seperempat abad saya berkelana dan hanya menemukan ambisi"
"ular yang selalu ingin tampil cantik dengan mengganti kulit,
ulat yang menipu mata menjadi kupu-kupu
manusia yang menutupi jiwanya dengan harta dan emas" 


Ucap Pemuda Pohon,
"Perubahan adalah suatu ketetapan,
bahkan batu yang hanya bisa diam mengalami siklus.
Jiwa pelakunya yang membedakan."

"Tapi tidak dengan kau? Diam di sana. Dari tunas sampai menjulang sekarang, kau tetaplah kayu"
Apa yang kau tahu tentang dunia dan ketamakannya?"


"Kami mungkin tidak mengenal angin perubahan, tapi kami tahu asas setiap kehidupan"



'"Kemari dan mendekatlah! Akan kutunjukkan kedamaian untukmu."

Pemuda Pohon mendekap Gadis Api
"Masuklah dalam setiap selku dan temukan jiwaku terdalam di bumi"


Saat Gadis Api menyelimuti Pemuda pohon,
Pemuda Pohon mengubur dirinya dalam bumi sampai tertutup semua batangnya.

Dalam perut bumi,
Dalam dekapan panas bara api,
Perpaduan mereka mencipta intan.




*G

Saturday, July 21, 2012

Layla dan Majnun


Kisah dua sejoli paling masyhur di muka bumi ini. Percintaan keduanya dikenal oleh manusia di semua penjuru dunia. Di tangan Shakespeare kisahnya berubah menjadi Romeo dan Juliet. Rumi menjadikannya sebagai bagian bahan dari Masnawinya.

Layla dan Majnun menggambarkan hubungan Kekasih dan Pecinta. Menjadi pecinta adalah jalan mendaki dan berduri. Napasnya berat menangung aroma cinta. Langkahnya seok menahan setiap duri mawar yang bertebaran di jalan. Oh, siapakah yang paling malang di dunia ini selain Pecinta? Dunia adalah penjara para pecinta.

Kekasih adalah pihak yang menerima cinta. Tiada yang sulit baginya. Pandai-pandailah memilih kekasih. Hanya pada mereka yang tahu berterimakasihlah hendaknya kau serahkan cintamu.
Pecinta menanamkan mawar, dan kekasih menyiramnya.
Pecinta melesatkan anak panah, dan angin kekasih membimbingnya
Pecinta awan yang menangis, dan kekasih memberinya pelangi

Cinta agung dan mulia. Siapa yang mengharapkan berjumpa dengannya siap-siap menjadi Majnun. Kepada Laylamu yang sejati, darah dan air mata perhiasan cintamu.

****

Mengawali Ramadhan dengan menghabiskan novel Layla dan Majnun karangan Nizami Ganjavi (Pengantin Surga. Penj, Salahuddien Gz. 2012. Jakarta: Dolphin), sungguh satu pelajaran berharga untuk meresapi ibadah dalam hati saya. Layla dan Majnun adalah satu cerita penuh hikmah jalan cinta para sufi.
Majnun adalah representasi dari orang-orang yang mencinta. Cinta bagi orang-orang yang betul-betul mempunyainya adalah kegilaan.
Layla bisa siapa pun orang yang kita cintai. Tapi Layla yang sejati hanyalah Pencipta Cinta itu sendiri. Dialah yang sejatinya merawat cinta para pecinta. Setia memegang amanah cinta dan menyiramkan lebih banyak bahan bakar cinta kepada para pecinta.

***

Dan siapakah diriku, yang jauh namun dekat darimu?
Aku pengemis yang menyanyi! Layla, kau mendengarku?
Terbebas dari putaran hidup yang membosankan,
Bagiku kesunyian dan kesedihan adalah kebahagiaan.
Kehausan di arus duka kegembiraan, aku tenggelam.
Wahai anak mentari, aku menderita di malam hari.
Walau terpisah, dua jiwa kita berpadu abadi,
Sebab milikku adalah milikmu, menyatu di dalam hati.


Kita adalah dua teka-teki bagi dunia.
Meski desah dan keluhan berasal dari dua bibir kita,
Sesunguhnya itu berasal dari satu mulut saja.
Bila pisau perpisahan membelah kita menjadi dua,
Satu cahaya kemilau menyelimuti kau dan aku,
Seperti dari alam lain, walau terhalang oleh waktu.

Meski di sini terpisahkan, di sana kita satu adanya.
Bila tubuh-tubuh yang putus asa terpisah,
Jiwa-jiwa bebas mengembara dan bercengkrama.
Aku akan hidup abadi, dan Malaikat Maut sendiri,
Tak lagi berkuasa mengndalikan jiwaku ini.
Bersama dirimu dalam kekekalan,
Aku hidup hanya bila kepadaku napasmu kau tiupkan.

***

A scene from Nezami's adaptation of the story. Layla and Majnun meet for the last time before their deaths. Both have fainted and Majnun's elderly messenger attempts to revive Layla while wild animals protect the pair from unwelcome intruders. Late sixteenth century illustration.
Sepasang kekasih berbaring di pusara ini,
Menanti kebangkitan dari rahim kegelapan.
Setia dalam perpisahan, setia dalam cinta,
Sebuah istana menanti mereka di alam sana.

Thursday, July 19, 2012

National Orchid Garden

National Orchid Garden



Longing for someone....


Together with families...




And many more....

Monday, July 9, 2012

Piagam Jakarta

Tulisan ini bukan analisa penulis, hanya merupakan catatan kecil dari buku yang saya baca yakni, "Status Piagam Jakarta, Tinjauan Hukum dan Sejarah. Ridwan Saidi. Jakarta. NaHMIlub: 2007

Piagam Djakarta atau Jakarta Charter adalah satu peristiwa penting dalam sejarah lahirnya bangsa Indonesia.sebagai sebuah negara. Piagam Djakarta lahir pada tanggal 22 Juni 1942 sebagai hasil dari perundingan "panitia kecil" yang ditugaskan oleh rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) untuk menyusun persoalan mendasar berkaitan dengan Hukum Dasar atau Undang-undang Dasar. Anggota tersebut adalah:
1. Ir. Soekarno
2. Drs. Moh. Hatta
3. Mr AA Maramis
4. Abikoesno Tjokrosoejoso
5. Abdoel Kahar MOezakkir
6. H. Agoes Salim
7. A. Wachid Hasjim
8. Mr. Achmad Soebardjo
9. Mr. Moh Yamin
Hasil dari diskusi "Panitia kecil" tersebut adalah apa yang disebut sebagai Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Berikut bunyi lengkapnya:

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan .
Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia yang bersatu , berdaulat , adil dan makmur .
Atas berat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur supaya berkehidupan berkebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya .
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesian yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum , mencerdaskan kehidupan bangsa , dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan , perdamaian abadi dan keadilan sosial , maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk - pemeluknya , menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab  , persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia .

Teks redaksional di ataslah yang seharusnya menjadi pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Dilalah, pada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945, tujuh kata "dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk - pemeluknya" dicoret dalam UUD 1945 yang disahkan.

Pencoretan tujuh kata tersebut membawa kekecewan besar oleh para tokoh dan ulama Islam dan mengakibatkan kekisruhan berkepanjangan. Meskipun Piagam Jakarta tidak serta merta menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, namun dengan adanya piagama Jakarta menjamin para pemeluk agama Islam untuk dapat menjalankan syariat agamanya. Hal ini mempunyai akar sejarah dalam Undang-undang Hindia Belanda (Indische Staatregeling Tahun 1925 juncto Regeerings Reglement pasal 173 yang berlaku sejak 2 September 1855) yang juga mengakui Hukum Islam sebagai hukum yang berlaku untuk para pemeluknya 

Sejak pencoretan tersebut, Piagam Jakarta tak lebih hanya menjadi dokumen sejarah atau bisa juga sebagai dokumen politik dari perjuangan politisi Islam dalam memperjuangkan Dasar Negara yang sesuai syariat. Kemudian Piagam Jakarta mendapatkan tempatnya kembali sebagai Dokumen hukum sebagai konsideran juridis atau dasar hukum setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959. Berikut bunyi lengkap dekrit tersebut:

Keputusan Presiden Republik Indonesia
No. 150 Tahun 1959
Dekrit
Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang

Tentang

Kembali Kepada Undang-undang Dasar 1945

Dengan Rakhmat Tuhan Yang Maha Esa
Kami Presiden Republik Indonesia/ Panglima Tertinggi Angkatan Perang

Dengan ini menyatakan dengan khidmat:
Bahwa anjuran Presiden dan Pemerintah untuk kembali pada Undang-Undang Dasar 1945, yang disampaikan kepada segenap rakyat Indonesia dengan amanat Presiden pada tanggal 22 April 1959, tidak memperoleh keputusan dari Konstituante sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Dasar Sementara;
Bahwa berhubung dengan pernyataan sebagian terbesar Anggota-anggota sidang pembuat Undang-undang Dasar untuk tidak menghadiri lagi sidang, Konstituante tidak mungkin lagi menyelesaikan tugas yang dipercayakan oleh Rakyat kepadanya;
Bahwa dengan dukungan terbesar Rakyat Indonesia dan didorong oleh keyakinan Kami sendiri, Kami terpaksa menempuh satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Negara Proklamasi;
Bahwa Kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut;

Kami
Presiden Republik Indonesia/ Panglima Tertinggi Angkatan Perang
Menetapkan pembubaran Konsituante.
Menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai hari tanggal penetapan Dekrit ini, dan tidak berlakunya lagi Undang-undang Dasar Sementara.
Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang terdiri atas anggota-angota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan. Serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara, akan diselenggarakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 5 Juli 1959
Atas nama Rakyat Indonesia
Presiden Republik Indonesia/ Panglima Tertinggi Angkatan Perang

Sukarno

Dengan Dekrit Presiden tersebut maka kedudukan dari "tujuh kata" mendapatkan tempatnya kembali. Menurut Perdana Menteri Djuanda:

Pengakuan adanya Piagam Djakarta sebagai dokumen historis bai pemerintah berarti pengakuan pula akan pengaruhnya terhadap UUD 1945. Jadi pengaruh termaksud tidak mengenai Pe...mbukaan UUD 1945 saja, tetapi juga mengenai pasal 29 UUD 1945, pasal mana selanjutnya harus menjadi dasar bagi kehidupan hukum di bidang keagaman.
Yaitu dengan demikian kepada perkataan "Ketuhanan" dalam Pembukaan UUD 1945 dapat diberikan arti "Ketuhanan, dengan kewajiban bagi umat Islam untuk menjalankan syariatnya." Sehingga atas dasar itu dapat diciptakan perundang-undangan bagi para pemeluk agama Islam, yang dapat disesuaikan dengan syariat Islam.

Kesimpulannya, mari kitabersama-sama memperjuangkanhak ummat Islam yakni menegakkan syariat di bumi Indonesia secara konstitusional sebagaimana para pendahulu kita memperjuangkan syariat ke dalam dasar negara ini.

Monday, June 25, 2012

3 Kenikmatan Terbesar

Rasulullah  bersabda, "Ada dua nikmat dimana manusia banyak tertipu karenanya, yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan"  (HR Bukhari)

Menurut saya dua kenikmatan yang disebut oleh baginda Muhammad saw merupakan dua nikmat terbesar di dunia ini.

Kesehatan adalah pokok kehidupan. Siapa manusia di bumi ini yang dapat menikmati makan, permainan, dan kekayaan saat dirinya sakit? Tidak ada. Kesehatan memungkinkan kita untuk berjalan menikmati hidup di dunia.
Kesempatan atau waktu luang, ini kenikmatan yang sangat absurd yang hanya bisa dinikmati orang yang mengerti akan hakikat hidup dan tujuannya. Definisi kesempatan dan waktu luang pun bisa berbeda-beda menurut orang. Pengertian sederhana dari waktu luang adalah keleluasaan waktu untuk diisi oleh kegiatan yang kita kehendaki.

Setiap orang menginginkan kedua nikmat tersebut, tapi kenapa orang yang mempunyainya malah tidak memanfaatkannya dengan baik? tertipu kata Rasul. Bagi saya ini karena orang gagal memahami kenikmatan utama (the ultimate pleasure) yakni nikmat Iman.

Iman adalah mutiara di dalam hati manusia yang meyakini Allah maha esa mahakuasa. Iman adalah anugerah Allah swt kepada hambaNya. Iman bisa didapat dari jalan lingkungan (lahir, tumbuh pada lingkungan beiman) dan dapat lahir dari akal sehat, usaha intelektual mencari iman. Mengimani Allah adalah kebenaran dan kebenaran adalah daya hidup bagi akal.

Dengan iman, kita percaya bahwa Tuhan sebagai realitas utama (wajibul wujud), sedang manusia hanya realitas nisbi (mumkinul wujud) berada pada kuasa Tuhan. Manusia yang beriman dapat dengan mudah menjawab tiga pertanyaan besar (uqdatul kubro) kaum filosof, dari manakah manusia dan kehidupan ini, untuk apa manusia dan kehidupan ini diciptakan, Akan kemanakah manusia dan kehidupan ini.
Setelah menjawab ketiga pertanyaan tersebut baru kita dapat menentukan aktivitas yang tidak menipu dalam memanfaatkan nikmat sehat dan nikmat waktu luang.

Salah satunya seperti ini,
Muslim percaya bahwa rezeki datangnya dari Allah, bukan dari pekerjaan yang dia lakukan. Saat dia menganggur belum dapat pekerjaan, dia tidak akan cemas akan hal itu. Karena dia tahu, dia hanya diberikan waktu yang lebih luas untuk dapat melakukan aktivitas yang diinginkannya. Maka dalam menganggurnya itu dia memanfaatkan waktu dengan kegiatan positif yang bisa dia lakukan. Dari kegiatan-kegiatan positif itu insyaAllah akan dibalas oleh Allah dengan memberinya rezeki minimal untuk menegakkan tulang punggung melakukan kegiatan positinya kembali. Itu minimal. dan Allah tidak pernah memberi balasan hambanya dengan pas-pasan. Maka bagi saya, menganggur adalah soal mental.

Saturday, May 19, 2012

Shalawat Tarhim

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu

Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm
Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh

Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în


Artinya
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik

Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi

Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu
dan engkau menjadi imam

Engkau diberangkatkan ke Sitratul Muntaha karena kemulianmu
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah

Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu

Wednesday, May 16, 2012

Ibuku


Ibu,
Jiwa dan hidupku,
Kebahagiaan dan harapanku,
Sekarang dan masa akan datang,
(Terjemah lirik lagu Ummi karya Haddad Alwi)

Gambar di atas adalah foto masa kecil ibu saya, Hikmawati binti Nur Ali bin Zawawi. Beliau anak betawi asli dari ayah, kakek dan buyutnya. Ibu merupakan anak tunggal dari Buya (Sebutan kakek saya Nur Ali rahimahullah) dari Isteri pertama. Pernah menjadi rebutan pengasuhan antara kedua orang tua yang bercerai. Ibu tetaplah anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Sebagai anak pertama, ibu dituntut untuk membantu semua adik-adiknya berjumlah 11 orang (1 dari Isteri kedua, ceria dan 10 dari Isteri ketiga). Menurut penuturan Ibu, beliau adalah anak yang paling diandalkan dalam urusan membantu rumah tangga. Alhamdulillah, beliau tetap bisa menyelesaikan belajar di SMA/MA Daarul Rahman pimpinan KH. Syukron Makmun, Senayan.

Ayahnya, Buya Nur Ali, merupakan anak betawi yang taat ugame. Biar banyak mainnya, namun beliau tetap berusaha ngaji dengan para habaib di kampung Betawi (Jakarta), salah satunya adalah Habib Naufal bin Salim bin Jindan rahimahullah. Meski Buya berasal dari keluarga berkecukupan (untuk tidak dibilang kaya) namun kehdupan tetap berjalan sederhana. Saya ingat rumah senayan bukan rumah gedong tapi rumah dengan satu tingkat yang cukup luas dengan beberapa kolam ikan. Selepas gusuran dan pindah ke Setu Babakan, baru beliau membangun rumah tingkat beserta rumah-rumah sederhana untuk anak-anaknya. Inilah Betawi, selama orang tua masih ada, mereka gak segen bantu anak-anaknya.

Beberapa orang mungkin menjadikan ini, bantuan orang tua ke anak, sebagai alasan mengapa betawi disangka malas-malas dan gagal dalam pendidikan atau ekonomi. Menurut saya tidak sama sekali. Pandangan tersebut hanya untuk orang-orang picik yang tidak mengenal siapa-siapa orang betawi. Mereka tidak tahu bahwa Husni Thamrin, Ismail Marzuki, Si Pitung adalah orang betawi. Ulama-ulama para pimpinan sekolah atau pesantren juga banyak berdarah betawi. Adik-adik ibu saya lain Ayah banyak yang bekerja di perusahaan asing, dosen di kampus UI, dan lain-lain.

Menikah di usia (??) dengan pemuda rantauan Aceh yang tinggal dekat rumah. Ibu sempat merasakan kemudahan ekonomi saat Ayah masih bekerja di Bank BDN untuk 3-4 tahun ke depan. Saat saya lahir ke bumi, Ayah sudah tidak lagi bekerja di BDN, pindah ke bisnis kayu. Pada tahun 1989, rombongan keluarga Buya Nur Ali pindah ke Setu Babakan, Jagakarsa. Kehidupan ekonomi keuarga kami makin buruk karena bisnis Ayah di Kalimantan bangkrut kena tipu. Pada fase inilah, Ibu mengambil peranan penting dalam kehidupan keluarga kami.

Ibu adalah orang yang paling berperasaan di dunia ini. Beliau selalu memperhatikan keadaan anak-anaknya, apa sudah mandi, makan, dan tidur. Ibu rumah tangga andalan yang selalu menjaga kebersihan rumahnya, menyiapkan makan semua nggota keluarga, dan setiap keperluan sekolahnya dipersiapkan. Semua dilakukan dengan sigap tanpa marah-marah dan tanpa pamrih.  Jika dalam beberapa hari Ayah pulang tanpa bawa uang, beliaulah yang segera mencari akal agar anak-anaknya tetap makan dan pergi sekolah. Beliau selalu ada saat anaknya membutuhkan. Berperasaan dan sentimentil. Beliau suka sedih kalau melihat anaknya lapar atau tidak ongkos untuk sekolah. Kadang beliau juga tiba-tiba sedih kalau makanan yang sudah dimasak tidak dimakan anaknya.

Konon, saat kecil, saya adalah anak yang paling tidak tahan lapar. Setiap terasa lapar, saya akan menangis. Kalau sudah menangis, hanya dengan selembar seratus rupiah saya akan diam. Jangan tanya saya tentang itu, saya tidak tahu. Itu kata Ibu dan kakak saya. Pernah satu hari, saya disuruh untuk membeli telor atau beras ke warung Euce depan rumah dengan uang Rp. 10.000. Sayangnya, di warung barang yang mau dibeli sedang habis, saya pun balik dengan tangan kosong. Saat diminta kembali uang tersebut, hilang, tidak ada di tangan dan kantong baju atau celana. Sontak saja Ibu marah sejadi-jadinya karena uang tersebut adalah satu-satunya untuk beli beras/telor untuk beberapa hari ke depan. Alhamdulillah, sebelum kemarahan menjadi begitu besar, Buya keluar dan membela saya dengan mengganti uang tersebut.

Ibu juga orang yang suka ingin tahu kegiatan anaknya di sekolah. Jangan coba-coba bawa barang macam-macam di tas, pasti Ibu akan tahu. Seperti kejadian dengan Abang saya. Saya lewati bagian ini. Juga dengan saya. Ibu tahu siapa gadis yang saya suka di sekolah. Satu jenjang sekolah cukup satu. Memang keluarga saya adalah keluarga terbuka yang biasa melakukan diskusi antara orang tua dan anak. Di SMA, dengan kegiatan saya yang makin banyak di Rohis, saya biasa membawa main teman-teman ke rumah. Sekedar untuk memperkenalkan siapa saja teman-teman saya di sekolah. Begitupun teman kampus.

Sekarang, semua saudara kandung saya sudah menikah. Kasih sayang Ibu dan Ayah sebagian besar melimpah ke saya. Segala pakaian, makan, dan keperluan sehari-hari saya, mereka perhatikan.  Saat saya pergi i'tikaf di mesjid pada bulan Ramadhan, Ibulah yang membelikan baju lebaran. Saat sepatu atau tas perlu diganti, ibu yang mengantarkan saya membeli di pasar. Saat saya terlihat kurus, Ibu selalu menyiapkan makanan enak untuk menjamu saya pulang dari Pesantren.

Mengenai Pesantren, Ibu sebenarnya sedikit khawatir akan nasib anaknya ke depan. Mengingat di pesantren, "gaji" yang saya terima sangat kecil, Ibu khawatir saya akan kesulitan untuk mendapatkan isteri dan membangun rumah tangga. Kekhawatiran itu hilang kini, setelah saya pernah dekat dengan seorang gadis yang mau menikah dengan saya. Ibu bahkan mencuri-curi nomor telepon gadis itu untuk menanyakan langsung keseriusannya menerima saya. Sayang seribu sayang, bapaknya menolak saya. Saya tahu ini setelah selang beberapa waktu saya bilang gagal, Ibu memberitahu bahwa beliau pernah menghubungi gadis tersebut. Lucu dan dramatis.

Kedua orang tua saya selalu percaya atas apa yang saya jalani. Mereka senantiasa mendoakan saya. Saya pun sebaliknya, menjaga kepercayaan itu dengan selalu mengutarakan apa yang sedang saya lakukan.  Mudah-mudahan saya tidak mengecewakan beliau dengan mengabdikan diri saya di Pesantren. Allah bantu saya untuk membahagiakan mereka.


Robbighfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiroo
Tuhan, ampuni aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku sewaktu kecil




PS: Cek link RasFM ini, ada dua monolog tentang Ibu yang bisa menjadi renungan kita.

Sunday, May 6, 2012

Kirana

Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian
Kirana dan Paciknya, 26 Februari 2012 di Setu Babakan

Kamis malam pukul 19.12, Ibu saya mengirim pesan singkat mengabarkan bahwa Kirana masuk ICU di RS. Jakarta Medical Center (JMC). Bayi sakit buat saya itu berita biasa, apalagi orang tuanya sudah tanggap memasukkannya ke rumah sakit. Saya tidak menanggapi pesan singkat Ibu tersebut untuk kemudian tidur dengan doa untuk keponakan saya tersebut
Karena satu dan lain hal, HP saya matikan sampai dengan pukul 10.00 setelah saya sampai di Cisaat untuk keperluan dinas sekolah. Tak berselang lama, masuk telepon dari Abang yang memberitahukan kabar duka tersebut. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, keponakan saya, anak dari adik saya, meninggal dunia shubuh tadi pukul 04.50. Segera saya pamit ke kepala sekolah, meninggalkan pekerjaan, dan segera naik angkutan umum ke Jakarta. Sampai di rumah mertua adik pukul 15.00, jenazah sudah selesai dimakamkan. Saya sedih tidak bisa menghantarkan keponakan saya ke liang lahat. Suatu pekerjaan yang saya biasa lakukan saat ta'ziyah.


Innalillahi wa inna ilaihi Roji'un, telah meninggal keponakan saya "NUR AALEYAH KIRANA" binti Radhian Yusuf, Umur 6 Bulan 19 Hari pada hari Jum'at 04-05-2012, pukul 04.50 Wib

Hubungan Keponakan dan Paman
Saya biasa diajarkan oleh keluarga bahwa pacik dan macik (sebutan paman dan bibi di keluarga) merupakan orang tua (kecil) keponakannya. Setiap keponakan harus menghormati pacik dan maciknya seperti ia menghormati kedua orang tuanya. Sebaliknya, pacik dan macik juga menyayangi keonakannya seperti anaknya dan selalu sedia membantu keponakannya. Ini tafsiran saya.
Saya ingat bahwa saya banyak sekali meminta bantuan dari para pacik/macik saya. Ibu saya punya adik kembar bernama, Nur Ali Fikri dan Nur Ali Fahmi, mereka jago dalam banyak permainan (tradisional) seperti, main layangan, buat permainan dai alat sederhana, tukang burung dara dan mancing, dan keterampilan teknis lainnya. Saya sering meminta bantuan untuk membuat tali kama yang bagus saat main layangan, minta ajarkan main burung dara, atau sekedar menyalakan motor mogok.
Pacik Ansah (Nur Syaichon) biasa dimintai tolong untuk persoalan bangunan, membetulkan mesin air, genten, masang ubin, dan banyak lainnya. Sekarang beliau aktif di Ijabi, membuat beliau dan saya banyak berdiskusi tentang keagamaan.
Dari sisi Ayah, pakde Awin dan isterinya, Allahu yarhamhuma. Mereka berdua adalah paman/bibi yang sangat baik hati dan peduli pada keluarga kami. Setiap beberapa bulan menjenguk keluarga kami untuk menanyakan apakah masih ada beras, apa sudah bayaran. Mereka suka berpesan, "kalau tidak ada beras atau ongkos sekolah datang kemari saja." Maka, kalau mereka tidak datang, dan keluarga sedang susah, biasa abang atau ibu saya yang berkunjung.
Dari pengalaman saya tersebut, maka saya ingin sekali menjadi pacik yang baik bagi keponakan-keponakan saya.
Almarhumah Kirana binti Radhian Yusuf merupakan anak dari adik saya. Secara rasa tanggung jawab, Kirana lebih besar dibandingkan dengan keponakan dari kakak saya. Saya telah mencanangkan untuk menjadi ayah kecilnya yang siap membantu tumbuh dewasa. Membelikan baju muslimah, menyarankan adik saya kemana Rana akan disekolahkan, dan mengajarkan satu-dua nilai agama untuk dipegangnya. Ingin juga memasukkan dia ke perguruan saya, biar bergerak lentik tapi elegan dan tidak ada anak laki-laki yang berani macam-macam.
Takdir Allah atas setiap kejadian yang terjadi. Saya tak perlu mendoakan kirana karena dia -insyaAllah- pasti sudah tenang di alam kubur. Kirana merupakan tabungan akhirat dari kedua orang tuanya. Cukup bagi saya untuk berdoa ini:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًَا لِاَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا
وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا
وَاَفْرِغِ الصَّبْرَعَلىٰ قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ
وَلاَ تَحْرِ مْهُمَا اَجْرَهُ
--o--
Allahummaj’alha farathan li abawaiha wa salafan wa dzukhro
wa’izhotaw  wa’tibaaraw wa syafii’an wa tsaqqil biha mawaa ziinahuma
wa-afri-ghish-shabra ‘alaa quluu bihimaa wa laa taf-tin-humaa ba’daha
wa laa tahrim humaa ajraha
--o--
“Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafa’at bagi orangtuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu-bapaknya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu bapaknya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah  bundanya sepeninggalnya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya.”