Wednesday, April 8, 2009

Dialektika Zainuddin dan Hayati

Perkataan Zainuddin di dalam suratnya kepada Hayati ketika mendengar khabar tunangan Hayati dengan Aziz.

[….] Ah Hayati, kalau kau tahu! Agaknya belum pernah orang lain jatuh cinta sebagaimana kejatuhanku ini. Dan bila kau alami kelak agaknya tidak juga akan kau dapati cinta sebagai cintaku. Cintaku kepadamu lebih dari cinta saudara kepada saudaranya, cinta ayah kepada anaknya. Kadang-kadang derajat cintaku sudah terlalu amat naik, sehingga hanya dua orang yang menandingi kecintaan itu, pertama Tuhan dan kedua mati. [....]

[….] Ketahuilah, bahwasanya orang yang akan menyukai kecantikanmu dalam dunia ini akan banyak bertemu. Orang yang menambah kemuliaanmu dengan harta-bendanya bukan sedikit. Tetapi yang akan cinta kepadamu sebagai cintaku, sungguh engkau tak akan bertemu, percayalah perkataanku, percayalah ! [....]

[….] Jangan sampai terlintas dalam hatimu, bahwa di dunia ada satu bahagia yang melebihi bahagia cinta. Kalau kau percaya kebahagian selain cinta, celaka diri kau. Kau menjatuhkan ponis kematian ke atas diri kau sendiri ! [….]

 

Jawaban Hayati kepada Zainuddin setelah tiga kali berturut-turut Zainuddin mengirimkan surat tentang kedukaannya yang sangat mendengar pertunangan Hayati.

[....] Kita akan sama-sama menangis untuk sementara waktu, laksana tangis anak-anak yang baru keluar dari perut ibunya. Nanti bilamana dia telah sampai ke dunia, dia akan insaf bahwa dia pindah dari alam yang sempit ke dalam alam yang lebih lebar. Kelak tuan akan merasai sendiri bahwa hidup yang begini telah dipilihkan Allah buat kebahagiaan tuan. Allah telah sediakan hidup yang lebih beruntung dan lebih murni untuk kemaslahatan tuan di belakang hari.

Tuan kan tahu bahwa saya seorang gadis yang miskin dan tuanpun hidup dalam melarat pula, tak mempunyai persediaan yang cukup untuk menegakkan rumah tangga. Maka lebih baik kita singkirkan perasaan kita, kembali kepada pertimbangan. Lebih baik kia berpisah, dan kita turutkan perjalanan hidup masing-masing menurut timbangan kita, mana yang lebih bermanfaat buat dihari nanti. Sayapun merasai sebagai yang tuan rasakan, yaitu kesedihan menerima ponis itu. Tetapi tuan harus insaf, sudah terlalu lama kita mengangan-angan barang yang mustahil, baik saya ataupun tuan.

[....] Dan saya harap tuan lupakanlah segala hal yang telah berlalu, maafkan segala kesalahan dan keteledoran saya, sama kita pandang hal yang dahulu seakan-akan tidak ada saja. [....]

 

Perkawinan Hayati dengan Aziz tetap berlangsung, dan Zainuddin hanya bermenung terus di dalam kamar. Setelah dua bulan lamanya Zainuddin terkulai di atas kasur, dia kemudian bangkit menginsafi diri, lalu berpindah ke pulau Jawa. Sukses sebagai penulis.

Setelah dua tahun hidup bersama Aziz di Padang Pandjang, Hayati mulai melihat sifat asli dari Aziz setelah mereka berpindah ke pulau Jawa, menuruti pekerjaan Aziz. Rumah tangga keduanya runtuh. Aziz yang jatuh miskin akibat ulahnya sendiri, meminta berlindung di balik bahu Zainuddin; diterima dengan baik. Sampai pada suatu ketika Aziz mengambil jalan pintas mengasingkan diri, meninggal, dan menyerahkan Hayati kepada Zainuddin. Hayatipun meminta kepada Zainuddin menerima dirinya.

[....] “Maaf? Kau meminta maaf Hayati ? setelah segenap daun kehidupanku kau regas, segenap pucuk pengharapanku kau patahkan, kau minta maaf ?

[….] Hampir saya mati menanggung cinta, Hayati! Dua bulan lamanya saya terletak di atas tempat tidur. Kau jenguk saya dalam sakitku, memperlihatkan kepadaku bahwa tangan kau telah berinai, bahwa kau telah kepunyaan orang lain.

Siapakah diantara kita yang kejam, hai perempuan muda? Saya kirimkan berpucuk-pucuk surat, meratap, menghinakan diri, mohon dikasihani, sehingga saya, yang bagaimanapun hina dipandang orang, wajib juga menjaga kehormatan diri. Tiba-tiba kau balas saja dengan suatu balasan yang tak tersudu diitik, tak termakan diayam. Kau katakana bahwa kau miskin, sayapun miskin, hidup tidak akan beruntung kalau tidak dengan wang. Sebab itulah kau pilih hidup yang lebih senang, mentereng, cukup wang. Berenang di dalam mas, bersayap wang kertas. [….]

[….] Tidak! Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa!”

 

Sebelum pulang ke kampung halaman menggunakan Kapal Van Der Wijck, Hayati menuliskan surat kepada Zainuddin.

Pergantungan jiwaku, Zainuddin !

Kemana lagi tempatku bernaung, setelah engkau hilang pula dari padaku, zainuddin. Apakah artinya hidup ini bagiku kalau engkaupun telah memupus namaku dari hatimu!

Sungguh besar sekali harapanku hendak hidup di dekatmu, akan berkhidmat kepadamu dengan segenap daya dan upaya, supaya mimpi yang telah engkau rekatkan sekian lamanya bias makbul. Supaya dapat segala kesalahan yang besar-besar yang telah kuperbuat terhadap kepada dirimu saya tebusi. Tetapi cita-citaku itu tinggal selamanya menjadi cita-cita, sebab engkau sendiri yang menutupkan pintu di hadapanku: saya kau larang masuk, sebab engkau hendak mencurahkan segala dendam kesakitan yang telah sekian lama bersarang di dalam hatimu, yang selalu menghambat-hambat perasaan cinta yang suci. Lantaran membalaskan dendam itu, engakau ambil suatu keputusan yang maha kejam, engkau renggutkan tali pengharapanku, pada hal pada tali itu pula pengharapanmu sendiri bergantung. Sebab itu percayalah Zainuddin, bahwa hukuman ini bukan mengenai diriku seorang, bukan ia menimpakan celaka kepadku saja, tetapi kepada kita berdua. Karena saya percaya, bahwa engkau masih tetap cinta kepadaku.

Zainuddin! Kalau saya tak ada, hidupmu tidak juga akan beruntung, percayalah ! [....]