Thursday, February 2, 2017

Nasib orang Betawi emang. Dari Senayan kena gusur, pindah ke Tebet. Dari Tebet kena gusur lagi, pindah ke Jagakarsa. Dari Jagakarsa, kita yang anak-cucu Buya bergeser lagi ke Depok. Ada juga yang terlempar jauh ke Citayam. Tapi kita nggak pernah berhenti jadi orang Betawi. Gue Betawi biar sendirian.
Nggak tahu saya mimpi apa kemarin. Gara-gara macet, jadi begini. Jalan di Jakarta emang udah di luar kewarasan. Macetnya naudzubillah. Saban hari, pagi-sore, jalanan Jakarta padet berjejal kuda besi. Situasi macam ini membuat saya dan para penggemar macet Jakarta putar otak cari-cari jalan tikus yang mudah-mudahan lebih lancar. Namanya cari-cari, kadang sukses, kadang nyasar. Nah, nyasar kali ini yang bakal saya ceritain di sini.

Soal nyasar, saya memang rada pengalaman. Biar kata di Jakarta, tetap saja saya nyasar.  Kebayang kalau saya ke luar kota? Nyasar atau nggak, bukan sual, yang penting tujuan tercapai. Tangerang, Bogor, Sukabumi sudah jadi medan juang penuntasan nyasar.

Kapan hari saya berangkat ke kantor di bilangan Gatot Subroto, seberang gedung Jamsostek.  Dan seperti biasa, saya harus nentuin jalan mana yang mungkin paling cepat sampai kantor. Menyusuri jalan Kahfi I dari alif sampe ya, masuk Cilandak-KKO, terus ke Ampera, Bangka mentok ke jalan layang Tendean. Nah, lepas situ, saya lihat jalan arteri Mampang ke Kuningan padat merayap, langsung saya inisiatif masuk ke dalam jalan kecil berharap bisa tembus langsung ke muka jalan Kuningan. Tapi, apa mau dikata, nyasar.

Saya tiba di suatu jalan yang berjejer rumah besar di kiri-kanan jalan dengan latar gedung-gedung tinggi jika sedikit nengok ke atas. Saya pacu motor dengan lambat sambil berpikir saya lagi di mana. Di sudut jalan terlihat papan nama jalan bertuliskan "Tulodong". Astaga, Tulodong. Ini kawasan tempat saya lahir. Saya berhenti sebentar lalu memacu motor lebih pelan, bukan untuk tahu ke mana jalan keluar, tapi mencari di mana klinik dan pasar tempat saya dilahirkan 30 tahun lalu. Teringat kata Ibu bahwa saya lahir di Pasar Tulodong. Surat lahir dari klinik juga tertulis Tulodong.

Tulodong masih di bilangan Senayan, tempat saya kakak-beradik serta Ayah/Ibu tinggal. Tempat Cang, Cing, Buya, Umi, Njid, Jidah, dan segenap keluarga besar saya menjalani kehidupan sehari-hari seperti layaknya kehidupan kampung di kota. Main bola, bermain layangan, nongkrong di ujung jalan, hingga ngojek payung di Mal Ratu Plaza, salah satu mal besar tertua di Jakarta.

Sebagai orang Betawi, rumah sanak saudara semua berdekatan. Rumah saya dekat saja dengan rumah Buya (engkong), bisa ditempuh jalan kaki sebentar. Rumah saya sederhana dengan satu kamar seperti rumah kontrakan sekarang, tapi dengan dapur, kamar mandi, dan halaman yang lebih besar. Pagi dan sore, rumah Buya jadi tempat main semua anak dan cucunya.

Rumah Buya cukup luas buat menampung ke-13 anaknya. Halaman depan cuma dipagar setinggi pinggang. Pohon nangka cukup besar buat nangkep angin ngademin orang-orang yang duduk santai di teras. Di samping rumah ada dua kolam untuk pelihara ikan mas, lele, mujair, atau apa aja ikan hasil nangkep mancing untuk ditaruh buat dimasak entaran.

Sebagai orang yang tinggal di tengah kota, kami tidak perlu ke mana-mana untuk memenuhi kebutuhan kami. Mau sekolah, ada. Mau main, lapangan masih ada. Mau bergaya ke mal atau ke bioskop, bisa. Semua itu bikin kami nggak perlu ke mana-mana. Di tengah semua pembangunan dan modernitas itu, keluarga Buya dan hampir semua orang Betawi tetap teguh memegang agama. Mengaji di mushala adalah keharusan, bahkan Ibu dan semua saudaranya dimasukkan ke pesantren dekat rumah, Darurrahman, yang sampai sekarang masih ada.

Sayang, masa-masa itu nggak lama. Saya cuma sempat tinggal di sana selama lima tahun pertama hidup saya. Waktu itu pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun Jakarta. Mungkin itu yang dimaksud orang waktu menyematkan gelar Bapak Pembangunan ke Presiden Soeharto. Dia habis membangun kampung-kampung di Jakarta jadi gedung-gedung bertingkat. Konon rumah saya sekarang berubah jadi gedung Ancora.

Senayan dan Kuningan yang dulu tempat ternak sapi dan produksi susu buat para kumpeni, sekarang sudah jadi tempat ternak uang dan produksi jasa buat para kumpeni juga. Sama-sama tempat penghasil duit, bedanya sekarang bukan orang Betawi lagi yang jalanin dan nggak ada tempat lagi buat rempug keluarga.

Nasib orang Betawi emang. Dari Senayan kena gusur, pindah ke Tebet. Dari Tebet kena gusur lagi, pindah ke Jagakarsa. Dari Jagakarsa, kita yang anak-cucu Buya bergeser lagi ke Depok. Ada juga yang terlempar jauh ke Citayam. Tapi kita nggak pernah berhenti jadi orang Betawi. Gue Betawi biar sendirian.

Ada cara buat ngukuhin kejatidirian orang Betawi. Keluarga saya biasa ngadain pengajian dan arisan dua bulanan, tiga bulanan, empat bulanan, tergantung ikut jalur keluarga mana—keluarganya Buya, keluarganya Umi (nenek), atau dari keluarga buyut-buyutnya. Nominal arisan sih nggak seberapa, tapi nilai kekeluargaannya itu yang besar. Makanya, kadang arisan cuma bisa digelar di rumah saudara yang tajir. Dapetnya sedikit, keluarnya banyak.

Jika tidak sempat arisan, ada ziarah kubur saban awal/ujung bulan Ramadhan, waktu kami cucu dan cicit bisa kenal nama-nama buyut-buyut kami. Lebaran apalagi. Kesemua acara yang dirayakan bersama keluarga orang Betawi adalah juga acara keagamaan. Bukan Betawi kalau kumpul asal kumpul. Ketika kumpul selalu ada pengajiannya, tahlilnya, nasihatnya. Dan Jakarta adalah tanah yang kita bela dan hidupi dengan semangat agama dan persaudaraan.

Waktu makin siang dan saya masih berkeliling Senayan mencari sisa-sisa ingatan saya dulu. Hampir tidak ada yang seperti ingatan saya. Yang ada malah rumah besar dengan pagar setinggi pohon, tanpa teras, tanpa kolam, tanpa pohon nangka. Kali hitam yang pasti bukan buat ngobak anak-anak apalagi minum ternak sapi. Mana tanah lapang buat main bola dan layangan? Yang ada tinggal orang-orang di pinggir jalan, beberapa Betawi, beberapa bukan, dengan rumah semipermanen.

Saya dan sebagian besar keluarga mungkin tidak lagi tinggal di tengah Jakarta, tapi kami masih menghidupi Jakarta dengan tangan kami, pajak kami, dan doa-doa kami. Kedutaan Belanda sudah di depan mata, saya mengitarinya sebentar kemudian tembus masuk jalan kecil di antara dua gedung. Alhamdulillah, sampai juga di kantor.

Sumber: NuuN.id

Wednesday, April 20, 2016

Si Laba-laba dan Si Lalat

Oleh: Allama Muhammad Iqbal*

Suatu hari, seekor laba-laba berkata kepada lalat
Meski engkau lewat sini setiap hari

Pondokku tak pernah mendapatkan kehormatan darimu
Dengan diberi kesempatan dikunjungi oleh engkau.

Terlewat orang asing dari kunjungan bukan masalah
Menghindar dari yang terdekat dan terhormat bukan hal yang baik

Rumahku akan merasa terhormat dengan kunjungan darimu
Sebuah tangga untukmu jika engkau putuskan masuk

Mendengar itu, lalat berkata pada laba-laba
Tuan, anda dapat menarik orang bodoh ke sana

Lalat ini tidak akan terjerat oleh jarring anda
Siapa yang masuk dalam jaringmu tidak akan dapat turun

Laba-laba berkata, “Bagaimana mungkin anda bilang saya sebagai penipu?
Saya tidak pernah melihat hewan yang begitu bodoh sepertimu.”

“Saya hanya ingin menyenangkan anda
Saya tidak punya kepentingan tersembunyi apa-apa.”

“Lalat, anda pasti telah terbang begitu lama dari tempat yang jauh
Istirahatlah sebentar di rumah saya, rumah saya tidak akan menyakiti anda.”

“Banyak hal dalam rumah ini yang layak anda lihat
Meski tampak hanya seperti rumah sederhana.”

Tirai halus dan lembut menggantung di setiap pintu
Dan saya telah menghias dinding dengan kaca-kaca

Tilam tersedia untuk kenyamanan para tamu
Bukan sembarang orang dapat merasakan

Sang lalat berkata, “Alangkah baiknya semua itu
Tapi jangan harap saya masuk ke dalam rumahmu

Semoga Tuhan melindungiku dari kenyamanan tilam
Setelah tertidur di atasnya, mustahil bangun kembali

Sang Laba-laba berbisik sendiri
“Bagaimana menjebaknya? Si Celaka itu cerdik

Banyak keinginan dipenuhi dengan pujian di dunia
Semua yang ada di dunia diperbudak oleh pujian

Dalam renungan itu, laba-laba berkata pada lalat
“Puan, Allah telah menganugerahkan kehormatan besar pada Anda!

Semua orang menyukai wajah indah anda
Bahkan jika seseorang melihat anda kali pertama

Mata anda terlihat seperti kumpulan kilau berlian
Allah telah menghiasi kepala Anda dengan bulu-bulu yang indah

Sang Lalat tersanjung oleh pujian
Dan berkata, “Aku tak takut padamu lagi.”

Berkata demikian ia terbang dari tempatnya
Ketika dekat laba-laba menjerat

Sang Laba-laba yang kelaparan beberapa hari
Sang Lalat menyajikan santapan lezat.


*) diterjemahkan oleh Reza dari Aik Makra Aur Makhi | A Spider and A Fly
Sumber: http*//iqbalurdu*blogspot*co*id/2011/02/bang-e-dra-6-aik-makra-aur-makhi.html






Saturday, October 31, 2015

Puisi untuk Ananda

Ringan menapak dalam keceriaan
Membelai lembut semua di hadapan
Senyum lepas mesti tersunggingkan
Kepada ayah ibu yang merindukan
Apa yang kami telah berikan
Ananda terima tanpa sanggahan

Pada hewan dan tumbuhan,
Ananda mesrai tanpa ketakutan
Tajam mata memperhatikan
Gerak-gerik alam ananda tirukan
Gesit kucing coba ikutkan,
Merdu kicau burung jadi tuturan
Indah bunga ananda cerminkan
Tenang air ananda hayatkan

Hei si anak bujang,
Jadi jantan bukan sembarang
Kuatkan tangan bantu sekitar
Kokohkan kaki topang impian
Lapar dan haus jangan turutkan
Godaan setan segera tepiskan

Ketampanan bukan di tampang,
letaknya di akal cemerlang
Harta wanita cuma hiasan,
jangan jadikan sebuah tujuan

Kemuliaan ada di iman,
yang ditinggikan oleh keilmuan
Segala perkara ananda ikhlaskan,
agar lapang semua urusan


Depok, 29 Oktober 2015

Wednesday, April 22, 2015

KH. Siradjuddin Abbas: Ulama dan Politikus Pembela Ahlussunnah


KH. Siradjuddin Abbas, di kalangan santri beliau dikenal sebagai Kyai yang menulis kitab I'tiqad Ahlussunnah Waljamaah. Di luar kalangan santri, jauh lebih banyak yang tidak mengenal sosok itu. Padahal, beliau pernah menjabat sebagai Menteri Kesejahteraan Rakyat pada Kabinet Ali Sastroamijojo I. Dan beliau yang mendorong Soekarno untuk membentuk Organisasi Indonesia untuk Setiakawan Asia-Afrika (OISRAA) pada 1960.

Perjalanan Menuntut Illmu
Buya Siraj (Bukit Tinggi, 20 Mei 1905) lahir di lingkungan keluarga yang 'alim agama. Ilmu dasar Al-Quran dipelajarinya dari Sang Ibu, Ramalat binti Jai Bengkawas, sampai usia 13 tahun. Pendalaman kitab-kitab arab diberikan oleh Bapaknya yang seorang Qadhi, Syekh Abbas bin Abdi Wahab bin Abdul Hakim Ladang Lawas. Dan seperti tradisi penuntut ilmu lainnya, beliau terus berpindah dari satu guru ke guru lain untuk mempelajari agama dengan mendalam.
Pada tahun 1927 hingga 1933, beliau belajar di Mekkah dengan beberapa syaikh berikut:
  • Syeikh Sa'id Yamani, Mufti Mazhab Syafi'i ketika itu, kitab yang dipelajari adalah Kitab Mahalli, merupakan kitab fiqih Mazhab Syafi'i.
  • Syeikh Husein al Hanafi, Mufti Mazhab Hanafi ketika itu, kitab yang dipelajari adalah Kitab Shahih Bukhari (Hadits).
  • Syeikh Ali al Maliki, Mufti Mazhab Maliki ketika itu, kitab yang dipelajari adalah Kitab Al Furuq, merupakan kitab (Ushul Fiqih).
  • Syeikh Umar Hamdan, seorang ulama Mazhab Maliki, dengan ia mempelajari Kitab Al Muwatta Malik, karya Imam Malik.

Terjun ke Politik
Sekembalinya beliau ke kampung, KH. Siradjuddin bergabung dengan organisasi dakwah bernama Persatuan Tarbiyah Indonesia, organisasi keagamaan satu-satunya di Bukit Tinggi.  Dengan keluasan ilmu dan wawasannya, tidak membutuhkan waktu lama bagi KH Siradjuddin untuk ditunjuk sebagai Ketua Umum organisasi tersebut pada Kongres III (1936).
Menyambut Maklumat No.X/1945 yang dikeluarkan oleh Wakil Presiden M. Hatta untuk menghimbau masyarakat membentuk partai politik, KH. Siradjuddin mendorong PTI untuk mengubah diri menjadi partai politik namun tetap menjalankan fungsinya sebagai lembaga dakwah dan pendidikan. Desember 1945, PTI resmi mejadi Partai Islam Tarbiyah Indonesia (PI Perti).
Jabatan politik yang pernah diembannya adalah DPRD,DPR RIS, DPRS, DPR GR dan terakhir Menteri Negara Kesejahteraan Umum dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I dengan masa bakti dari tanggal 30 Juli 1953 sampai 12 Agustus 1955

Penulis Kitab
KH. Siradjuddin Abbas banyak menulis kitab yang menerangkan akidah dan fiqh ahlussunnah waljamaah. Kitabnya I`tiqad Ahlussunnah wal jamaah telah dikenal di pesantren-pesantren di serantau Melayu, Indonesia, Malaysia dan Thailand. Namun ada cerita menarik dari penerbitan buku beliau tersebut. Kali pertama buku Itiqad Aswaja dan Sejarah Madzhab Syafii terbit, beliau harus menjual rumahnya dulu di Jln.Dempo kemudian pindah ke Jln.Tebet Barat kecil.
Kitab-kitab beliau di antaranya:
  1. I`tiqad Ahlussunnah wal jamaah. Sebuah buku yang berisi tentang faham Ahlussunnah dan beberapa firqah-firqah lainnya. 
  2. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi'i 
  3. Thabaqatusy Syafi`iyah (Ulama Syafii dan Kitabnya dari Abad ke Abad)
  4. 40 Masalah Agama Sebuah buku yang terdiri dari empat jilid menjelaskan 40 macam masalah agama yang sedang berkembang dewasa itu. Dalam buku ini beliau juga menerangkan tentang gerakan modernisasi agama oleh orang-orang yang ingin memperbarui Islam dengan paham mereka. Beberapa tokoh yang beliau masukkan kedalam golongan ini antara lain Ibnu Taymiyah, Muhammad Abduh, Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri Wahabi), Mirza Ghulam Ahmad, Mustafa Kemal At-Turk dan juga presiden RI pertama Soekarno. 
  5. Kumpulan soal-jawab keaagamaan (sebuah buku berisi jawaban-jawaban dari beberapa pertanyaan seputar agama) 
  6. Kitab Fiqh Ringkas 
  7. Sorotan atas terjemahan Al Quran oleh HB.Jassin 
  8. Sirajur Munir (Fiqh 2 jilid) 
  9. Bidayatul Balaghah (Bayan) 
  10. Khulasah Tarikh Islam 
  11. Ilmul Insya` 1jilid 
  12. Sirajul bayan fi Fahrasatil Ayatil Al quran 
  13. Ilmun Nafs 1 jilid 
Tulisan beliau no 8-13 adalah karangan beliau dalam bahasa arab

Wafat
Buya Siraj wafat tanggal 23 ramadhan 1400 H atau 5 agustus 1980 setelah beberapa hari dirawat di RS Cipto Mangunkusumo lantaran serangan jantung. Saat pemakaman tampak perhatian warga Tarbiyah begitu besar. Jasad beliau dimakamkan di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Beliau meninggalkan seorang istri dan dua anak, Sofyan (almarhum) dan Fuadi.

Semoga ilmu dan amal beliau diterima di sisi Allah SWT. Lahum alfatihah...

Sumber ringkasan dengan penambahan secukupnya di: http://mursyidali.blogspot.com/2009/12/profil-khsirajuddin-abbas.html

Sunday, March 30, 2014

Cina, China, atau Tiongkok?

Belakangan, di stasiun-stasiun TV ramai menggunakan kata "Tiongkok" untuk merujuk berita tentang negara RRC (Republik Rakyat Cina). Apa yang melatari stasiun tv tersebut mengganti kata Cina/China dengan Tiongkok? Mana yang lebih sahih digunakan?

Nenek moyang kita sejak lama menggunakan kata "Cina" untuk menunjuk orang dan negeri dari ras Mongoloid. Itu bisa kita lihat dari beberapa istilah yang kita pakai sehari-hari "petai cina" "pacar cina" "tinta cina". Ada juga peribahasa "kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina" yang berkesan baik tentang negeri dan orang Cina.

Tahun lalu, Kedutaan Besar RRC mengeluarkan edaran ke media masa untuk menggunakan kata "China" untuk menulis "Cina. Edaran ini merupakan pemaksaan bersifat politis karena China adalah ejaan yang biasa digunakan pengguna bahasa inggris, sedang lidah melayu, bahasa Indonesia biasa menyebut "Cina". Tidak ada kedutaan besar negara lain yang protes dengan penamaan kita terhadap negera mereka.

Maret 2014, SBY mengeluarkan Keppres untuk mengganti istilah Tjina/Cina/China dengan istilah "Tiongkok". Tiongkok (zhongguo) yang berarti "kerajaan/negeri" dan "pusat" atau "pusat dari peradaban" Penamaan ini bermasalah karena menimbulkan kesan superioritas orang-orang Cina terhadap bangsa-bangsa lain. Demikianlah, SBY!

Maka itu, saya dengan kesadaran diri dan rasa hormat kepada sejarah dan budaya Indonesia memilih tetap menggunakan kata "Cina".

-------------
Bukan anak sastra. Isi tulisan ini disarikan dari berita di:
http://www*tempo*co/read/news/2013/10/20/079523178/Perbedaan-Cina-dan-China-Versi--Remy
http://www*tempo*co/read/news/2014/03/29/078566366/Remy-Sylado-Kritik-Keppres-Soal-Tiongkok

Tuesday, September 17, 2013

Statusisasi..,

Bikin status kayak ust. Fulan,
Wahh, cepet banget nikahnya, via ta'aruf ya? | Ya, pasti ta'aruf, masa gak kenal bisa nikah.
Maksudnya, dikenalin, gak pake pacaran? | Ya, dikenalin, terus dipacarin.
Kok pacaran! Kan gak boleh kecuali sudah nikah? | Klo sudah nikah, bukan pacaran lagi namanya, tapi hubungan suami istri.
Kok bisa pacarannya cepet banget? | Memangnya mau ngapain pacaran lama-lama?!
Nyesel kan kenapa gak nikah dari dulu? | Enggaklah. Klo nikah dari dulu, bisa-bisa gak ketemu yang ini. Nyesel ntar deh.

Wednesday, August 21, 2013

Dua Perempuanku

Ibuku,
Hidup dan matiku
Tak mampu tutupi segenap jasamu
Biar kesenangan berjuta ribu
Senyummu tiada seteru

Gadisku,
Rekan hidup dan matiku
Tempat kutitipkan buah cintaku
Biar godaan datang beribu
Pada cintamu hatiku terpaku

Dua perempuanku,
Bunga dan duri mawar hidupku
Aku tangkai yang coba menanggung teguh
Pada Allah kuminta selalu
Kebahagiaan pada dua perempuanku


Warung Sila, 6 Syawal 1434 / 13 Agustus 2013

Sunday, July 21, 2013

Putri Bulan

Putri Bulan
Temani aku dengan cahyamu
Cahaya dari Sang Maha Cahaya
Menerangi gelap malam hidupku

Putri Bulan,
Kekasih dari para kekasih
Terang wajahmu adalah kedamaian
Teduh tatapanmu adalah kesantunan
Tegakmu adalah keberanian
Bintang gemerlapan kau tundukkan
Awan kelabu kau tepis
Demi satu pegangan hidup, kesederhanaan

Desir angin,
Derik jangkrik,
Kerlap-kerlip kunang-kunang
Senyum sungging tidur bocah-bocah
Perhiasan hidupmu

Para abid kau temani berdoa
yang tidur kau pandu ke dalam buaian
Para pecinta kau mabukan dengan wajahmu
yang mengeluh kau sandarkan kedamaian

Setiap laki-laki adalah harimau di siang hari
tapi pungguk pada malamnya
Luka tak bisa selamanya menganga
Hati tak sanggup untuk terus waspada

Putri Bulan,
Sembuhkan aku dari kerinduanku


Jagakarsa, 12 Ramadhan 1434 / 21 Juli 2013

Wednesday, July 10, 2013

Pantun Kasmaran

Jalan-jalan ke Afghanistan,
Jangan lupa memberi kabar
Kalau hendak mencari pasangan,
Jangan lepas ikhtiar dengan sabar

Pulau We di ujung Sumatera,
Pulau Jawa ujungnya madura
Biar Abang berdarah Sumatera,
Hati terikat di Tatar Sunda

Hujan menderai, angin menderu,
Air kali naik sampai ke tepi
Hati mengandai, adik merindu,
Kapan nak jumpa sekali lagi

Jago berkokok, burung bernyanyi,
Dua-dua berebut nasi
Abang berkoko, adik bersari,
Dua tubuh bersatu hati

Anak Cina mahir berdagang,
Anak Melayu pandai mengarang
Adinda cantik makin kusayang,
Tiap waktu selalu terbayang

Wednesday, June 26, 2013

Semau-maumu


Kalau memang itu maumu,
Mencari bahagia dengan menuruti nafsu,
Terserah kamu

Pandailah sendiri dan bodohlah sendiri.

Kehidupan dan kematian,
Keuntungan dan kerugian,
Kau sendiri yang menentukan, sesudah Tuhan.

Ke utara atau ke selatan,
Ke cahaya atau kegelapan
Kau sendiri yang mengambil keputusan

Buat apa kumengingatkan
Kalau Tuhan saja tiada engkau dengarkan,
Silakan jalan

Hebatlah sendiri dan konyollah sendiri

Kenikmatan dan kepuasan,
Bukanlah pada khayalan
Tapi di dalam sehatnya akal pikiran

Mencari rahasia Tuhan, sejatinya kebahagiaan
Memijakkan kaki di bumi, kenyataan

Lampiaskanlah semau-maumu,
Hanyutkanlah diri sesuka-sukamu.
Telanlah api dunia sekenyangmu
Tapi jangan sesalkan akan cepat datang mautmu



Lagu: Cak Nun dan Kyai Kanjeng

Monday, May 27, 2013

Ijazah dan Kelanjutan Pendidikan Mereka

Di laci satu lemari rumah saya, tersimpan dengan rapih ijazah setiap jenjang pendidikan yang telah saya lewati.  SD, SMP, SMA, dan PT yang semuanya Negeri. Saya susun, saya rawat baik-baik sebagai satu kenangan perjalanan belajar saya yang nanti akan saya ceritakan kepada anak-cucu. Ijazah adalah bukti nyata perjuangan belajar saya.

Masuk sebagai seorang pengajar di sebuah pondok di satu sudut kaki gunung Salak sebelah utara, saya melihat sisi lain dunia pendidikan yang selama ini belum pernah saya lihat. Pendidikan a la pondok pesantren. Pendidikan di kawasan desa terpencil. Anak-anak dipisahkan dari orang tuanya. Mereka menjalani hari-hari dengan kegiatan terjadwal ketat. Belajar, ibadah, dan berkegiatan. Istirahat mereka adalah jeda waktu perpindahan dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Selain belajar, mereka secara bergilir juga diwajibkan membantu keseharian operasional pondok. Piket dapur (harits Mathbah), piket siang (harits nahar), dan piket malam (harits lail).

Kegiatan belajar mengajar di kelas dilakukan dari pukul 07.30 sd. 14.50. dengan jeda waktu di pukul 09.00-09.30 dan 12.10-13.30. Kurikulumnya pondok dengan selipan mata pelajaran sma umum. Disebut selipan, karena pak Kyai menegaskan jati diri lembaga pendidikan ini adalah pondok pesantren, bukan sekolah umum (smp/sma). Setiap santri yang menempuh pendidikan di pondok ini selama 6 tahun mereka akan mendapat 3 ijazah yakni, smp, sma dan pondok. Singkat cerita, saya melihat tumpukan ijazah dari berbagai tahun kelulusan di lemari besi di kantor TU. Tidakkah mereka menginginkan ijazah tersebut untuk lanjut ke pendidikan tinggi atau menggunakannya untuk mencari kerja?

Alasan ijazah menumpuk itu sederhana, mereka tidak mampu melunasi utang biaya sekolah sehingga tidak bisa mambawa pulang ijazah. Meski demikian, pondok berbaik hati untuk para santri yang punya kesungguhan belajar/bekerja untuk mendapatkan ijazah salinan terlegalisir. Setelah bekerja, apa mereka tidak rindu dengan ijazah mereka? ternyata tidak. Di pondok -mana saja- ada nasehat bahwa kita tidak butuh ijazah untuk membuktikan bahwa kita berilmu atau tidak, yang penting itu amal nyata di masyarakat dalam dakwah dan bekerja. Mungkin karena nasehat itu, para alumni lulusan pondok ini tidak terlalu peduli nasib ijazah mereka. Dan ijazah itu memang tidak menghalangi mereka untuk bekerja atau melanjutkan belajar ke PT. Beberapa dari mereka bahkan saya tidak tahu bagaimana mereka bisa melanjutkan belajar tanpa meminta legalisir salinan ijazah ke saya.

Dari sembilan orang yang ikut UN pada tahun 2011/2012, berikut keterangan aktivitas mereka:

2 orang di UIN (beasiswa), 2 orang di Ma'had Nu'ami (beasiswa), 3 orang di Unida (beasiswa), 1 orang di Ikopin (beasiswa).

Ijazah alumni di atas masih ada di tangan saya sampai sekarang.

Fakta ini menguatkan saya untuk tetap berpikir optimis, sangat optimis, bahwa kesempatan mereka yang hilang karena tidak bisa ikut SNMPTN (jalur Undangan) atau ujian masuk lainnya sesaat mereka lulus, akan digantikan dengan kesempatan lain yang jauh lebih baik saat mereka menjalani pengabdian mengajar setahun ke depan.

Sunday, April 28, 2013

Khotbah Socrates


Alangkah dalam artinya pertahanan diri dan pembelaan yang diucapkan oleh "mu'allim awwal" ini dihadapan Hakimnya, seketika dijatuhkan hukuman bunuh, sebab mempunyai pendapat berlainan dengan pendapat umum pada ketika itu. Sebab pendapat umum ialah Tuhan itu banyak, sedang pendapat Socrates, Tuhan itu hanya satu, Yang Maha Esa!

Dia berkata, "Wahai hakim-hakimku, saya telah dijatuhkan hukuman bunuh. Maka inilah nasehatku yang penghabisan! Hendaklah tuan-tuan menghadapi maut sebagai yang saya hadapi ini. Jangan ada pikiran tuan-tuan kepada yang lain, melainkan kepada haqiqat maut. Yakinlah bahwa orang yang telah berbuat baik, tidak akan kenal arti takut, baik di waktu hidupnya apalagi setelah wafatnya. Tuhan tidak akan meninggalkannya selama-lamanya.

Bukanlah bahaya yang menimpaku ini datang dengan tiba-tiba saja (toevalig) tetapi semuanya menurut qadar. Dan saya percaya bahwa ini saat kematianku itu lebih baik rasanya bagiku dari pada hidup yang penuh kesudahan ini. Saya tidak menyimpan dendam kepada orang yang menghukumku atau yang menuduhku. Cuma yang saya sesalkan, hanyalah lantaran hukuman itu mereka jatuhkan tidak dengan maksud baik, tetapi dengan maksud jahat. Namun begitu, maka sangka-sangka mereka itu telah salah, mereka tidak berdiri atas kebenaran.

Cuma sebagai orang yang akan mati, ada petaruh yang akan saya tinggalkan, harap tuan-tuan paparkan setelah saya mati!

Wahai orang Athene semuanya! Bilamana putera-puteraku dewasa kelak, bila tuan-tuan lihat anak-anak itu tidak mengacuhkan kebenaran, tidak berjalan yang lurus dalam hidup mereka, lebih dipengaruhi oleh harta benda dari mengejar keutamaan budi, hendaklah tuan-tuan siksa mereka, sebagai saya tuan-tuan siksa ini. Jika mereka menjadi sombong, mereka sangka diri mereka berharga. Padahal tidak ada harga mereka sepeser juga., maka azablah mereka sebagai tuan-tuan mengazab saya ini. Kalau petaruh ini tuan-tuan jalankan, barulah tuan bernama adil terhadap diriku dan anak-anakku.

Sekarang, sekarang telah dekat saat perpisahan. Hendaklah kita memilih jalannya masing-masing. Saya menuju maut, tuan-tuan menuju hidup. Tetapi siapakah yang sebenar-benarnya bahagia lantaran menempuh jalan masing-masing itu di antara kita? Hanya Allah Yang Maha Esa yang lebih tahu.

Hamka. 1982. Dari Lembah Cita-cita. Jakarta: Bulan Bintang. Hal. 55-56

Thursday, April 18, 2013

Jawaban atas Keluhan (Jawab-e-Shikwa)



Kata yang keluar dari hati tidak akan gagal memberi dampak;
Suci dan murni sifat alami mereka, pada keluhuran agung pandangan mereka berada.
Mereka tidak bersayap namun mereka mampu untuk terbang.
Mereka bangkit dari debu dan menusuk angkasa.
Sangat degil dan kurang ajar adalah cintaku, begitu banyak kerusakan tunduk.
Sangat  lantang keluhanku, sampai robek cakrawala.

Kubah tua surga mendengar. Ada seseorang di suatu tempat, katanya.
Planet-planet berbicara, di sini di ketinggian purba seseorang itu.
Bukan di sini, ucap bulan, itu pasti seseorang berasal dari kerendahan bumi.
Bima sakti berkata, itu pasti seseorang tersembunyi di sini yang tidak kita ketahui.
Hanya penjaga surga mengerti beberapa keluhanku

Dia bahkan mencemooh Allah, ia telah menjadi begitu bangga;
Apa dia Adam yang sama yang kepadanya para malaikat bersujud?
Dia mengetahui sesuatu, kuantitas dan kualitanya.
Ya, ini dia tahu, namun tidak rahasia dari kerendahan hati.
Kekuatan lisan mereka selalu bangga memamerkan.
Tapi karena gaya bicara mereka menjadi cukup tolol.

Suara berkata: Kisahmu memang penuh dengan lara
Air matamu gemetar di tepi dan siap untuk mengalir.
Tangismu dalam ratap langit telah berdentang;
Apa licik hatimu yang berapi-api telah kau pinjamkan kepada lidah
Begitu fasih kau kata gugatanmu, kau membuatny seolah doa.
Untuk berbicara dalam istilah yang setara dengan kami, manusia naik pada ketinggian langit

Nirbatas adalah anugerah Kami, namun tiada yang berharap padanya.
Tiada sesiapa pada jalan para pencari; pada siapa Kami menunjukkan jalan?
Tiada satupun terbukti pantas dengan perlakuan yang membuat mereka tinggi.
Jika ada satu yang pantas, Kami angkat dia ke kemegahan kerajaan,
Kepada mereka yang mencari, Kami akan menyibakkan ketakjuban dunia baru

Kamu tak punya kuasa dalam genggamanmu; pada hatimu tiada Tuhan bersemayam;
Atas nama rasul-Ku, kalian telah membawa aib.
Penghancur tuhan-tuhan palsu telah hilang; hanya pembuat berhala memarak;
Anak-cucu Ibrahim telah meninggal; Benih kemusyrikan Azar bertahan.
Keasingan kawan yang kau jaga; dari tong baru anggur tua kamu tuang;
Kau telah membangun kabahmu sendiri dengan berhala baru sebab kamu adalah dirimu yang baru.

Terdapat hari-hari lampau saat Allah kamu hargai sebagai keagungan;
Bunga Tulip Islam adalah kebanggan gurun pada saat mekar.
Terdapat hari-hari lalu saat setiap muslim mencintai satu-satunya Allah yang mereka kenal.
Pada suatu waktu Dia adalah kekasihmu; Kekasih yang sama yang saat ini kau bilang palsu.
Sekarang pergi dan ikat imanmu untuk sembah kepada beberapa tuhan lokal
Dan  penjarakan Muhammad mengikut kepada beberapa orang local.

Siapa yang menghapus lapisan kepalsuan dari lembaran sejarah?
Siapa yang membebaskan manusia dari rantai perbudakan?
Lantai Ka’bah-Ku oleh dahi siapa disbersihkan?
Siapa mereka yang menggenggam Qur’an-Ku dalam dada mereka?
Leluhurmu lah mereka itu: Beritahu Kami siapa kamu, Kami berdoa?
Dengan tangan barpangku kamu duduk menunggu fajar hari yang lebih baik.

Satu-satunya orang di dunia yang kehilangan setiap kemampuannya adalah kamu.
Satu-satunya ras di dunia yang tidak peduli kebusukan sarangnya adalah kamu.
Timbunan rumput kering yang didalamnya menyembunyikan cahaya api adalah kamu.
Yang suka menjual nisan bapaknyanya adalah kamu.
Jika sebagai penjual nisan kamu telah sedemikian masyhur.
Apa yang dapat meghentikanmu menjual batu buatan tuhan?

Beban berat cahaya fajar, bagaimana kebencian kau timbul?
Mengapa protes kau mencintai Kami? Adalah mimpi yang kau hargai.
Pada riang ruhmu puasa ramadhan menjadi tekanan berat;
Tanya pada dirimu  dan jawab: Inikah jalan keiimanan?
Orang terikat pada iman; tanpa iman mereka menjadi berakhir;
Jika tiada yang mengikatmu, kau seumpama meteor, bukan bintang di galaksi.
Penasehatmu belum matang: tidak ada substansi yang mereka khotbahi.
Hanya ritual panggilan kepada pendoa; ruh Bilal telah lenyap.
Tidak ada akhir dalam berfilosofi; Diskursus Ghazali tetap tak terbaca.
Kini ratapi masjid-masjid kosong. Tidak ada jamaah mengisi dengan doa.
Orang-orang seperti kaum terhormat Hijaz tidak lagi di sana.

Kalian adalah satu ummat, kau berbagi bersama kebaikan dan dukamu,
Kalian punya satu iman, satu kepercayaan dan satu hutang kesetiaan kepada Nabi.
Kalian punya satu Ka’bah suci, satu Tuhan dan satu kitab suci, al-Qur’an,
Apa begitu sulit menyatukan dalam satu komunitas setiap Muslim?
Ini adalah faksi-faksi pada satu tempat; divisi-divisi ke dalam kasta-kasta yang lain.
Di saat ini inikah jalam menuju kemajuan dan kemakmuran?

Kalian semua minum anggur memanjakan tubuh, membawa hidup mudah tanpa perjuangan.
Kamu berani memanggil dirimu Muslim? Inikah jalan hidup seorang Muslim?
Kamu tidak mengambil kesetiaan Ali pada kemiskinan, tidak juga jalan Usman mencari kekayaan;
Hubungan jiwa macam apa yang ada antara leluhurmu dan kau?
Sebagai Muslim leluhurmu dihormati;
Kamu menyerahkan al-Quran dan dunia menolaknya.

Allama Mohammad Iqbal

Jawab-e-Shikwa (The answer to the complaint)
Translated into english by Khushwant Singh
Alih bahasa oleh saya

Friday, April 12, 2013

Jaman Wis Akhir

Kalau yang sunyi engkau anggap tiada, maka bersiaplah terbangun mendadak dari tidurmu oleh ledakannya. Kalau yang diam engkau remehkan, bikinlah perahu agar di dalam banjir nanti engkau tidak tenggelam.

Kalau yang tidak terlihat oleh pandanganmu engkau tiadakan, bersiaplah jatuh tertabrak olehnya. Dan kalau yang kecil, kalau yang kecil engkau sepelekan, bersiaplah menikmati kekerdilanmu di genggaman kebesarannya.

*****

Kalau memang yang engkau pilih bukan kearifan untuk berbagi, melainkan nafsu untuk menang sendiri, maka terimalah kehancuran bagi yang kalah dan terimalah kehinaan bagi yang menang.

Kalau memang yang mengendalikan langkahmu adalah rasa senang dan tidak senang, dan bukannya pandangan yang jujur terhadap kebenaran, maka buanglah mereka yang engkau benci, dan bersiaplah engkau sendiri akan memasuki jurang.

*****

Jaman wis akhir, jaman wis akhir bumine goyang
Akale njungkir, akale njungkir negarane guncang
Jaman wis akhir, jaman wis akhir bumine goyang
Akale njungkir, akale njungkir negarane guncang

Awan berarak, nyawa manusia berserak-serak
Badai menghantam, laut terbelah, bumi terpecah
Orang bikin luka, orang menganiaya diri sendiri
Sirna akalnya, lenyap imannya, hilang jejaknya

Jaman wis akhir, jaman wis akhir dunyane sungsang
Makmume gingsir, makmume gingsir, imame ilang
Jaman wis akhir, jaman wis akhir dunyane sungsang
Makmume gingsir, makmume gingsir, imame ilang


Orang menangis, keranda berbaris di bawah gerimis
Hamba bersimpuh, hamba bersujud, ngeri dan takut
Orang mencakar, orang menampar wajahnya sendiri
Hamba terkapar, jiwa terbakar oleh sepi

Jaman wis akhir, jaman wis akhir langite peteng
Atine kafir, atine kafir uripe meneng
Jaman wis akhir, jaman wis akhir langite peteng
Atine kafir, atine kafir uripe meneng


Duh Gusti Allah adakah sisa kasih sayang-Mu
Hamba celaka, hamba durhaka tidak terkira
Di manakah hamba sembunyi dari murka-Mu
Selain dalam tak terbatasnya cinta kasih-Mu

Jaman wis akhir, jaman wis akhir banjire bandang
Sing mburi mungkir, sing mburi mungkir sing ngarep edan
Jaman wis akhir, jaman wis akhir banjire bandang
Sing mburi mungkir, sing mburi mungkir sing ngarep edan


*****

Kalau memang yang bisa engkau pahami hanyalah kemauan, kepentingan, dan nafsumu sendiri, dan bukannya kerendahan hati untuk merundingkan titik temu kebersamaan, maka siapkan kekebalan dari benturan-benturan dan luka, untuk kemudian orang lain menggali tanah untuk menguburmu.

*****

Monolog: Emha Ainun Najib
Lagu: Kiai Kanjeng
Sumber

Tuesday, April 9, 2013

METAFISIKA ARISTOTELES

Cacatan Kuliah II Filsafat Syed Muhammad Naquib al-Attas
INSISTS, Kalibata, Jumat, 5 April 2013 / Jumadil 1413
Pemateri: Ust. Adnin Armas, MA.

Filsafat kaum muslimin tidak lepas dari Filsafat Aristoteles. Karena tantangan filsafat datang dari pandangan Aristoteles. Sedang Filsuf lain sebelum Aristoteles, telah  terangkum dalam karya-karya Aristoteles.  Jika kita hendak memahami filsafat Islam maka harus pula mempelajari filsafat barat agar mengerti konteks pembicaraan. Misal, ketika Naquib Al-Attas menyebut bahwa Tuhan tidak termasuk dalam 10 Kategori. Maka 10 Kategori yang dimaksud merujuk pada metafisika Aritoteles pada Organon (Logika). Meski demikian, filsuf muslim mempunyai konsep yangg berbeda dan memasukkan konsep-konsep baru pada topik pembahasan yang sama dengan filsafat barat. 
Meta artinya setelah, Fisika artinya mengenai alam. Aristoteles tidak menggunakan istilah metafisika , penamaan metafisika merupakan istilah dari penyunting. Aristoteles menggunakan istilah First Philosophy, Sophia/wisdom, Being Qua Being, Theologike. Sophia merupakan ilmu yang membahas dasar-dasar sesuatu. Aristoteles mengarang 14 makalah tentang metafisika. A, α, B, t, Δ, E, Z, H, Θ, I, K, Λ, M, N.
Metafisika berbeda pembahasan dengan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. IPA membahas sesuatu dalam kaitannya dengan hukum alam, sebagai sesuatu yang bergerak dan mengalami perubahan. Saintis mengkaji sesuatu melalui pergerakan (study thing qua movable). Pakar Matematika mengkaji sesuatu melalui yang dapat dihitung dan diukur (countable and measurable). Sebaliknya, para metafisis mengkaji sesuatu dengan cara yang lebih umum dan abstrak, qua beings. Jadi Filsafat Pertama mengkaji sebab-sebab dan prinsip-prinsip wujud melalui wujud (First philosophy studies the causes and principles of beings qua beings).
Aristoteles (384-323 SEB) memaparkan para pemikir sebelumnya yang berupaya mencari Prinsip Pertama dan Penyebab segala sesuatu. Socrates, Plato, Parmenides, Anaximendes, dlsb.  Plato tidak banyak membahas metafisika melainkan Fisika, tentang alam.
Thales menyatakan air (udatodes) adalah penyebab segala sesuatu. Anaximender berpendapat dari tak hingga  (apeiron). Anaximenes beranggapan dari udara (air). Hippasus dan Heraclitus menyatakan api (puur), sedang Empedocles menambahkan tanah  (geiros) sehingga menjadi empat unsur, air, udara, api, dan tanah. Democritus berpendapat adalah atom, yang tak terbelah, sebagai  sumber benda-benda yg ada. Pitagoras berpendapat dibalik segala sesuatu ada angka yang mampu menjelaskan semuanya, seperti musik. Parmanides yang mendasar menjadi itu adalah eksisten, maujud, ketiadaan itu tidak ada. Aristoteles berpendapat alam ide adalah wujud yang nyata.
Mereka semua berbicara tetnang hakikat wujud. Ma hiya? Apa yang paling mendasar dari wujud? Persoalan wujud ini akan membawa permasalahan yang lain. Apa yang membedakan wujud dengan sifat? Sebab-akibat. Universal-partikular, Satu-Banyak, Potensialitas-Aktualitas, Keharusan-Kemungkinan.
Ilmu yang membahas wujud adalah Ontologi (Onthos = Wujud / Loghos = ilmu). Ambil contoh Laptop. Laptop bisa berwarna merah dan lainnya, besar dan kecilnya, sedang ditaruh terbuka atau tertutup. Tapi sifat-sifat itu bukanlah hakikat wujud laptop itu sendiri. Untuk dapat membahas wujud (ontologi) ini, kita perlu mempelajari ilmu-ilmu lain. Awalnya adalah logika/mantiq, kosmologi, kemudian Fisika ilmu tentang alam, baru kemudian metafisika/ontologi.
Pembahasan Metafisika adalah tentang wujud. Seringkali kita bertanya, apa itu pulpen, apa itu buku, apa itu mobil? Metafisika tidak membahas ini, karena itu akan menjadi pertanyaan partikular. Metafisikan membahas yang lebih universal, apa itu wujud? Yang kita bilang itu ada itu apa? Apa itu apa? Ma hiya? Ketika kita akan membahas sesuatu, kita perlu logika untuk mencapai kejelasan.

Logika
Ontologi Aristoteles menyaratkan Logika. Wujud dapat dipahami dengan 10 Kategori. 10 Kategori tersebut dapat dilihat dalam karyanya Organon. Kesepuluh kategori itu adalah Substansi (uwsia), Kuantitas (poson), Kualitas (poion), Relasi (prosti), Aksi (poyein), Pasif (pasyein),  Di mana (tru), Kepemilikan (exein), Kapan (pote), Posisi (keistai). 10 Kategori tersebut dibagi menjadi dua bagian besar, Substansi (uwsia) dan Aksiden (sumbebekos) yang meliputi 9 kategori lainnya.
Substansi adalah makna yang paling dasar dan definitif, yang tidak disifatkan kepada subyek (pribadi) dan juga tidak hadir di dalam subyek. (Substance, in the truest and primary and most definite sense of the word, is that which is neither predicable of a subject nor present in its essence). Aksiden disifatkan ke dalam subyek dan ada di dalam subyek.
Istilah-istilah di atas jangan dimaknai dengan pengertian umum yang kita jumpai di keseharian meski kata itu sama. Substansi itu bukan isi, kualitas bukan cuma bagus atau tidak, tapi sakit, bahagia juga termasuk. Kuantitas membahas tentang banyaknya, bentuknya. Penyebutan istilah yunani kuno digunakan untuk mengingatkan kita kepada pengertian awal dalam penggunaan istilahnya. Contoh, manusia sebagai genus, universal, yang mendasar, adalah uwsia. Manusia bernama Reza adalah yang manusia ganteng, pakai baju garis-garis, berwarna sawo matang, sebagai aksiden, yang partikular, yang spesies. Perubahan itu ada karena ada sesuatu, dari tidak ada menjadi ada. Sesuatu yang secara mendasar tidak ada, tidak mungkin menjadi ada
Ini merupakan bab pertama dari organon yakni Logika dan 10 Kategori, untuk menjelaskan secara jelas apa yang sedang dibicarakan. Fakhruddin ar-Razi dan Ibnu Sinna ketika menulis Asy-Syifa’ diawali dengan menuliskan bab logika atau mantiqiyah, baru setelah itu tentang alam (thabi’iyah) setelah itu ilahiyat (metafisika).

Ta Fusika, Konsep Alam Aristoteles
Dalam karyanya Ta Fusika, Aristoteles mengkritik para pendahulunya. Seperti tadi dipaparkan sebagian filsuf yunani berpendapat tentang asal-mula penciptaan alam dari air, udara, api, tanah, atau gabungan dari unsur-unsur tersebut. Alam ini bukan terbentuk atas dari satu unsur atau empat unsur, tetapi dari lima unsur, ditambah satu ether. Hayuula/ether adalah materi yang pertama, bintang-bintang dan galaksi. Benda-benda angkasa terbuat dari ether, sedang yang dibumi adalah empat unsur yang lain. 
Aristoteles membahas perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang terjadi dari yang sebelumnya tidak terjadi. Perubahan selalu terjadi dari sesuatu yang ada.  Seperti bangku yang berasal dari kayu. Perubahan bukan berasal dari sesuatu yang tidak pernah sama sekali terjadi. 
Menurut Aristoteles terdapat 3 hal saat mengkaji alam yang diabaikan oleh para filsuf sebelumnya. Ketiga hal tersebut adalah form, matter, dan privation. Baginya semua benda di alam mengalami perubahan, dan segala perubahan tersebut dapat dianalisa ke dalam tiga konteks tersebut.
Aristoteles juga berpendapat bahwa ruang, waktu, gerak dan benda tidak dapat terdiri dari atom, seperti pendapat Demokritus dan para mutakalimun percaya kepada atom. Ruang, waktu, gerak, dan magnitude adalah dapat dibagi menjadi tak hingga, mendapat dukungan dari Ibnu Rushd dan Ibnu Sinna. Saat sesuatu dibagi terus tanpa hingga, sehingga pada akhirnya ini adalah konsep yang berlaku konseptual. Menurut mutakalimuun seprti Ar-Razi, waktu adalah bersifat atomik, waktu adalah atom. Anggap waktu dibagi menjadi masa lalu, sekarang, dan masa  depan.  Apa yang disebut sekarang, segera menjadi masa lalu. Menurut aristoteles alam adalah finite, akan berakhir. 

Metafisika
Metafisika adalah ilmu yang membahas tentang dasar-dasar dan sebab-sebab wujud. Apa beda dengan ontologi? Bisa disamakan, bisa metafisika lebih luas. Pembahasan wujud tidak dapat dipisahkan dari 10 Kategori yang telah dipaparkan dalam Kategoriae dalam Organon. Pembahasan wujud dalam metafisika mencakup Substansi dan Aksiden, Sebab dan Akibat, Satu dan Banyak, Sebelum dan Sesudah, Potensialitas dan Aktualitas, keharusan dan kemungkinan.
Menurut Aristoteles dalam metafisika, substansi adalah “that which is primaly the what”. Artinya, substansi adalah eksistensi yang berdikari sendiri. Substansi ada yang movable dan ada yang immovable. IPA akan menjadi Filsafat Pertama sekiranya tidak ada yang immovable (seperti jiwa dan Tuhan). Namun, karena substansi ada yang immovable, maka Teologi-lah yang menjadi Filsafat Pertama. Substansi yang abadi tidak digerakkan dan terpisahkan dari benda-benda yang dipersepsikan indera. Substansi yang abadi ini tidak memiliki magnitude, bagian-bagian, dan tidak dapat dibagi. Bagi Ibnu Sinna, substansi ada 4 yakni ule (materi), morfe (bentuk), ule kai morfe (materi dan bentuk), dan psyche (jiwa).

Sebab-Akibat
Segala sesuatu ada karena ada sebabnya. Bagi Aristoteles ada 4 sebab yaitu sebab materi (semen, pasir, bata), sebab bentuk (rumah), sebab akhir (tujuan dari membuat rumah), dan sebab pembuat (arsitek). Sebab akhir menjadi sebab paling utama, paling tinggi. Sebab-sebab lain digerakkan oleh sebab akhir/tujuan. Ketika kita wujud kita juga harus membahas akibat.

Satu dan Banyak
Makna Satu adalah homonim. Ia dapat menjadi satu yang tidak mengandung aspek lain/banyak seperti Tuhan atau titik, atau satu yang mengandung aspek banyak seperti satu manusia tapi bisa ada tambahan dari manusia yang lain. Jika memuat aspek banyak, maka aspek banyak tersebut bisa aktual atau potensial. Ia aktual saat berbagai hal bersatu menjadi keseluruhan. Ia potensial karena kuantitas yang berterusan sebenarnya adalah satu, tapi dapat dibagi secara potensial.  Dalam konsep universal, misal banyak spesies di bawah satu genus, dan banyak individu adalah satu spesies.
Sesuatu yang bukan satu adalah banyak. Banyaknya sesuatu dapat dipisahkan berbeda, berlawanan atau bertentangan.  Ada empat jenis yang berhadap-hadapan (opposition). 1) wujud X berhadapan dengan bukan X (misal, manusia dan bukan manusia). 2) berhadapan dalam relasi (misal, teman, ayah, anak). 3) berhadapan antara keadaan (habitude) dan ketiadaan (privation) (misal, gerak dan diam). 4) berhadapan antara yang berlawanan (misal, kedinginan dan kepanasan).

Sebelum dan Sesudah
Aristoteles menyebut 5 bentuk ‘lebih dulu’, yaitu pertama, ‘lebih dulu’ sebelum menurut waktu. Kedua, sebelum yang tidak dapat terbalik seperti ‘satu’ lebih dulu dari ‘dua’. Urutan tidak dapat dibalik. Ketiga, ‘lebih dulu’ digunakan dalam sains dan orasi. Misal, ada yang lebih dulu dalam susunan. Huruf lebih dulu dari kata. Keempat, lebih dulu secara alami. Kelima, lebih dulu seperti sebab lebih dulu dibanding akibat. Seperti, manusia lebih dulu bergerak daripada bayangan, Tuhan lebih dulu dari alam.

Partikular dan Universal
Menurut Aristoteles, sesuatu yang universal itu ada dalam pikiran, bukan dalam kenyataan. Jadi kemanusiaan (humanity) dan kejiwaan (animality), misalnya, ada dalam pikiran seseorang. Sebuah universal menjadi partikular dengan perbedaan yang khusus (specia differentia). Kejiwaan ada dalam manusia dan hewan. Sedang akal adalah perbedaan khusus dari manusia yang tidak turut campur dengan hakikat dan esensi dari kejiwaan, jika akal turut campur maka kuda tidak akan wujud.

Potensialitas dan Aktualitas
Apa yang wujud nyata disebut aktual (entelekia). Apa yang tidak wujud tetapi ada kemungkinan wujud, disebut wujud secara potensial. Apa yang wujud secara potensi bukanlah substansi, karena ia tidak wujud dengan sendirinya; ia wujud dengan sesuatu yang memiliki wujud secara potensial. Ada dua jenis potensial: (1) Potensial aktif, keadaan yang wujud dalam pelaku yang memungkinkan bagi pelaku untuk beraksi, misal panasnya api (potensial pasif); ini adalah keadaan sesuatu yang membuatnya sebagai wadah bagi sesuatu yang lain. Potensial aktif juga mengindikasikan hanya aksi. Misal, panas memiliki daya untuk menyebabkan pembakaran, ia tidak dapat mnyebabkan tidak kebakaran. (2) Potensial yang mengindikasikan keduanya, misal manusia memiliki potensi untuk melihat atau tidak melihat, sesuai kemauannya. Bagaimanapun, ketika kemauan ikut serta kepada potensialitas dan tidak ada halangan yang menghalangi, maka sesuatu yang aktual harus akan ada. Misal, alam harus ada karena tidak ada halangan baginya untuk ada. Apa Tuhan tidak mampu menciptakan alam? Dulu Tuhan tidak mau, sekarang mau? Memangnya Tuhan itu manusia berubah-ubah kemauan. Maka alam harus ada. 

Keharusan dan Kemungkinan 
Wujud sesuatu adalah kewujudannya, (1) yang keharusannya bagi dirinya, atau (2) tidak mungkin bagi dirinya, atau (3) mungkin bagi dirinya. Apa yang tidak mungkin bagi dirinya akan tidak pernah wujud. Jadi, bagi sesuatu untuk wujud, ia harus mungkin bagi dirinya. Selanjutnya, jika ada sebab, wujudnya menjadi keharusan. Jika sebab tidak ada, ia menjadi tidak mungkin. Apa yang wujud, tetapi bukan dengan keharusan, maka ia adalah mungkin bagi dirinya (contigent by itself). Tetapi, ia bukan mungkin dengan sesuatu yang lain, yaitu, ia dibuat wajib dengan sebab bagi wujudnya. Ini intinya nanti, fenomena yang ada dibagi tiga, ada yang mungkin, ada yang tidak mungkin, ada yang wajib. Ini terkait dengan eksistensi dan esensi. Eksistensi sesuatu yang mungkin disebabkan oleh sesuatu sebab yang lain, seperti yang ada pada alam. Berbeda dengan Dia, sang Pencipta, eksitensinya tidak bergantung kepada yang lain, dia tidak disebabkan oleh lainnya.

The Unmoved Mover
Apa yang wujud dengan keharusan bagi dirinya (wujud yang harus), adalah wujud tanpa ada penyebab apapun (prima causa/uncaused cause). Jika tidak begitu, maka apa yang wujud itu tidak wujud oleh dirinya sendiri. Jadi, wujudnya tidak disebabkan oleh penyebab apa pun. Ia juga tidak banyak di dalam dirinya. Ia tidak memiliki bagian karena jika itu terjadi, maka the unmoved mover akan memiliki sebab. Ia juga tidak memiliki sifat-sifat (aksiden). Jika sifat-sifat itu ada maka esensi the unmoved mover, akan menjadi bagian darinya. The unmoved mover juga hanya satu. Ia tidak dapat menjadi dua. Karakter the unmoved mover juga hanya satu. The unmoved mover juga tidak mengalami perubahan. Jika ia mengalami perubahan, maka perubahan tersebut memiliki sebab, maka the unmoved mover akan memerlukan sebab. Disebabkan the unmoved mover tidak tergantung kepada sebab apapun, maka the unmoved mover tidak tertakluk kepada perubahan. Esensi dari the unmoved mover adalah eksistensinya. The unmoved mover juga bukan substansi dan juga bukan aksiden. Ia bukan substansi karena substansi memiliki esensi. Ia bukan aksiden karena ia bukan berada di dalam subjek. The unmoved mover tidak termasuk ke dalam 10 Kategori. Eksistensi di dalam 10 kategori adalah aksidental, sedangkan eksistensi the unmoved mover adalah esensi itu sendiri. Jadi, the unmoved mover tidak tergolong kepada genus, dan ia tidak memiliki perbedaan yang khusus, dan ia tidak memiliki definisi. Ia bukan berada dalam sebuah wadah, bukan pula di dalam subjek, ia tidak memiliki yang berlawanan (contrary). Ia tidak memiliki spesies, ia tidak memiliki sesuatu yang sama dengannya. Ia tidak memiliki sebab, jadi ia tidak berubah dan ia tidak dapat dibagi.


*Seluruh tulisan ini mengacu pada pemaparan dan makalah pemateri. Jika ada isi yang tidak tepat, kembali kepada pemahaman saya pribadi.