Wednesday, April 25, 2012

Menggumam Iqbal

Sir Muhammad Iqbal Rahimahullah


Perhatikan hanya pada orang-orang besar dan ide-ide besar. Perkataan seorang guru kepada muridnya (Prof Wan. Rihlah Ilmiah. 2012. Jakarta: Insists)
---
Menurut anda, dari segi konsep dan aksi kepemimpinan, mana yang lebih besar antara Soekarno dengan Iqbal?
---
Iqbal besar dan bertambah besar karena beliau berguru secara spiritual kepada maulana Jalaluddin Rumi. Dalam satu kesempatan, Iqbal tertidur dan bermimpi bertemu Rumi. Saat terbangun, dia mendapati dirinya menulis beberapa bait Syair Matsnawi Rumi.
Meski Iqbal tidak bisa berbicara persia tapi ia mampu menulis syair-syair dalam bahasa persia yang diakui oleh sastrawan persia sendiri memilik nilai sastra yang tinggi.
---
Buya Natsir menghormati Iqbal. Dalam buku Pesan Islam terhadap Orang Modern, beliau menulis
"Di India tampil Muhammad Iqbal, seorang filosof dan penyair agung, yang telah dapat menyelami falsafah dan kebudayaan Barat, di samping aqidah, falsafah, dan kebudayaan Islam"
"apakah dia seorang seniman yang tampil sebagai ideolog, ataukah dia seorang ideolog yang menggunakan seni sastra sebagai medianya"
---
Ini tiga syair Iqbal yang dikutip buya Natsir dalam buku Pesan Islam Terhadap Orang Modern.

Tentang utilitarianisme dan komersialisme Barat:
"Akal dan budi dan agama telah diperdayakan bid'ah.
Dan cinta asyik telah dikalahkan serba dagang semata...
Kau berserikat dengan benda.
Ilmu yang memecahkan soal demi soal benda.
Tak memberikan padamu apa-apa, kecuali perkisaran zhahir.
Kematianmu mencanangkan kedatangan hidup untuk dunia.
Tunggulah sejenak, dan ketahuilah.
Apa akhirnya kawan! ..."

Tentang kondisi kaum muslimin:
"Benarkah kamu telah bersedia di zaman baru...
Menjadi 'abid Allah, tentara Muhammad...
Jadi permata berlian memancarkan cahaya agama ini?
Mana boleh! Pelupuk matamu telah berat...
Untuk menyambut cahaya subuh, dengan takbir shalatmu, ...
Perangaimu telah turut tidur dengan pelupukmu, ...
Apakah bedanya terang siang dengan gelap malam, ...
Bagi yang tidur mendengkur tengah hari! ...

Seruan bangkit:
Bangkitlah!
Dan pikullah amanat ini atas pundakmu, ...
Hembuskanlah panas napasmu di atas kebun ini, ...
Agar harum-haruman narwastu meliputi segala ...
Janganlah, jangan dipilih hidup bagai nyanyian ombak ...
Hanya bernyanyi ketika terhempas di pantai ...!
Tapi,
jadilah kamu air bah menggugah dunia dengan amalmu! ...

---
Ada tiga buah karya monumental (magnum opus) Iqbal dalam bentuk puisi yakni Javid Namah (Nyanyian Keabadian), Asrar-i-Khudi (Rahasia Diri), dan Rumuz-i-Bekhudi (Misteri Kedirian). Saya punya 2 karya pertama dan Rekonstruksi Pemikiran dalam Islam. Adakah kawan yang punya Rumuz-i-Bekhudi dan Payam-i-Mashriq? Siapa yang jual, saya beli. Siapa yang meminjami, saya gandakan.
---
Sedang kesemsem dengan dua penyanyi dari anak benua India, Hina Nasrullah dan Sanam Marvi. Mereka berdua adalah biduan yang membawakan syair-syair Iqbal dalam musik tradisional India/Pakistan. Merdu untuk menemani tidur.
---
Di museum dan makam Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) di Konya - Turki, terdapat nisan penyair-penyair agung yang terpengaruh oleh Rumi, Muhammad Iqbal (1877-1938) dan ┼×air Nef'i (1575-1635). Dalam nisan itu tertulis:
"This honoury resting place has been granted to Muhammad Iqbal, Pakistan's national poet, by his spiritual master, Mevlana Rumi"
Nisan itu merupakan sebuah penghormatan kepada Iqbal dari (juru kunci) Rumi. Pusara Iqbal sendiri ada di Lahore, Pakistan.

Nisan Iqbal di Museum Maulana Jalaluddin Rumi, Konya-Turki

Saturday, April 21, 2012

Singkat Galau

Di setiap rintik hujan yang jatuh ke bumi tersebut nama-Nya. Bisakah kau dengar?
---
Janji Tuhan lebih bisa kupercaya dibandingkan apa yang kugenggam sekarang. He has put a seal on your destiny.
---
Bagaimana mungkin engkau menuntut Tuhan menegakkan keadilan kepada orang lain, sedang dirimu bergantung sepenuhnya kepada kasih sayang-Nya?
---
Masih ingatkah kau saat kita bersama mengucap, "Benar, kami menjadi saksi"? Dan setelah kita berjalan di bumi, lumpur itu begitu pekat menarikmu lepas dari genggamanku.
---
Kita begitu berbeda dalam segala hal kecuali dalam cinta. Bukankah memang ini yang diperlukan? Saling melengkapi.
---
Berpegang pada janji Tuhan, saya hanya akan dapatkan yang lebih baik. Jika perlu saya perang jabatan sama bidadari.