Thursday, March 29, 2012

Donna Donna

Calf and Swallow

On a waggon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

Chorus:
How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer`s night.

Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

“Stop complaining!” said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?”

+ Chorus

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

+ Chorus

Artist: Joan Baez
re-singing by Sita RSD on GIE!

Tuesday, March 27, 2012

Rekapitulasi Status Facebook Bulan Maret

Pengorbanan dan pelayanan; apa tidak ada dua kata ini dalam diri pejabat dan pegawai pemerintah? Belum bekerja (maks) saja sudah takut diancam, belum mampu menyejahterakan malah menyusahkan. Tuhan, lindungi rakyat negeri ini dari kezaliman penguasa.

Being single won't stop me doing night shopping in saturday night. Let's do the mall!!

Be a lion and live like a king!

Sama-sama mengusung lagu pop dan cinta, Chrisye dan Ebiet, saya lebih suka mendengar lagu-lagu Ebiet daripada Chrisye. Saya punya album lengkap Ebiet untuk didengar sedang untuk Chrisye cukup dengar dari orang lain.

Deepthinking: apakah kita hidup menjalani hari-hari baru (1, 2, 3, ...) atau sekedar menjalani hari-hari yg kita "pernah lalui" (..., 3, 2, 1)?

Mengapa harus ada deklarasi -- UN Jujur, Antikorupsi, dll -- saat semua itu memang harus dilakukan? Memang Indonesia, yang penting seremoni karena itu sudah dianggap pelaksanaan.

Ulama rusak (su') membuat masyarakat bodoh. Masyarakat bodoh memilih pemimpin zalim. Pemimpin zalim mengangkat ulama rusak. Begitulah lingkaran setan terbentuk.

ketimpangan distribusi pendapatan mudah saja dilihat dari dunia sepakbola. Sama-sama berkeringat, sama lamanya, Ronaldo mendapat bayaran 3 M/pekan sedang Bepe cuma 1 M/tahun. Unbelievable!

Menyebut aktivis Jil sbg Islam liberal sama saja menyanjung mereka karena mereka gak islam-islam banget atau gak liberal-liberal banget. Menggunakan kata Islam Liberal merusak islamnya dan merusak liberalnya. Saya lebih suka menyebut mereka, 'brengsek'. #indonesiatanpaorangbrengsek.

Dapat cerita dari Ibu bahwa buyut saya, alm. Zawawi, di Senayan dulu punya sekolah SD namanya Mu'awwanah (tolong-menolong). Kok tiba2 jadi pengen diriin sekolah bwt generasi mude betawi khususnya dan anak-anak jalanan umumnya. Bismillah

Ocehan august comte tentang 3 tahap perkembangan cara berpikir (teologi, metafisik, positivis) manusia terbukti salah alamat. Di jaman modern positivistik ini, pejabat makin edan kelakuannya. Ada hakim agung suka klenik, ada politikus adu sumpah pocong, ada-ada aja.

Punch and kick can hurt me but a word won't.

Hubungan liberalisme dengan kapitalisme seperti hubungan ibu yang melahirkan majikan. Liberalisasi membebaskan ekonomi dari campur tangan kekuasaan agar setiap rakyat mandiri bebas berusaha, setelah lepas ekonomi dikuasai para kapitalis membatasi-menindas rakyat yang ingin mandiri berusaha.

Kalau pemimpin seperti sopir, lelah sekali rasanya megang stir terus dan waspada setiap saat. Sedang pengikut cukup duduk santai dan berbuat semaunya.

There's no such thing as "fides quaraens intellectum" in Islam, because we only believe in what we have the knowledge about it. That's why we call the declaration of faith by syahadat.

Di facebook ada gerakan #IndonesiaTanpaJIL
Saya paling suka lihatnya apalagi klo akhawat yg like. Tapi betul gk y dlm praktik riil mereka mau menghapus JIL?
#IndonesiaTanpaJIL => Indonesia tanpa (jaringan) ikhwan lajang.

Tesis alGore dalam "The Inconvinient Truth" saat satu wilayah mengalami hujan berlebihan ada wilayah di belahan bumi lain yang mengalami kekeringan berkepanjangan. Ini terjadi karena debit air di bumi ini tetap, entah dalam bentuk uap, air, es di darat atau laut. Jadi apa doa yg mesti kita panjatkan saat hujan turun lagi dan lagi?

Saya heran dgn orang-orang yang percaya akan kemahabesaran nusantara (atlantis, piramida, khayangan dewa/i riil) tp malah menafikan agama sebagai petunjuk langsung dari Tuhan untuk manusia. Silahkan saja merekonstruksi sejarah purba nusantara tapi untuk bs memakmurkan bumi ke depan kita butuh pegangan nilai etika dan moral yang benar serta ilmu dn pengetahuan. Siapa tahu nenek moyang purba kita dulu juga bertauhid.

Setelah nonton dokumenter "dhani yahudi" yg menerangkan byk simbol yahudi/setan yang dimasukin ke vidclipnya, makin menegaskan bahwa dakwah itu bukan cuma mengajar ilmu atau mendirikn negara tapi juga harus merasuk ke kebiasaan, budaya, dan adat sehingga orang dalam keseharian keseluruhan hidupnya berislam.

Bulan lalu bilang ke orang, "adat digedein", hari ini bilang, "dasar gak tau adat", menit ini ngaku, "makan tuh adat". Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Fenomena maraknya dansa-dansi boy/girl band serupa dgn fenomena kesurupan massal. Sama" terjadi akibat kepribadian lemah dan rapuh yg mudah terpengaruh.

Adat itu satu cara membumikan syariat. Syukur kita punya alim ulama yang mampu menanamkan Islam bukan hanya di kepala, tapi juga hati, perilaku, sikap, sadar dan bawah sadar dalam keseharian berbudaya berbangsa bernegara.

Dulu tahu dun dan din pas belajar nahwu. Ternyate ada singkatannya sebagai syarat nyari mantu perempuan di betawi,
Dun = cakep dunianye (bisa masak atau keterampilan laennye),
Dan = pinter dandannye (tau rawat diri dn berpenampilan baik)
Din = bagus diennya (agamanye).

Mungkin nama kita bisa bertahan seabad, entah usia kita panjang atw ada anak2 yg trus mengenangnya. Tp bisakah nama kita bertahan semilenium? Mengingat kita adalah anak2 awal milenium.

Ujian kesetiaan bukan terletak pada selalu bersama dengan orang yang menemani kita, melainkan pada kesetiaan memegang mimpi-mimpi dengan atau tanpa ada orang yang menemani.

Saya pikir mungkin Tuhan tersenyum tadi saat melihat sebagian hambaNya di sudut atas kaki Gunung Salak sholat Jumat hanya memakan waktu kurang dr 15menit pdhal mereka tidak sedang dikejar kesibukan dunia seperti jam istirahat kantor atau kemacetan.

Lihat selalu kebaikan pada setiap orang/persoalan karena hati yang diterangi Cahaya hanya akan menemukan terang di matanya.

Terbaik; jangan mencari/melihat ke-terbaik-an dari kacamata dunia, bisa jadi kamu akn sesat memandang - pintar bs sombong, kaya dr korupsi, populer karena melacur, kuasa menindas. Lihat ke-terbaik-an hanya dari sisi akhlaq dan agamanya.
"terbaik, terbaik kupersembahkan untukmu yang terbaik - dewa 19"

Saturday, March 24, 2012

Visi dan Misi

Dalam ketenangan ada gejolak seperti halnya dalam peribahasa "air riak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan".

Hidup saya begitu tenang tanpa ada hiruk-pikuk dunia yang njelimet. Manusia gelisah tentang kemacetan, tentang lembur, bos galak, belanja apa, makan di mana, bayar kontrakan, dll. Semua itu mudah kita temui dalam kabar singkat di Facebook.

Dalam 1 hari, seorang pekerja akan menghabiskan waktu minimal 7 jam bekerja, 3 jam lama perjalanan, dan 5 jam tidur. Sisanya lenyap tak teridentifikasi untuk istirahat dan nonton. Saya sebagai seorang guru punya waktu libur 3 hari, dengan jumlah jam mengajar sebanyak 20 jam seminggu, dan sisanya kerja dan beraktivitas "serabutan" terserah saya.

Kata "serabutan" dan "terserah" ini yang menjadi tantangan bagi saya. Gejolak dalam ketenangan. Gambaran serabutan yang saya maksud adalah menjalankan berbagai macam tugas yang seharusnya dikerjakan oleh orang lain dengan jabatannya masing-masing. Tugas yang sering saya tangani selain Guru misalnya Bendahara, Operator Sekolah, Tata Usaha, Penjaga Lab, Wali Kelas, dan tak jarang Kepala Sekolah. Kapan menjalankannya dan bagaimana menjalankannya, terserah saya.

Mengapa saya mau mengerjakan itu semua dan/atau dipercayakan membantu tugas-tugas itu semua? Karena saya - Insya Allah - memang punya kemampuan untuk menjalankan itu semua. Mungkin ini beban sejarah yang harus saya tanggung. Di kampus dulu, saya mengikuti cukup banyak organisasi yang punya core competence berbeda-beda. Ragam budaya, ragam kegiatan, dan ragam keahlian yang diperlukan. Dari ragam itu dua komunitas yang paling berpengaruh adalah Komunitas Nuun tempat saya belajar tentang nilai-nilai dan UKM Wushu Gerak Naga UI karena saya berhasil mengejawantahkan segala pengalaman saya di keorganisasian dengan mendirikan "sendiri" UKM, dengan tidak mengurangi hormat saya kepada teman-teman yang telah membantu.

Terserah, karena saya sebenarnya punya hak untuk menolak melakukan apa-apa di luar pekerjaan utama saya sebagai Guru.


Terus Belajar dan Belajar
Menjadi seperti kutu loncat saat menjadi mahasiswa juga punya dampak buruk kepada saya. Saya tidak mempunyai hobi dan kemampuan khusus, dan tidak mendapatkan nilai khusus 'A'. Saya cuma mahasiswa 'C'. Maka di sini, di Pesantren Husnayain ini, saya ingin menegaskan (Bold) siapa diri saya, sebagai:
"Insan intelektual yang mengadakan ishlah di tengah masyarakat" 
Istilah untuk menjadi demikian oleh Ali Syariati disebut "Raushan Fikr" atau pemikir yang tercerahkan. Namun saya tidak menggunakan istilah tersebut karena saya sadari bahwa saya bukan pemikir utama. It's not my raison d'etre. I am a half breed. half intellectual and half activist.

Untuk dapat menuntaskan pernyataan misi hidup saya di atas, Tuhan telah sengaja menjalankan saya sampai di sini dengan segala pengalaman yang saya dapat. Pesantren Husnayain akan menjadi laboratorium saya mengekalkan atau menegaskan kemampuan saya dalam mengajar dan mendidik, belajar mengelola lembaga pendidikan, belajar ilmu-ilmu fardhu yang belum saya kuasai, memperbaiki dan memperindah akhlaq saya, dan sebagai tempat mempersiapkan diri untuk mengambil strata dua tentang kepemimpinan dan/atau menajemen organisasi (pendidikan).

Cita-cita
Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk dapat bersabar dan bersyukur untuk tetap berkhidmah di Pesantren Husnayain selama 5-6 tahun. Sekarang, saya telah mengajar di sini selama kurang dari 2 tahun maka saya masih punya waktu 3-4 tahun menjalankan rencana saya tersebut. Selepas dari sini, beberapa rencana saya adalah

  1. melanjutkan belajar ke universitas di luar negeri untuk mengambil bidang studi manajemen SDM atau manajemen pendidikan.
  2. mendirikan lembaga pendidikan tingkat sekolah menengah.
  3. berlanjut berjuang.....*infinitive possibilities*

Alasan mengapa harus mengambil kuliah di luar negeri, karena saya ingin belajar di universitas yang serius dengan kualitas pendidikannya. Serta, saya ingin mendapatkan rasa "cross culture" di dunia barat. Seperti Iqbal, Prof Rasjidi, Prof Wan, dll (Semoga Allah merahmati mereka semua), mereka menjadi orang yang betul-betul paham dengan  kebudayaan Barat, kelemahan dan kelebihannya.

Alasan mengapa lembaga pendidikan tingkat menengah karena untuk membentuk generasi-generasi muda Islam yang sadar akan jati-dirinya. Menghapus galau dan kenakalan remaja menjadi pemuda-pemuda Islam yang berilmu dan berkarya.

Dalam diam, saya berjalan
Dalam tenang, saya berjuang
Dalam sederhana, saya melimpah

Wallahu a'lam wal musta'an








Monday, March 19, 2012

Pesan Natsir Kepada Para Guru dan Ustadz di Pelosok

Saja mengutjapkan sjukur alhamdulillah, karena pada malam ini saja dapat menghadiri satu pertemuan dengan pengurus dari Taman Pendidikan Islam jang sudah pernah terdengar namanja oleh kawan-kawan di Djakarta, akan tetapi belum mengetahui benar-benar bagaimanakah usaha dan tindakan dari Taman Pendidikan ini.

Sekarang saja berada ditengah saudara-saudara. Saja rasanja berada kembali pada tangga saja sendiri. Sebab tatkala saja keluar dari bangku peladjaran, maka jang mula-mula saja hadapi dalam lapangan pekerdjaan dan perdjuangan, ialah lapangan pendidikan Islam ini.

Adapun jang sedang saudara-saudara kerdjakan sekarang, bukanlah suatu pekerdjaan jang lekas-lekas diketahui orang. Bukan suatu pekerdjaan jang saban hari tertulis di surat-surat kabar, bukan pula pekerdjaan jang dianggap orang herois, pekerdjaan pahlawan jang dipudja-pudji setiap hari. Saudara mentjari pekerdjaan djauh dari kota, jakni di kebun-kebun onderneming, menanamkan Agama dikalangan buruh-buruh perkebunan di gunung-gunung.

Akan tetapi ketahuilah saudara-saudara, bahwa ibarat orang memanah, sasaran saudara sudah tepat pada tampuknja benar, sebab orang sering kali lupa, bahwa potensi dan tenaga dari umat kita, sebenarnja terletak di luar kota, di desa, di tepi-tepi gunung, di tengah-tengah alam raja jang besar itulah!

Sekarang saudara menghadapi satu masjarakat jang terpisah, jang dinamakan masjarakat kebun, jang mempunjai sipat sendiri, penuh dengan penderitaan poenale-sanctie dan lain-lain sisa alam pendjadjahan. Itulah batang terendam jang saudara-saudara pikul sekarang.

Ini adalah pekerdjaan jang menghendaki kepada meniadakan diri, meniadakan diri dengan pengertian, membuat sesuatu pekerdjaan hanja karena besarnja kesadaran dan tidak ingin kepada pudji dan pudja. Tjukup saudara-saudara puas dengan mendapat keredaan Ilahi jang Ia-nja melihat usaha saudara-saudara.

Bolehlah saja disini menjatakan kegembiraan hati dan sjukur saja, karena dapat bertemu dengan teman-teman jang meletakkan dasar pikirannja bahwa dalam membangun sesuatu umat, dan membangkitkan tenaga umat, dasarnja harus diatur dengan satu falsafah hidup jang tidak didasarkan kepada kebendaan dan materiil. Djikalau sekarang sebahagian bangsa kita tenggelam dialam kebendaan jang meradjalela, maka saudara-saudara sekarang mentjarikan imbangannja antara kedjajaan djasmani dan kemakmuran batin. Saudara-saudara sedang melakukan pekerdjaan jang bersipat merintis dalam alam perdjuangan ini.

Masih banjak orang jang belum mengetahui, apakah jang hendak ditudju oleh Agama Islam kita ini. Orang masih sering berkata: “Islam adalah agama, jang tempatnja di surau atau di langgar-langgar. Orang Islam itu salat, berpuasa sekali setahun, naik hadji, membajar zakat; hanja itu sadjalah jang dinamakan Islam!” Mereka kurang mengerti, bahwa Islam tidak terbatas hanja sampai di situ sadja. Islam tidaklah semata-mata urusan manusia dengan Tuhan sadja, akan tetapi djuga urusan manusia dengan alam, urusan manusia dengan manusia. Falsafah hidup jang demikian itu, dilupakan kepada keluarga-keluarga jang hanja dihargai menurut titik keringatnja jang keluar waktu bekerdja; keluarga jang dilupakan orang, bahwa dia adalah manusia, bukan mesin; manusia jang hidup dan mentjari penghidupan sebagai kita, manusia jang berpikir dan merasa djuga.

Saudara-saudara akan meletakkan pandangan hidup mereka itu lebih dari pada jang biasa, lebih tinggi nilainja. Mereka tidak hanja bekerdja untuk menutup punggung jang tidak bertutup, bukan bekerdja hanja sekedar mengisi perut jang lapar, tetapi sebagai manusia lain-lainnja djuga untuk mendapatkan budi pekerti dan pandangan hidup jang lebih tinggi. Baik anak-anaknja jang saudara-saudara didik, maupun ibu bapanja jang telah terlandjur dalam masjarakat jang demikian rupa, tetaplah ada tudjuan bahwa mereka harus sedar akan harga dirinja sebagai manusia.

Mereka bekerdja tidak hanja sekedar untuk menutupi keperluan-keperluan djasmani, bukanlah semata-mata merupakan barang dagangan jang dihargai menurut djam dan dihitung dengan sen, tetapi bekerdja itu bagi mereka, dan bagi kita semua, dapat dilihat sebagai suatu alat untuk mengisi batin, ruhani disamping djasmani, sebagai suatu culturele-functie jang mendjadikan manusia itu lebih dari pada hewan. Djikalau kita sudah mengetahui, bahwa Islam adalah sistem kehidupan, sistem pemetjahan soal hidup jang ada di atas dunia ini, djikalau orang telah merasakan bahwa Islam itu adalah untuk kesempurnaan dunia, untuk kesempurnaan masjarakat dan dapat memberikan djiwa kepada pelbagai aspek dalam soal-soal peri kehidupan, — baik di lapangan pembangunan, baik di lapangan politik, maupun di lapangan sosial —,  maka nanti lambat laun orang akan mengerti bahwa Islam adalah suatu ideologi, ja bukan ideologi semata-mata, tetapi djuga adalah suatu falsafah hidup.

Maka djikalau saudara-saudara sudah mulai melangkah kearah demikian, adalah saudara-saudara  telah membawa satu risalah, satu missi jang sutji dalam perlumbaan hidup jang begitu menghebat seperti sekarang, Boleh saudara-saudara menganggap bahwa perbuatan itu tidak berarti, akan tetapi kalau dilihat dalam hubungan jang lebih luas, saudara-saudara nanti akan merasakan, bahwa saudara-saudara  adalah pradjurit dari suatu pekerdjaan sutji jang menghendaki kepada meniadakan diri, jang menghendaki djiwa jang ichlas dan sutji.

Mudah-mudahan apa jang telah ditjapai dalam setahun jang telah sudah, tjukup mendapat perhatian dari masjarakat, dari madjikan-madjikan dan djawatan-djawatan selandjutnja. Saudara-saudara pandanglah semua pertolongan itu sebagai suatu ni'mat Ilahi jang akan saudara-saudara pergunakan sebaik-baiknja. Djika-lau saudara-saudara terus-menerus melakukan tindakan jang demikian itu dengan tidak mengenal tjapek dan tidak mengenal pajah, insja Allah masjarakat akan membantu apa jang saudara-saudara telah kerdjakan.

Terutama boleh saja njatakan penghormatan saja terhadap saudara-saudara jang telah rela mendjadi guru di daerah-daerah jang demikian itu. Mudah-mudahan saudara akan tjukup kekuatan terus dalam menghadapi pekerdjaan itu, walaupun keadaan saudara susah-sulit, tidak tjukup segala-galanja, dan mungkin saudara-saudara harus bekerdja lebih keras dari pada biasa.

Saudara-saudara adalah guru, seorang jang lain dari pada jang lain. Kalau orang bertanja apakah ustaz dan muballigh itu djawabnja, ustaz itu adalah manusia jang biasanja melakukan pekerdjaannja dengan tidak dibajar. Dibajar hanja dengan “lillahi Ta'ala”, dibajar dengan utjapan alhamdulillah. Djikalau ustaz atau muballigh itu di zaman jang lalu memanggil orang untuk bersama-sama mengerdjakan sesuatu pekerdjaan dan memerlukan kepada alat-alat dan materiil, sering kali ia diberikan djawaban kata-kata jang kata orang lebih baik dari pada sedekah, akan tetapi sjukur masih ada machluk jang demikian, machluk jang melupakan kepentingan dirinja sendiri, tetapi mementingkan apa jang perlu dibawanja kepada umat dengan rasa penuh tanggung-djawab, dan ia bersjukur melihat murid-muridnja berguna bagi masjarakat. Lupa ia akan periuknja di rumah jang belum berisi. Ia telah merasa menerima ni'mat jang paling besar apabila ia dapat melihat muridnja mendjadi manusia jang berharga dalam masjarakat. Itulah jang dianggapnja upah setinggi-tingginja!

Akan tetapi djikalau saudara-saudara telah mengirimkan 43 orang guru dan ustaz ke daerah-daerah itu, di samping mendidik mereka itu dengan sipat guru, haruslah djuga dipikirkan agar djangan dibiarkan mereka mendjadi malaikat terus-menerus. Mereka adalah manusia jang memerlukan kepada keperluan-keperluan sebagai manusia biasa. Ini adalah soal jang harus kita perhatikan benar-benar.



(Pidato M. Natsir dalam Resepsi Konferensi Guru Taman Pendidikan Islam, Medan, tanggal 20 September 1951)

Wednesday, March 7, 2012

Arti Nama

Saat menonton pertandingan Indonesia vs Singapura (4/03/12) dalam kejuaraan Hassanal Bolkiah Thropy di Brunei Darussalam, saya melihat papan iklan sebuah bank bernama Baiduri Bank. Baiduri, mirip dengan baizuri, membuat saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang nama dari Baiduri tersebut.

Selidik punya selidik, ternyata Baiduri adalah nama yang jamak di alam melayu. Banyak orang-orang melayu (khususnya Malaysia) menggunakan nama tersebut. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat kosa kata tersebut,
Baiduri : bai-du-ri batu permata yg berwarna dan banyak macamnya spt -- bulan, -- pandan, -- sepah.

Selama ini saya terlewat untuk mencari makna nama belakang saya dengan mengganti z dengan d. Saya pikir nama saya diambil dari Baidhowi (Imam Baidhowi) atau Baizura (ingat penyanyi Ning Baizura), atau saya pikir nama saya adalah hasil "modernisasi" dari Bajuri, berhubung Ibu saya berasal dari Betawi Kota (Senayan).

Kalau nama depan saya, Reza, merupakan serapan dari persia yang banyak menggunakan nama Reza. Reza diambil dari kata Ridho. Konon orang Iran mengucapkan huruf dho dengan Za. Di Iran ada banyak orang menggunakan nama Reza dan nama Reza paling terkenal di Iran adalah tentu saja Imam Ali Reza rahimahullah atau Imam Ali Ridho, satu dari 12 imam Syiah yang suci. Beliau mungkin diangkat oleh kaum syiah sebagai Imam mereka, namun beliau tetaplah ulama zuriyah keluarga Nabi Muhammad saw dan ulama Sunni yang dijunjung keilmuaan dan kehormatannya. Shallallah ala Sayyidana Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi.

Kebetulan atau tidak beberapa bulan lalu saya sempat dekat dengan orang bernama Galuh yang dalam bahasa Jawa berarti batu permata atau mutu manikam. Sayang kami tidak berjodoh. Semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik. There's no such thing as coincedence.

Syukur alhamdulillah sekarang lengkap pemaknaan dari nama lengkap saya, Reza Baizuri, permata keridhoan. Mestilah saya menjadi hamba Allah yang mempunyai keutamaan akhlak berupa ridho, kerelaan terhadap apa yang telah Dia gariskan. Wallahu a'lam.

Destiny is the prison and chain of the ignorant. Understand that destiny like the water of the Nile: Water before the faithful, blood before the unbeliever.
- Sir Moh. Iqbal rahimahullah -


Berkata Imam Syafi'i...


Bila seseorang menyenangi sesuatu, maka cela dan aib apa saja yang dia temui, dipandang dengan mata yang tumpul.

Bila seseorang tidak menyenangi sesuatu, maka apa saja yang dilihatnya pada orang itu selalu saja dipandang tidak baik.

Aku tidak takut kepada orang yang tak takut kepadaku. Aku tidak memandang kepada orang yang tak memandangku.

Bila anda mendekatiku maka kasihku mendekati anda. Bila anda menjauhiku, anda dapati aku jauh dari anda.

Masing-masing kita terlepas dari hidup saudaranya. Kita bila sudah mati amat tidak saling membutuhkan.